Tuesday, 29 March 2016

Merantau niat cari kerja, Tiga bulan di Batam, Eh..aku malah jadi brondongnya tante Polan

Ilutrasi
Batam, Dinamika Kepri- Surat dari pembaca. Hai..para pembaca yang budiman, apa kabar, so..harapku semoga saat ini anda sehat selalu. Oh ya.. Sebelum saya bercerita panjang, alangkah baiknya saya terlebih dahulu pamit kepada pemilik media ini jika seandainya sudih menempelkan cerita dari pengalaman hidupku ini di dinamikakepri.com untuk dibaca publik.

Sebenarnya tadinya artikel pingin buat di Facebook aja. Namun setelah kupikir-pikir kurang elegan. Lagian untuk selanjutnya artikel di FB bisa tenggelam. Nah beda jika website, tentunya suatu saat akan mudah ditemukan, tulis judulnya di google pasti ketemu. Jadi itulah maksudnya kenapa aku kirim artikel ini ke email pemilik media ini. Trimaksasih telah di update.

Okey..tampa basa-basi lagi, Sebenarnya aku malu untuk menceritakan kisahku ini. Tetapi enggak tau gimana, kenapa aku tertarik untuk menuangkan di dalam tulisan. Mungkin kisahku belum seberapa dibanding kisahmu. Namun setidaknya kamu bisa memberi apresiasi karena aku memiliki keberanian menulis kisahku.

Sorry guys jadi ceritanya jadi Meluber kemana-kemana. Hehe..langsung aja ya..Okey Para pembaca yang budiman, kenalkan namaku anisial BY. Teman bilang singkatannya Buaya, padahal tidak kenyataannya yang benar..hehe becanda.

Tapi itu dulu.  Banyak wanita yang kukenal mengatakan aku tidak normal karena katanya lebih berselera kepada wanita yang lebih tua dariku. Jujur aku tidak demikian. Aku normal seperti yang lain, mungkin hanya karena keadaan yang membuat aku jatuh kepelukan wanita tua yang usia 15 tahun diatasku. Tapi aku menikmatinya. Dia juga tidak kalah gayanya dari wanita muda lainnya. Bahkan bisa dikatakan wanita yang membuat aku jadi brondongnya lebih mecing pula dari yang lain.

Yah..aku pria berumur 25 Tahun berasal dari kota Medan, saat itu umur baru 20 Tahun tiba di Batam. Penampilanku biasanya aja, tapi kata orang aku mirip Bintang Filem india. Jujur dadaku memang berbulu. Tapi aku bukan India seperti dikatakan. Aku asli orang Medan.

Kisah ini terjadi 5 tahun yang lalu. Dan Perkenalanku dengan Tante Polan juga tidak disengaja. Sedikit menjelaskan, ketika baru tiba di Batam, aku tinggal di ruli Kampung Baru Sekupang. Karena tidak kunjung dapat pekerjaan, lalu aku pergi kepelabuhan Sekupang melihat-lihat situasi.

Sebelum bertemu tante polan, Secara tidak sengaja aku melintas berjalan menyebrang jalan menuju pelabuhan Internasional. Mataku menatap melihat kondisi pelabuhan. Tak sadar tiba-tiba mobil Tante menyenggolku. Aku terjatuh. Lalu menghentikan mobilnya yang saat itu tidak laju karena baru keluar portal pintu pelabuhan.

Aku terjatuh ke aspal. Lalu datang menolongku, dia bilang" kamu gak apa-apakan?, makanya kalau jalan itu dilihat, kata tante polan seperti memarahiku. Namun rasa sakit pinggangku hilang ketika mendengar ocehan suaranya yang begiti merdu. Selain itu bibir tipisnya yang diolesi liptik bermerek, membuat jantung berdebar. Pikirku, wah cantik benar nih ibu.

Setelah itu dengan pura-pura sakit aku mengerang, "aduh sakit" ucapku pelan. Dia terlihat sedikit panik dan menawarkan naik ke mobil untuk di bawa berobat ke rumah sakit. Namun aku tolak. Kataku padanya. " Makasih bu, aku gak apa-apa". Mendengar itu ia bertanya" benar kamu gak apa-apa?," benar jawabku lagi.

Setelah itu aku lalu berdiri dan mencari tempat duduk. Sembari aku berjalan wanita itu pergi ke mobilnya mengambil sebot minuman mineral. Minuman itu tawarkan padaku. Nah minum dulu biar mendingan..oh ya siapa namamu?, lalu kujawab BY.

