Monday, 28 March 2016

Gara-gara Ahok, Perpecahan terjadi ditubuh Partai Hanura

Dua pengurus Partai Hanura ini ogah dukung Ahok.
Jakarta, Dinamika Kepri-Perpecahan langsung melanda sejumlah parpol di antaranya Partai Hanura gara-gara mengumumkan dukungan untuk pertahanan.

Dukungan Partai Hanura (Hati Nurani Rakyat) kepada Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, untuk kembali maju pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI 2017 nanti, menuai protes.

Protes tersebut justru dilontarkan oleh kader dari partai Hanura itu sendiri.

Yaitu Wakil Ketua DPD Partai HanuraDKI Jakarta bidang Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan, Rahmat HS, dan Wakil Ketua Bidang Pembinaan Legislatif dan Eksekutif, Bustami Rahawarin.

Mereka menolak memberikan dukungan tersebut, dan memilih untuk ke luar dari partai Hanura.

Aksi protes langsung dilakukannya dengan melepas jaket partai Hanura berwarna hitam oranye, yang dikenakannya. Kemudian menunjukkan kaos putih yang sudah dikenakannya, bertuliskan 'Hati Nurani Sampai Mati No Ahok'.

Aksi tersebut, dilakukannya di Gedung Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (27/3/2016).

Menurut Rahmat, langkah tersebut diambil atas kekecewaannya terhadap sikap partai yang mendukung Ahok.

Apalagi, menurut Rahmat, Ketua DPD Hanura DKI Muhammad 'Ongen' Sangaji, juga mengancam kader Hanura yang tidak mendukung Ahok untuk maju pada Pilkada DKI 2017 nanti akan dipecatnya.

"Jadi kami hanya diberi tiga pilihan saja. Diam, keluar, atau dipecat. Itu adalah ancaman, jadi semua dalam tekanan," kata Rahmat, di Gedung Sarinah, Minggu (27/3/2016).

Padahal, ia sendiri masih menjabat sebagai Wakil Ketua DPD Partai Hanura DKI Jakarta bidang Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan.

"Berarti saya dapur lahirnya Calon Gubernur yang akan diusung Hanura. Proses lahirnya Cagub itu ada di bidang saya, seharusnya!" tegasnya.

Selain itu, ia memilih mundur juga karena plafon partai yang sudah jelas-jelas pendekatannya selalu mengutamakan hati nurani.

Jika Hanura memilih Ahok, artinya, bukan lagi pendekatan hati nurani lagi yang diusung oleh partai Hanura.

"Kami anggap keputusan Hanura pilih Ahok ini keputusan sepihak, yakni keputusan Ongen. Grassroot-nya, saya yakin nggak milih Ahok. Saya malu ikut Hanura kalau mendukung Cagub yang menurut saya nggak punya etika tutur kata sopan santun kepada warga Jakarta," katanya.

Karena itu, ia juga yakin, bahwa sebenarnya tidak seluruh kader DPD, hingga ranting mendukung Ahok. Ia pun menganggapnya sebagai pemberian cek kosong.

"Ahok itu diberi cek kosong dan kayak bawang goreng, yang ngambang diatas tapi bawahnya kosong, nggak ada yang milih. Saya jamin kader Hanura, DPD dan ranting Hanura 90 persen nggak milih ahok. Saya anggap motivasi Wiranto dukung Ahok ini karena pendekatan kekuasaan saja. Padahal hanura banyak kader yang bisa diajukan jadi cagub," katanya.

Ditinggalkan

Rahmat sendiri yakin, bahwa nantinya, dukungan terhadap Ahok itu akan membaca bencana sendiri terhadap Hanura.

Karena bukannya tidak mungkin, Partai Gerindra juga ditinggalkan seperti Partai Gerindra dan PDIP sebelumnya.

"Seandainya Ahok jadi Gubernur dan Hanura sudah melakukan sesuatu, bisa saja Ahok anggap Hanura jadi tidak terlalu penting. Karena dia merasa punya Teman Ahok. Yang namanya makan siang gratis itu enggak ada. Ini mutlak kekuasaan pendekatannya," katanya.

Sementara, untuk surat pengunduran dirinya, menurut Rahmat, akan dikirimkan pada hari Minggu ini.

Ia akan memberikan langsung kepada Ketua Umum Partai Hanura, Wiranto.

"Saya akan berikan langsung ke Ketum surat pengunduran diri saya. Karena saya masuk lewat Ketum dan keluar langsung lewat Ketum. Legalnya saya kasih Ketum. Terus terang aja saya yang membangun partai ini di Jakarta. Banyak loyalis di DPC yang saya yakin tidak mendukung Ahok. 1.000 persen saya jamin Ahok diberi cek kosong oleh Hanura," katanya.

Pemaksaan

Sedangkan, Bustami mengatakan, bahwa terdapat pemaksaan yang dilakukan oleh Wiranto, terhadap tata kelola organisasi.

"Jadi memang ada pemaksaan dari Wiranto terhadap tata kelola organisasi. Ini yang membuat kami menolak intervensi kekuasaan. Ada pemaksaan kehendak, baik dari Ongen mau pun Wiranto," katanya.

Karena itu, meski kader banyak menyatakan setuju mendukung Ahok, namun ia yakin, bahwa dukungannya karena keterpaksaan.

Tak hanya itu, akibatnya juga banyak yang akan mengundurkan diri seperti dirinya.

"Banyak yang akan mengundurkan diri. Terutama di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Timur. Sekalipun mereka mendukung, tetapi hatinya menolak," katanya.

Tidak Berpengaruh

Sementara itu, ketika dikonfirmasi, Ongen mengaku tidak terpengaruh atas tindakan yang dilakukan oleh dua kadernya tersebut.

Menurut Ongen perintah partai sudah jelas terhadap dukungan kepada Ahok.

"Perintah partai sudah jelas, diam, keluar, atau dipecat. Aksi mereka tidak akan berpengaruh terhadap partai," tegas Ongen ketika dihubungi Warta Kota, Minggu (27/3/2016).

Menurut Ongen, di dalam rumah partainya sudah jelas. Bahwa aturan maupun perintah harus dipatuhi.

"Seperti di keluarga. Jika dari dalam rumah tangga, ada yang nggak sepaham, ya keluar. Jadi saya nggak perlu tanggapi mereka lah," katanya.

Pihaknya pun juga enggan memberikan komentar mengenai aksi mereka. Pasalnya, saat ini masih terus fokus untuk dukungan terhadap Ahok.

"Kami tengah fokus untuk dukungan terhadap Ahok. Kami sedang galang kekuatan dan berkoordinasi dengan teman-teman partai salah satunya. Tentu cara kami berbeda dengan Teman Ahok, mulai dari merekrut suara, memenangkan Ahok, cara kami beda," katanya.


Sumber: Warta Kota