Thursday, 21 April 2016

Kios angkringan dibangun dan dibongkar, Siapa yang dirugikan?

Kios angkringan di Tg, Uncang.
Batam, Dinamika Kepri- Menilik menjamurnya kios angkringan di Row jalan maupun Buffer Zone di Batam, itu memang sudah terjadi sejak tahun 2014-2015. Saat ini saja baru heboh karena ditindak.

Bangunan angkringan memang terus menjamur saat itu. Kendati pertumbuhan angkringan cukup pesat, Namun tidak pernah ada tindakan larangan dari pihak manapun.

Namunn ketika semua Kios angkringan tersebut sudah laku terjual pada tahun 2016 ini. Barulah pihak pemko Batam mengambil Tindakan dan menggusurnya.

Membahas masalah Harga kios angkringan, itu tergantung daerahnya. Walau lokasi berbeda daerah, namun yang jelas harga di badrol minimal harga perpintunya, sebesar 20 juta rupiah keatas..

Contohnya saja angkringan yang berada di depan ruko Putra Jaya Tanjung Uncang, Info yang diterima awak media ini pada tahun 2015 lalu, pengelola menawarkan harganya Rp 20 juta per satu pintunya.

Beda dengan di Nagoya, Batam Center dan Bengkong, harga kios di 3 titik ini harganya beda-beda mulai dari Rp 3 juta sampai  Rp 5 juta. Apalagi posisinya dipinggir (Hook). Perbedaan harga lebih tinggi dari posisi yang ditengah.

Belum lagi untuk biaya renovasinya, juga bisa mencapai Rp 5 juta. Pasalnya kios angkringan 2x3 Meter itu masih belum layak untuk lansung digunakan.

Nah jika di totalkan harga satu kiosnya, bisa mencapai 30 sampai Rp 40 jutaan barulah layak digunakan.

Banyaknya peminat kala itu, Maka tidak heran dari sejak tahun 2014-2015, diduga adalah tahun hoki bagi oknum pejabat BP lantai I BP Batam dan bagi para kroninya, yang mana saat itu, Tato Wahyu  masih menjabat sebagai Dirkimliagrobinis dilantai 1 Bp Batam.

Waktu itu, permintaaan kios angkringan dari warga memang sangat tinggi, Sekarang saja, masyarakat baru nyeasal. Seperti orang bijak mengatakan, penyesalan datang memang selalu terlambat.

Padahal  di tahun 2014, Tato Wahyu ketika diconfirmasi, kepada media ini, pejabat selaku Dirkimli Agrobisni di BP Batam itu mengatakan, katanya lahan di Buffer Zone maupun di Row jalan tidak di izinkan bagi siapapun untuk mendirikan bangunan.

Itu katanya, Namun prakteknya yang berbeda. Buktinya nyaris seluruh Row Jalan yang ada di Batam, dibanguni kios angkringan. Bukan Kios Angkringan aja, Ruko dan Hotel juga ada.

Kios angkringan dibangun di setiap Row jalan yang dianggap strategis.  Dan paling ironisnya saat ini, Setelah semua kios laku terjual di beli oleh masyarakat, barulah pemko Batam menggusurnya. Selalu dan selalu, memang masyarakatlah yang selalu menjadi korbannya.

Tampak seperti rantai makanan, oknum BP Batam mengizinkan angkringan dibangun diatas tanah Row jalan, Distako terkesan tutup mata, mafia lahan membaguninya, lalu dengan lugunya masyarakat datang membeli. Awalnya mengharap untung, nyatanya malah jadi buntung. Angkringan yang sudah menghabiskan uang banyak malah dirobohkan petugas.

Saat ini, sudah ada banyak kios angkringan dibongkar  oleh perintah pemko Batam.

Pertanyaannya, Siapa yang benar siapa yang salah, siapa yang untungkan dan siapa yang dirugikan? Jawabnya cukup satu kata, yaitu masyarakat memang selalu jadi korbannya.(Ag)

Editor : Agus Budi T