Monday, 1 February 2016

Terkait penimbunan limbah ditengah hutan Kabil, Jurado heran, Dendi sebut, Kaleng cat itu bukan limbah B3

Batam, Dinamika Kepri- Terkait perlakuan dengan sengaja adanya pihak perusahaan yang melakukan penimbunan limbah tengah dihutan Kabil, Punggur, Batam yang mana selama ini terus diberitakan oleh media ini, ternyata ditanggapi santai oleh Kepala badan Pengendalian dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) kota Batam, Ir. Dendi Purnomo.

Ir. Dendi Purnomo
Ketika diconfirmasi kembali tentang status limbah di tengah hutan Kabil itu, kepada awak media ini melalui ponselnya Ia mengatakan, bahwa limbah itu bukanlah limbah B3 melainkan hanya limbah rumahan.

" Itu bukan limbah B3, saya juga sudah mengeceknya kelapangan. Selain itu, pihak kita juga sudah melakukan uji Lab dan hasilnya menunjukkan bahwa itu bukanlah limbah B3. Kaleng itu hanya limbah rumahan." Kata Dendi memastikan kepada media ini, Senin (1/2/2016).

Menanggapi Pernyataan Dendi Purnomo tersebut, ditempat terpisah di meja kerjanya Jurado Siburian selaku anggota Dprd kota Batam dari komisi III mengatakan, Jawaban Dendi Purnomo sebutnya, tidak masuk akal.

Jurado Siburian. SH
" Itu pernyataan yang tidak masuk akal, kenapa jadi kaleng catnya yang dibahas, ini bukan masalah kalengnya yang mau dimasalahkan, tetapi sisa cat dan sludge oil yang melekat dikalengnya, kita memastikan ada kandungan limbah B3 disitu, makanya  di police line, Saya juga ikut menyaksikan penyegelan itu.Tetapi saya juga heran, mengapa Pak Dendi Purnomo bisa menyebutkan pernyataan seperti itu ya ?." kata Jurado Penasaran.

Pada Jumat tanggal 24 Juli 2015 lalu, Petugas Bapedalda kota Batam bersamaan dengan anggota Dprd kota Batam dari komisi III, Jurado Siburian, saat itu sama-sama melakukan penyegelan lokasi penimbunan dan gudang besi tua yang tidak jauh dari sekitar hutan dengan Police Line miliknya Bapedalda kota Batam.

Namun tidak tahu mengapa, berselang 3 hari dari sejak penyegelan itu, gudang besi tua yang sebelumnya digunakan tempat membakar kaleng-kaleng cat berminyak tersebut, segelnya (Police line=red) terbuka.

Pantuan media ini pada hari Senin,(1/2/2016),  tumpukan Limbah yang dimaksud juga terlihat sudah mulai berkurang dari sebelumnya. Selain itu  sludge oil yang sebelum melumuri setiap kalengnya terlihat jelas sudah hilang, pasalnya tumpukan itu sudah 6 bulan dibiarkan terkikis begitu saja di sapu hujan dan panas matahari.


Melihat adanya pembiaran tersebut diduga kuat sepertinya sengaja dilakukan, tujuannya agar jenis limbah sludge oil yang melekat di kaleng Cat tunggu hilang dulu, dimana ketika hendak dilakukannya pengecekan, sludge oil yang melekat  sudah tidak ada lagi dan bisa berdalih.Walau demikian, sisa-sisa cat itu, masih terlihat melumuri setiap kalengnya. (Tampak seperti gambar diatas).

Terkait adanya dugaan Pembiaran, pada hari Jumat (15/1/2016) lalu, Kepala Bapedalda kota Batam, Ir.Dendi Purnomo mengatakan, katanya bukan tidak di proses.

"Bukan tidak di proses, masalahnya yang bersangkutan itu tidak mau datang, padahal kita sudah melakukan pemanggilan sampai 2 kali namun  tidak merespon juga". Kata Dendi
  menjawab confirmasi dari awak media ini.

Melihat uniknya kasus yang satu ini, tentunya telah menimbulkan banyak pertanyaan yaitu, Katanya limbah rumahan, namun mengapa sebelumnya telah di police line?, katanya limbah rumahan, tapi ada usaha melakukan pemanggilan terhadap yang melakukan, Jika itu limbah rumahan, mengapa harus ditimbun hutan?

Dalam UU RI No 32 tahun 2009 tentang perlidungan dan pengelolaan lingkungan hidup, jelas dituangkan bahwa setiap orang yang melanggar dengan melawan hukum dengan sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup, akan diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 500 juta.(Ag)

Editor : Agus Budi T