Tidak sampai disitu, ia juga tanyai sedang apa aku di pelabuhan itu. aku jawab saja lagi cari pekerjaan. Mendengar itu ia mengangguk. Dan sebelum pergi wanita cantik minta tukaran nomor HP. Katanya nanti ia alan mengabari jika ada mengetahui lowongan pekerjaan.

Setelah itu ia pergi. Bahkan nomor yang diberikannya padaku tidak ku simpan di HPku. Sebulan setelah itu ia lalu mengubungi aku. Aku bingung dan sempat bertanya " maaf dengan siapa?" ia menjawab ini tante Polan, masa lupa, katanya.

Setelah janjian ketemuan, malamnya aku menyambangi pujasera dibilangan Nagoya. Disaat bertemu, ternyata tante polan tidak sendiri. Ia bersama 3 wanita yangenurutku umurnya sebaya dengan tante Polan.

Aku dipersilakan duduk. Kulihat teman tante polan serius pandangi aku. Kata tante polan bertanya padaku," Gimana khabarmu, udah sehat." gak apa-apa kok bu jawabku. Mendengar kata ibu ia menjawab jangan panggil ibu, panggil tante aja. Nih kenalin teman-teman tante. Serunya padaku.

Usai makan malam itu. Aku Lalu diajak ke salah satu diskotiq. Di dalam Vip cuma aku laki-laki. Pertamanya karaokean. Setelah menghabis waktu selaman 2 jam. Lampu dimatikan musik disko remixpun memekakan telinga.

Lambat laun di dalam Vip, aku terbawa suasana. Kami berlima berjoget ria. Secara bergatian mereka memeluku. Namun aku santai saja. Pikirku dalam hati yang penting heppy. Jujur hal beginian bukan hal baru buatku. Dah biasa waktu di Medan.

Ditengah dentuman musik masih memacu, tante polan berbisik " kamu gsk usah pulang, temani tante, aku mau hepy sama kamu, entar lagi mereka ini juga mau pulang. Jadi kamu tetap disini, okey." pinta tante polan.

Ternyata Tante Polan ini adalah wanita  jablay. Padaku ia mengaku katanya dia adalah istri Simpanan orang Singapura dimana pria yang menikahinya sudah tua yang tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya memberikan uang.

Dari mulai sejak itu, hubungan kami terus berlanjut. Hubungan seperti sudah seperti suami istri, walau sudah seperti itu, Dalam prinsipku aku tidak akan pernah jatuh hati padanya. Ia pun menyadarinya. Katanya padaku. Aku tidak akan memaksamu untuk selalu bersamaku. Mamun jika aku butuh kamu. Kamu harus selalu ada buatku.

Seperti itulah terus hubungan sampai 2 tahun berlalu. Setelah itu kudengar suaminya meninggal di Singapura. Tak lagi tante Polan mengabari bahwa ia sudah berangkat ke Jerman untuk menjalankan bisnis keluarga dari suaminya. Katanya keluarga suaminya itu sangat baik padanya.

Setelah keprgiannya. Hidupku sedikit tenang. Jujur finansial yang kudapat dari Tante Polan cukup untuk biaya hidup 20 tahun. Aku sudah memiliki rumah dan mobil berkat dari pemberian tante polan. Jujur dia sangat menyangiku. Namun aku tak bisa. aku tidak bisa menerimanya sebagai menjadi pendamping hidupku. Dan diapun menghargai keputusanku.

Itulah yang membuat aku makin sayang padanya. Tante polan aku sayang padamu. Namun mengertilah aku. Aku tak bisa selalu ada bersamamu. Biarkan aku mencari kehidupanku. I love you. Cinta bukan berarti harus memiliki. Kata ini selalu kusebut jika mengingat dirinya.

Saat ini semua itu telah tinggal kenangan. Aku pun telah menikah dengan wanita pujaanku  dulu di sekolah dari Medan. Aku sudah memiliki anak satu perempun. hidupku bahagia. Aku berharap semoga tante Polan juga bahagia.

Begitulah  kisahku di masa mudaku. Setidaknya dengan menuliskan ini. Bebanku atas dosa yang telah kuperbuat selama ini disaat bersamanya, bisa berkurang. Jujur terlalu berat jika kisah ini ku bawa mati. Trimakasih. Salam.(*)

Editor: Agus Budi T