Thursday, 7 April 2016

Reklamasi terbesar di pulau Batam di tahun 2016, Ini dia adanya cuma di Kelurahan Patam Lestari Sekupang

 Inilah salah satu penampakan reklamasi di Kavling Mentarao Keluarahan Patam Lestari, Sekupang.
Batam, Dinamika Kepri- Suhu cuaca di Batam terus meningkat, panasnya cukup menyengat meningkat menyusul dengan adanya dugaan Gerakan Reklamasi sejuta pantai, pemusnahan Hutan Manggrouve dan perataan semua bukit, di pulau Batam.

Jika di tilik dari dampak lingkungannya, Batam nyaris  babak belur. Kendati Bapedalda kota Batam membuat logonya dengan " Go green" namun pada kenyataan yang terlihat bukanlah Go green melainkan ada indikasi dugaan kearah "Go fee".

Iya , Go fee. jika tidak ada Go feenya, jelas tidak bakal ada  oknum penjabat yang mau bermain-main mendukung serta mengaminkan segala aktivitas pengembang untuk merusak lingkungan  dengan melakukan Reklamasi pantai, menghancur hutan Bakau dan meratakan segala bukit gunung yang ada di Batam.

Seperti yang tampak saat ini Hampir 80 ℅ Wilayah di kelurahan Patam Lestari, Sekupang, Batam, Kepri, nyaris tidak ada lagi hutan bakau yang tersisa.

Saat ini, Kamis (7/4/2016), Para pengembang terlihat sibuk dengan aktivitas Reklamasinya. Mereka tidak perduli, terus merusak dan merusak tatanan kehidupan masyarakat Hiterland yang menggantungkan hidup pada hutan Bakau. Ketika hutan bakau masih rindang, Kepiting dan udang mudah di dapat.

Apalagi sejak adanya jembatan baru yang menghubungkan antara Patam- Mentarao di tempat itu, terlihat aktivitas reklamasi yang yang dilakukan oleh pengembang itu pun  semakin tidak bisa dikendalikan lagi, semua lahan kosong di tepi pantai, di reklamasi.

Selain itu, para pejabat yang kopenten di dalamnya, seperti pihak Bapedalda yang mengawasi masalah Lingkungan, sama sekali tidak pernah terlihat, melihat apa sudah terjadi di Patam Lestari.

Diduga para oknum pejabat yang membidangi hal tersebut, telah tutup merasa seakan tidak terjadi apa- apa di Patam Lestari.

Padahal dari mulai Ujung Tiban V  sampai ke Patam Lestari, nyaris habis di reklamasi. Gunung, bukit gunung di potongi, tanahnya ratakan dibuat untuk menimbun laut menghancurkan hutan bakau.

Walaupun kenyataannya sudah demikian, namun tidak ada tindakan dari pemerintah kota Batam untuk menindaknya.

Kini  penghasilan para nelayan tradisional pun tentunya jadi berkurang dimana sejak adanya aksi reklamasi di sana.

Namun masyarakat tempatan tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa melihat-lihat saja, menonton dan merasakan menunggu dampak yang akan segera ditimbulkan.

Melihat semakin hancurnya hutan bakau di Patam Lestari, diduga semuanya tentu tidak terlepas dari peran banyaknya kepentingan yang telah menggurita untuk mendukungnya.

Jadi sangat tidak mungkin, Walau pun ada pihak yang peduli atas  perusakan hutan bakau tersebut. di pastikan tidak akan pernah berhasil untuk menghambatnya.(Ag)

Editor : Agus Budi T