Friday, 18 March 2016

Masih berlakukah UU Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Batam? Diduga tidak lagi, Ini buktinya

Ir. Dendi Purnomo, Kepala Bapedalda kota Batam
Batam, Dinamika Kepri- Di dalam Undang-undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup jelas disebutkan bahwa  Lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak asasi setiap warga negara Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 28H Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Selain itu, Peraturan perundangan terkait lingkungan hidup juga terdapat di Pasal 20, Pasal 21, Pasal 28H ayat (1), serta Pasal 33 ayat (3) dan ayat (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Semua telah diatur, Dan itulah yang tertulis diatas kertas, namun bagaimana dengan pelaksanaannya khususnya di Batam? apakah sudah sejalan dengan harapan masyarakat? diduga tidak, Mengapa? Nah ini buktinya.
Tampak Limbah cair bercampur lumpur mengalir diselokan depan perusahaan PT.Passion Plastics pada Tahun15/12/2014 lalu.
Yang Pertama, sebelumnya pada tanggal 15 Desember 2014 lalu. Perusahaan, PT. Passion Plastic yang memproduksi Plastik di komplek Taiwan International Park, Lot A-004, Jalan Hang Kesturi, Kabil Centre, Batam-Indonesia Nongsa, Kepri. Membuang limbahnya sembarangan melaui selokan, Limbahnya itu sengaja di buang bertepatan datangnya hujan deras.

Namun aksi Perusahaan terhendus masyarakat. Terkait hal tersebut, kata kepala Bapedalda Kota Batam. Ir Dendi Purnomo kepada media ini, Katanya Perusahaan itu sudah diberikan sangsi.

" PT Passion itu sudah diberikan sangsi Administratif sejak September 2015," Jawab Dendi, Jumat sore, (18/3/2016).

Terkait PT Passion ini, Rosmalinda yang di tugaskan Dendi menangani Perusahaan itu, sebelumnya juga sempat melontarkan Ultimatum kepada wartawan ini, akan mensomasi media ini karena rutin menulis pemberitaan PT. Passion Plastic itu. Diduga Ia gerah dan tidak tahu juga apa maksudnya akan memberikan somasi. Namun sampai saat ini somasi yang dimaksud Rosmalinda itu, tidak terbukti.

Tampak Limbah B3 ditimbun ditengah Kabil, Batam, telah di Police line. Foto diambil pada hari Selasa (25/1/2016)


Yang kedua. Limbah di tengah hutan Kabil tampak seperti Gambar diatas, kendati sebelumnya telah di police line. namun sampai saat ini tidak tindakan hukumnya. Kata Dendi lagi, setelah diteliti Limbah ini bukanlah limbah B3, Maka itu urusannya ke Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Batam.

" Limbah di Kabil sudah kita teliti bukan Limbah B3. Itu Lingkupnya sampah Domistik yang menjadi wewenang DKP sesuai UU 18/2007 tentang persampahan." Jawab Ir. Dendi Purnomo via Ponselnya.

Jurado Siburian. SH
Beda dengan pula dengan Pernyataan dari Jurado Siburian dari komisi III Dprd kota Batam, Kata Jurado sebelumnya. itu limbah B3.

" Ada apa dengan Pak Dendi itu, Kenapa itu disebut bukan Limbah B3. Kita bukan melihat  kaleng catnya, tetapi melihat apa yang terdapat di kaleng cat itu. karena penglihatan saya Kaleng itu  semuanya di lumuri oil slage. Makanya sebelum dijual oleh penampung, kaleng itu dibakar lebih dahulu untuk menghilangkannya. menurut saya pernyataan Pak Dendi sangat tidak masuk akal." Terang Jurado dimeja kerjanya beberapa waktu lalu kepada media ini.

Tampak suasana gudang penampung sebelum di Police line Bapedalda Kota Batam. Terlihat  material kaleng cat usai baru dibakar dan sebagian sudah dimuat keatas Lori kata pekerja mau dijual. Kamis, (23/7/2015) lalu. Pengambilan foto ini disaksikan oleh Jurado Siburian dari Komisi III Dprd kota Batam.

Dan yang ketiga adalah PT. Amtek Engineering Batam, Kendati warga sudah Heboh ingin menutup Perusahaan karena ketahuan buang limbahnya sembarangan, namun sama sekali tidak ada perhatian dari Bapedalda Kota Batam. Padahal komisi III Dprd Kota Batam sudah menyidaknya. hanya Petugas Bapedalda yang tidak kelihatan.

Inilah penampakan limbah dari PT Amtek Egineering yang ditemui Warga.


Ketika awak media ini menyakan warga, Apakah tindakan PT. Amtek Engineering Batam sudah dilaporkan ke Bapedalda Kota Batam, Warga menjawab, Tidak, ketika dipastikan kenapa, Warga malah memilih diam.

Terkait PT Amtek ini, Kata Dendi mengatakan bahwa pihaknya sudah dua kali memberikan sangsi serta pasksaan pemerintah yaitu pada April 2015 yang lalu. Tidak tahu paksaan apa maksudnya, namun inilah jawabannya

"  PT Amtek sudah diberi sangsi teguran 2 serta paksaan pemerintah yaitu April 2015 dan seperti saya pernah jelaskan ke Publik melalui Tribun dsb, saat ini kita tingkatkan proses ke penyidikan." Jawab Dendi melalui pesang singkat Ponsel Celularnya kepada media ini.

Terlihat warga dari sekitar Batam Center, Salasa (8/3/2016) ramai-ramai mendatangi PT Amtek Engineering Batam. dan rencananya juga saa itu, akan menghentikan aktivitas perusahaan namun berhasil ditenangkan pihak perusahaan dengan janji manisnya.
Tampak aneh, pernyataan kapala Bapedalda kota Batam ini di bulan April Tahun  2015, namun kejadian aksi warga sekitar yang ingin menutup aktivitas PT Amtek Enggineering Batam, pada tanggal 7 Maret 2016.

Melihat semua keanehan ini, timbul dugaan bahwa Bapedalda Kota tidak lagi berperan aktif untuk mengawasi pencemaran lingkungan yang di timbulkan oleh perusahan-perusahaan Nakal di kota Batam.

Minimnya perhatian tersebut, akibatnya beredar isu yang mengatakan jika saat ini intansi yang berkompenten menjaga lingkungan hidup, menduga telah beralih status menjadi Perusahaan swasta/perorangan maupun perusahaan keluarga, mengapa ada dugaan tudingan itu itu karena disebabkan telah terlihat betapa mandulnya Bapedalda untuk memberikan saksi Tegas kepada setiap perusahaan yang melakukan pelanggaran.

Sudah di polis line namun proses hukumnya tidak ada, berlalu senyap ditelan waktu. Ketika kembali di pertanyakan oleh media. selalu saja jawaban yang menurutnya bisa dapat meyakinkan media.

"Selama saya menangani lingkungan sejak Otorita Batam, tidak pernah membuat usaha yang berkaitan dengan lingkungan apalagi usaha pribadi dan keluarga. " Tandas Ir.Dendi Purnomo Kepala Bapedalda Kota Batam.

Terkait benar tidaknya isu Bapedalda kota Batam telah berubah status menjadi Perusahaan swasta/perorangan/perusahaan keluarga, Tampaknya jawaban yang diberikan kesannya tidak menyambung.(Ag)

Editor : Agus Budi T