Friday, 11 March 2016

Ada nama warga Indonesia dalam dokumen berlogo ISIS

Di antara ribuan identitas yang tersebar di 50 negara dalam dokumen yang diduga milik ISIS, nama Abu Zalfa al-Indonesi merupakan salah satunya.
Dinamika Kepri - Sebuah nama yang disebut warga Indonesia muncul dalam dokumen-dokumen berlogo ISIS. Berkas-berkas itu kini tengah diperiksa keasliannya oleh aparat Jerman.

Dokumen-dokumen berlogo ISIS itu merupakan semacam formulir yang memuat sedikitnya 22.000 identitas pendukung ISIS di 50 negara. Selain identitas, formulir itu mencakup alamat dan nomor telepon mereka.

Di antara ribuan identitas yang tersebar di 50 negara dalam dokumen yang diduga milik ISIS, nama Abu Zalfa al-Indonesi merupakan salah satunya. Abu Zalfa disebut berasal dari Indonesia dan lahir pada 1982.

Selain dari Indonesia, warga lainnya yang tertera pada dokumen-dokumen itu berasal dari Arab Saudi, Turki, Prancis, Tunisia, Maroko, Mesir, dan Suriah.

Kedatangan warga Indonesia

Kemunculan nama Abu Zalfa asal Indonesia dalam dokumen berlogo ISIS mengemuka setahun setelah buku panduan yang dikeluarkan ISIS menyebut kedatangan delapan warga Indonesia di Suriah.

Perihal kedatangan delapan warga Indonesia, semuanya laki-laki, disebut oleh Abu Qa'qaa', warga Inggris yang masuk ke Suriah pada akhir 2013, yang kisahnya tercantum dalam buku berjudul Hijrah to the Islamic State tersebut.

Kepolisian Indonesia pada November 2015 lalu mencatat terdapat 384 warga negara Indonesia yang bergabung dengan ISIS di Irak dan Suriah dan sekitar 46 orang di antara mereka sudah kembali ke Indonesia.

Bahkan, menurut Sidney Jones selaku pengamat terorisme dari Institute for Policy Analysis of Conflict, ada sekitar 130 orang yang terdiri dari perempuan dan anak di bawah umur 15 tahun di antara warga Indonesia yang bergabung dengan ISIS di Suriah.

Keterlibatan

Keterlibatan warga Indonesia dengan ISIS menjadi tajuk utama media massa pada Januari lalu. Kala itu, Kepolisian meyakini bahwa Bahrun Naim berada di balik serangkaian ledakan dan tembakan senjata di kawasan MH Thamrin, Jakarta Pusat, 14 Januari.

Bahrun disebut-sebut penghubung utama antara kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Abu Wardah Santoso di Sulawesi dan ISIS di Timur Tengah. Lepas dari serangan pada 14 Januari, ada pula simpatisan ISIS di Indonesia yang telah dijatuhi hukuman.

Mereka adalah Koswara alias Ibnu Abdullah, Ridwan Sungkar alias Abu Bilal, Aprimul Henry alias Mulbin Arifin, Ahmad Junaedi, Tuah Febriansyah alias Muhammad Fachry, Abdul Hakim Munabari alias Abu Umar, dan Helmi Muhammad Alamudi alias Abu Royan.

Para simpatisan ISIS di Indonesia dikhawatirkan bertambah mengingat ISIS telah menggunakan masjid di Indonesia untuk merekrut para pengikut.

Hal itu diungkapkan guru besar sosiologi Islam di Universitas Islam Negeri (UIN), Prof Doktor Bambang Pranowo dan peneliti radikalisme Doktor Najib Azca dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

"Mereka melakukan infiltasi (menyusup) ke masjid yang pengurusnya lemah secara keagamaan, itu yang mudah disusupi," kata Bambang Pranowo kepada BBC Indonesia, Rabu (25/02) malam.

Walaupun jumlah masjid yang disusupi "tidak banyak," tetapi menurut Najib Azca, "ada kantong-kantong masjid yang menyimpan dukungan kepada kelompok teroris seperti ISIS."

Baik Bambang maupun Najib menanggapi sebuah laporan yang dipublikasikan oleh abc.net.au, pada 22 Februari lalu, yang menyebutkan ada pertemuan tertutup yang digelar sekelompok orang pendukung ISIS di masjid As-Syuhada di kawasan Jakarta Pusat.

Sumber : bbc.com