Monday, 27 June 2016

Untuk Ke 4 kalinya pihak BRI tolak pencairan Dana KIP di Batam, Warga : Ini program Indonesia Pintar apa program Indonesia bodoh?

Ketua LSM Barelang, Yusril koto. SE (Kanan) saat bersama warga Pulau di areal parkiran  bank BRI  Fanindo Batu Aji Batam. Senin (27/6/2016) .
Batam, Dinamika  Kepri - Untuk ke 4 kalinya, kembali puluhan  warga yang berasal dari beberapa pulau-pulau di Batam, diantaranya dari Pulau Labuh, Pulau Air, Selat Nenek  bahkan ada dari Pulau Jalo. pagi tadi, Senin  (27/6/2016) datang ke Batam untuk mendapatkan pencairan dana Kartu Indonesia Pintar (KIP) di bank BRI yang ada daerah Batu Aji, Batam. salah satunya BRI Fanindo.

Namun bukan pencairan yang mereka terima malah lagi-lagi hal penolakan yang diberikan oleh pihak Bank, alasannya karena pihak sekolah belum menerbitkan nomor Virtual para murid yang hendak menerima dana KIP nya. Sehingga terhambat karena tidak ada nomor Rekening bank untuk tempat pencairanya.

Mendengar alasan penolakkan dari pihak Bank BRI itu, lalu para warga pulau yang diduga telah menjadi korban pembodohan pemerintah tersebut, lalu pergi berhambus menuju kesekolah anaknya masing-masing untuk mendapatkan nomor virtual yang dimaksudkan oleh pihak Bank.

Sepertinya mereka berharap agar hari ini bisa dana KIP itu, bisa segera dapat dicairkan oleh bank, tujuannya agar mereka tidak harus bolak-balik datang ke Batam karena biaya trasportasi sangat mahal.

''Sudah 4 kali ini kami ditolak Bank, alasannya pihak bank butuh nomor Virtual dari setiap anak dari sekolahnya masing-masing sebagi bukti sebagai  anak penerima KIP. Tapi kalau dipikir-pikir tekor juga, untuk biaya transport saja yang habis sudah Rp 500 ribu, padahal yang diharapakan cuma Rp 225 Ribu. Aneh..Ini program Indonesia Pintar apa program Indonesia bodoh? " ucap salah satu warga yang saat itu, terlihat kesal.

Melihat kejadian ini, Ketua LSM Barelang, Yusril Koto. SE yang saat itu sedang bersama warga Pulau kepada media mengatakan, penolakan ini terjadi karena pihak bank meminta agar pihak sekolah menerbitkan nomor Virtual bagi setiap murid didiknya yang menerima dana KIP.

Yusril juga menyayangkan kejadian semacam ini, pasalnya yang hendak di dapatkan warga tidak sesuai dari yang diharapkan, kata dia, " Yang mau diambil Rp 225 ribu, tapi yang habis sudah Rp 500 ribu."

Ia juga menambahkan sebagaimana anjuran dari Mendikbud bahwa pencarian bantuan dana KIP ini harusnya pecairan sudah direalisasikan sejak di bulan Mei 2016, sedangkan sekarang sudah bulan Juni 2016. jika begini kondisinya, bagaimana Indonesia bisa pintar? tanya balik Yusril Koto seperti penasaran kepada media.(Ag)

Editor : Agus Budi T