Wednesday, 20 July 2016

Pasien bersalin di sandra, Pihak RSUD Embung Fatimah janji, Besok akan dilepaskan

RSUD Embung Fatimah.
Batam, Dinamika Kepri - Selviyanti (25) warga Pulau Labuh,  dimana pertama kalinya mempercayakan RSUD Embung Fatimah, Batu Aji, Batam  untuk menangani persalinan pertamanya, bukannya berakhir bahagia malah berdampak tidak mengenakan bagi dirinya maupun bagi keluarga besarnya, pasalnya hanya karena masalah ini, kakak Selvianty juga meninggal mendadak setelah mendengarkan besarnya nominal biaya perobatannya yang harus dibayarkan kepada rumah sakit yakni mencapai Rp 48 juta.

Tersiar kabar bahwa sampai saat ini, Rabu (20/7/2016) Selviyanti dan bayinya masih ditahan oleh pihak RSUD. Ia dan bayinya tetap ditahan karena tidak mampu membayar tagihan  yang nominalnya sudah mencapai sebesar Rp 48 juta.

Kepada media ini, Ketua LSM Barelang, Yusril Koto. SE. mengatakan bahwa Pasien bersalin yang bernama Selviyanti  asal pulau Labuh ini kata dia, sudah 1 bulan berada di RSUD Embung Fatimah. bukan karena kesehatan yang tidak mendukung namun karena pasien tidak mampu membayar tagihan yang sudah membengkak hingga Rp 48 juta. bagaimana tidak kata Yusril keluarga pasien hanya keluarga Nelayan.

Selain itu, Yusril juga menuturkan, bahwa kakak dari Selviyanti ini, juga telah meninggal mendadak akibat dari masalah ini, kakak Selviyanti kata dia meninggal mendadak setelah merasa tidak mampu untuk membayarkan tagihan persalinan adiknya yakni sebesar Rp 48 juta kepada pihak rumah sakit umun daerah yang penuh dengan dilema tersebut.

Namun tidak tahu apa yang terjadi, Kepada Yusril, Sore tadi Rabu (20/7/2016) pihak RSUD Embung Fatimah berjanji mengabarkan, besok, Kamis (21/7/2016), Selviyanti dan bayinya sudah bolehkan pulang.

Terkait rencana Warga Pulau Labuh, Besok Kamis (21/7/2016) akan mendemo RSUD Embung Fatimah, kata Yusril lagi, tidak jadi karena pihak dari RSUD tersebut sudah beritikat baik.

"Demonya tidak jadi, karena pihak dari RSUD baru mengabari dan sudah beritikat baik serta berjanji, kata mereka besok siang Selviyanti dan bayinya sudah diperbolehkan pulang ke rumahnya dan tidak disandara lagi." kata Yusril Koto.

Ternyata kasus penahanan terhadap pasien karena tidak mampu membayar di RSUD Embung Fatimah, ini bukanlah hal yang pertama, kasus ini sudah yang ke 3 kalinya. Sebelumnya juga Wakil ketua II Dprd Kota Batam, Iman Setiawan juga pernah menangani kasus yang sama di rumah sakit milik pemerintah ini, Sedangkan pengakuan Yusril, baginya ini sudah kasus yang ke 2 kalinya.

Sebelumya, anggota Komisi III Dprd Kota Batam, Jurado Siburian. SH juga pernah melabrak rumah sakit ini karena pelayanan yang tidak baik, dimana kedatangannya saat itu karena mendapat laporan dari keluarga calon pasien yang bersalin yang mana saat dijumpai ternyata di terlantarkan pihak RSUD embung Fatimah dengan alasan dokternya, kamar bersalin sedang penuh.

Baca berita sebelumnya : Dengar Dokter Tolak Pasien, Jurado Siburian Kesal Langsung Datangi RSUD Embung Fatimah

Rumah sakit umum daerah Embung Fatimah saat ini, memang begitu sangat populer di banyak pemberitaan media, tentunya bukan karena kinerja dan pelayan yang baik, namun karena dinilai banyak kesalahan dalam melakukan pelayanan Publik.

Apalagi setelah merebaknya kasus pengadaan Alat kesehatan(Alkes), lengkaplah sudah,  banyak yang menduga jika keberadaan Rumah sakit ini  hanya sebagai modus belaka sebagai sarana untuk melakukan tindak korupsi serta tempat pencucian uang negara untuk kepentingan bagi oknum- oknum pejabat nakal yang berkopenten di dalamnya.

Maka dengan banyaknya masalah dan Komplein dari masyarakat yang menggunakan jasa RS ini, tidak heran jika masyarakat Batam banyak mengatakan kalau RSUD Embung Fatimah ini adalah rumah sakit hau-hau.

Namun tidak bisa dipungkiri juga, kendati sudah tahu pelayanan RS ini selalu berakhir dengan penyesalan,  tetapi masyarakat Batam, masih juga datang berobat ke rumah sakit ini.(Ag)

Editor : Agus Budi T