Monday, 22 August 2016

BP Batam undang media, Bahas "Masihkah UWTO Diperlukan ?"


Batam, Dinamika Kepri- Atas undangan oleh BP Batam kepada media, Senin ( 22/8/2016), Seluruh awak media lokal dan media nasional, datang berkumpul di Hotel Venesia guna melakukan Forum diskusi untuk membahas "Masih perlukah Uang Wajib Tahunan Otorita (UWTO) dibayarkan ditengah perkembangan saat ini?".

Dalam temu diskusi ini, tampak dihadiri oleh kepala kantor BP Batam, Imam Bahroni mewakili Kepala BP Batam, Hatanto Reksodipoetro yang tidak dapat hadir. Imam Bahroni sendiri dalam forum ini, bertidak sebagai nara sumber. 

Dari begitu banyaknya pertanyaan yang di lontarkan media, hasilnya tetap sama UWTO bukan pajak ini, wajib harus dibayar, alasan bahwa retribusi  hasil dari UWTO bukan pajak tersebut adalah untuk penghasilan negara dimana akan digunakan untuk membangun segala infrastruktur di kota Batam.

Seperti diketahui banyak orang, tentunya bahwa UWTO atau Uang Wajib Tahunan Otorita adalah uang sewa tanah yang harus dibayarkan oleh pemohon alokasi tanah kepada Otorita Batam. Kendati namanya telah berubah dari Otorita menjadi Badan Pengawasan Batam.

Namun retribusi yang diambil dari sewa tanah masih mengatasnamakan UWTO yaitu Uang Wajib Tahunan Otorita seperti yang tertuang pada  Kepres Nomor 41 Tahun 1973  tentang daerah Indutri Pulau Batam, dan dikuat lagi dengan Kepres nomor 44 Tahun 2007 setelah keberalih ke BP Batam menyebutkan, BP Batam berhak sepenuhnya dan memiliki kewenangan penuh untuk mengelola pulau Batam.
 

UWTO atau Uang Wajib Tahunan Otorita adalah uang sewa tanah yang harus dibayarkan oleh pemohon alokasi tanah kepada BP Batam yang selanjutnya akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur dan fasilitas public. Status lahan tersebut, Hak Pengelolaan Lahan (HPL) dan apabila perumahan,  Hak Guna Bangunan (HGB).

Selama ini kebijakan tagihan retribusi bernama UTWO, sangat ditolak masyarakat Batam. pasalnya Otorita di Batam, sudah tidak lagi namun masih memberlakukan Uang Wajib Tahunan Otorita. kata Imam Bahroni, itu sebenarnya masalah judulnya saja.(Ag)

Editor : Agus Budi T