Wednesday, 18 May 2016

Cerita penertiban, Ruko ini berdiri di Row jalan, Apakah akan digusur juga?


Deretan Ruko  di simpang dipertigaan Kopkar perumahan PLN Batam Center ini berdiri kokoh diatas lahan Row jalan, namun tetap dibiarkan oleh Pemko Batam, Kios angkringan habis dimusnakan, tetapi Ruko ini dibiarkan padahal kesalahannya sama yakni sama-sama menyalahi aturan.  Foto diambil pada hari Rabu, (18/5/2016).

Batam, Dinamika Kepri - "Pemko Batam beraninya sama masyarakat kecil saja" begitulah kata miris yang selalu terucap dari bibir para korban penggusuran pemilik kios angkringan yang ada di Batam ketika masih melihat adanya bangunan parmanen, Rumah Toko (Ruko) dan Hotel dibiarkan berdiri tegak diatas Row jalan.

Kios mereka diratakan dengan tanah, namun Ruko dan Hotel tetap dibiarkan, maka timbul pertanyaan, ada apa ini?

Kesalahannya sama, sama-sama berdiri diatas bahu jalan (Row jalan). Namun penindakannya beda, milik pengusaha tetap dibiarkan. Giliran kios orang susah diluluh lantakkan

Melihat adanya ketimpangan ini, diduga semua itu terjadi karena beban moral ada indikasi jika sebelumnya telah merima upeti dari pengembangnya, sehingga oknum pejabat Pemko Batam, tidak berani untuk menindaknya.

"Ada kesan pilih kasih, tebang pilih dan diskriminasi yang kental. Kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah kota Batam saat ini, Beraninya sama masyarakat kecil saja, " ucap para korban gusuran.

Tampak seperti bangunan Ruko pada gambar diatas, sebelumnya lokasi tersebut ditempati warga dengan mendirikan rumah liar (Ruli) dan telah mendiaminya selama 4 tahun.

Lalu dengan alasan melakukan pelebaran jalan, maka pada tanggal 19 Desember 2014 lalu, Pemerintah kota Batam melakukan penggusuran paksa dengan menghancurkan segala bentuk bangunan yang berdiri diatasnya.

Penggusurannya juga berjalan cukup ektreem, dimana penggusuran tersebut dilakukan saat warga masih belum ada persiapan tempat tinggal. Parahnya lagi, di bawah pimpinan Ahmad Dahlan saat itu, Pemko Batam juga mengabaikan jeritan tangis deraian air mata para korban gusuran itu. Tidak ada kompensasi buat mereka yang tergusur hingga beberapa warga sebelumnya sempat bertahan dengan berkemah.

Menanggapi penggusuran sadis tampa mengenal rasa prikemanusiaan itu, saat berada di Novotel Hotel usai menghadiri suatu acara, kepada media ini,  Walikota Batam, Ahmad Dahlan mengatakan bahwa penggusuran itu dilakukan untuk membela kepentingan umum.

Katanya untuk membela kepentingan umum, itulah kata Ahmad Dahlan saat masih menjabat walikota Batam waktu itu. Namun apa yang terjadi saat ini, ucapannya  tidak singkron dengan yang apa yang terjadi, sebab tidak lama berselang dari disitu tepatnya memasuki tahun 2015 tersiar isu jika sisa lahan bahu jalan itu, telah di lego oknum BP Batam dan dibeli oleh pengembang tersohor di Batam, dan ternyata benar,  lihat kenyataannya, hasilnya saat ini puluhan pintu Ruko sudah berdiri kokoh, siap jual dan siap pakai.

Kata Ahmad Dahlan kala itu, untuk kepentingan umum, namun nyatanya malah jadi kepentingan pribadi oleh oknum tertentu BP Batam dan oknum pejabat Pemko Batam untuk memperkaya diri sendiri dari komisi fee lahan tersebut.

