Thursday, 14 July 2016

Dituduh warga selewengkan jatah Raskin, Warno tak terima, Katanya dia akan melaporkannya ke polisi

Ilutrasi, beras miskin (Raskin).
Batam, Dinamika Kepri -  Tuduhan Warga RT 002/RW 017 Kavling Bida Kabil, Kelurahan Senjulung Kecamatan Noungsa, Batam, Kepri, terhadap Warno (47) yaitu mantan RT mereka yang baru saja mengundurkan diri pada tanggal 23 Juni 2016 lalu, tampaknya akan semakin bergeming, pasalnya mantan RT yang sudah 3 kali terpilih di RT 002 RW 017 Sejulung itu mengatakan kepada media ini, katanya ia akan melaporkan orang telah menuduhnya  memainkan Raskin, ke Polisi.

" Iya.. saya sudah dengar tuduhan itu, dan itu tidak benar, saya tidak pernah menjual Raskin. Saya akan melaporkan masalah ini ke polisi, karena saya tidak pernah melakukannya." jawab Warno melalui ponselnya, Rabu (13/7/2016) kepada media ini saat diconfirmasi tentang benar tidaknya atas tudingan warga.

Selain itu, saat media ini menyakan kembali mengapa ia mengudurkan diri dari jabatannya sebagai RT, Warno menjawab karena ia sudah lelah.

" Ya.. saya memang telah mengundurkan diri dari RT karena sudah 3 periode saya terpilih, saya juga lelah. Kebetulan juga saya punya kerjaan lain bawa mobil fortuner, jemput tamu kadang juga jemput tamu dari Mabes." jawabnya.

Terkait surat perjanjian damai antara dirinya dengan Sugiyanti tertanggal 23 Juni 2016 yang memakai  2 meterai 6000, saat ditanya lagi, ia menjawab, itu perjanjian damai.

" Oh itu, itu perjanjian damai saya dengan ibu Sugiyanti, habis gimana mungkin ibu itu sudah menggebu-gebu ingin jadi RT, jadi saya ngalah saja." kata dia.

Itulah kata Warno, namun menurut pengakuan warga kepada awak media ini, Selasa(12/72016) kemarin menyebutkan, bahwa ibu Sugiyanti lah telah menangkap basah Warno saat menjual Raskin ke penampung, tetapi ketika ditanya lagi kepada media ini, Warno kembali mengatakan, itu tidak benar.

Menurut warga lagi yang enggan namanya ditulis manuturkan, bahwa sebelum ini terkuak katanya, Mantan RT ini sudah lama bermain dengan Raskin dan menjualnya hasil aksinya kepada penampung seperti rumah makan dan tukang lontong yang ada di sekitar Senjulung dengan harga Rp 5000 hingga Rp 6000 perkilonya.

Padahal beras yang dijualnya itu adalah jatah masyarakat miskin. Katanya ia tega menguranggi jatah yang semesti warga mendapat 15 Kg/KK malah diberinya hanya 10Kg bahkan ada yang hanya 5 Kg saja, dan sisa lalu di timbun dirumah RT 001/RW 014 Senjulung sebelum dijual.

Hebatnya lagi, katanya sebulan setiap pengambilan beras raskin, Warno bisa mendapat sisa raskin sebanyak 300 Kg, sebab jatah untuk raskin yang akan dibagikannya mendapat kuwota 650 Kg/bulan kepada 45 KK yang akan disalurkannya.

Namun karena kepintaraannya mengurangi jatah kepada warga dengan berbagai alasan, maka setiap usai pembagian, ia bisa mendapatkan sisa sebanyak 250 Kg sampai 300 Kg.

Dan bukan hanya sekali itu saja, kata warga lagi, aksinya itu sudah berlangsung lama sejak ia menjabat RT dari 5 tahun lalu.

Namun yang paling parahnya lagi, masalah ini sudah ternyata diketahui Lurah dan Camat, namun dibiarkan. didiamkam agar prosesnya  tidak sampai ke hukum.

Bahkan kuat dugaan kedua perangkat pemerintah itu ikut melindunginya seakan mereka juga ikut menikmati hasilnya.

Kepada media ini, Warno mengatakan akan melaporkan warga yang telah menuduhnya itu ke polisi, tunggu berita selanjutnya.(Ag)

Editor : Agus Budi T