Sangat ironis memang, namun itulah yang terjadi, fakta dan realita. Bagaimana tidak pasalnya hanya Row jalan yang tersisa yang dapat dimainkan oleh oknum pejabat di BP Batam untuk mendapat pemasukan sampingan, karena lahan-lahan empuk lainnya sudah habis dibagi-bagikan para pendahulu mereka. Maka jangan heran jika mendengar kata, ini tanah mantan pejabat ini, pejabat itu dan pemiliknya ada di Jakarta.

Kesan seperti bagi-bagi tanah warisan dari orang tua. Buktinya seperti pemberitaan sebelumnya media ini juga telah memberitakan bahwa seorang mantan pejabat setingkat kasi yang bertugas di lantai II BP Batam, kabarnya dapat memiliki lahan ratusan hektar di daerah Kabil Punggur dan sebagian lahannnya itu juga sudah di kavling-kavlingkan dan dijuali kepada masyarakat di sana.

Sangat Ironis dan ekstreem memang, Tidak ada penggusuran namun pematangan lahan kavling terus dilakukan. Pemantangan lahan ternyata bukan untuk relokasi penggusuran melainkan untuk dibuat kavling  diperjual belikan melalui antek-anteknya dan terbukti saat ini ribuan petak kavling itu yang ada di Kabil Punggur.

Ya begitulah ulah para oknum pegawai dilantai I Bp Batam disaat Ir.Tato Wahyu masih menjabat sebagai Direktur Pemukiman lingkungan dan Agrobisnis di Bp Batam.

Kesannya semua bisa diatur, tinggal minta alias pesan, Row jalan, gunung, hutan atau lembah, pasti di kondisikan, dan ini nyata fakta bukan dugaan, isu atau isapan jempol belaka setelah melihat bangunan kios angkringan, ruko dan hotel di Row jalan.

Kembali kepada kaitan pengalokasian lahan Ruko diatas, sebelumnya media ini juga menerima Informasi bahwa orang yang mengizinkan pembangunan ruko itu adalah seorang pejabat dari bagian Dir lahan lantai II BP Batam yang bernama Emi.

Katanya dialah yang mengizinkan lahan itu untuk dibanguni ruko. Benar tidaknya informasi itu, awak media ini juga pernah mencoba mengkonfirmasi kepadanya namun tidak diresponnya.

Ketika media ini berusaha mencari kebenaran informasi tersebut hingga sampai ke meja kerjanya, petugas keamanan BP Batam (Dirpam) malah mengatakan kalau yang bersangkutan tidak dapat ditemui lagi karena sudah pensiun.

" Oh..Ibu Eminya sudah pensiun," kata petugas Dirpam waktu itu.

Mendengar itu, diduga Emi buru-buru pensiun..Ya begitulah oknum Bp Batam, yang membuat masalah merusak tata ruang kota oknum BP Batam, tetapi Pemko Batam yang harus menerima konsekwesinya (Imbas).

Judulnya 'Dualisme kepemimpinan' terkadang satu mau satu menolak, namun karena pembagian kuenya cukup, akhirnya jadi sama-sama jadi mau.

Lalu ketika suatu saat dipertanyakan tentang pertanggungjawabannya,  jawabnya simple saling mengelak, " Oh..itu bukan kewenangan kami, itu wewenang mereka," begitu katanya.

Lahannyakan dari BP Batam, IMB nya dari Pemko Batam. Modusnya selalu mempermasalahkan dualisme kepemimpinan seperti tidak ada akuran. Padahal siapa yang kalau para oknumnya sama-sama menikmati hasilnya.

"Cerita penertiban, lihat Ruko ini juga di berdiri di Row jalan, pertanyaan, Apakah akan digusur juga? Jawabnya mungkin tidak, karena hukum yang berlaku di indonesia saat ini sudah terjangkit virus tumpul ke atas dan tajamnya cuma bisa ke bawah. Jika tidak, buktikan," kata korban gusuran kios angkringan berkomentar.(*)

Editor : Agus Budi T