Sunday, 14 February 2016

LGBT dipandang lebih humanis dan eksistensialis?

Ilustrasi, LGBT via skift.com
Dinamika Kepri - Sepuluh sampai dua puluh tahun ke belakang, Lesbian-Gay-Biseksual-Transgender (LGBT) menjadi isu hangat dan kontroversial. Saat itulah masa coming of age LGBT. Namun, seiring bergesernya waktu terjadi pula pergeseran sudut pandang seseorang terhadap kaum LGBT. Dapatkah saat ini LGBT dipandang dengan cara lebih humanis dan eksistensialis?

Menjadi LGBT adalah sebuah pilihan yang bebas dipilih oleh siapapun berdasarkan cara pikirnya sendiri. Cara pikir setiap orang tentu dipengaruhi oleh berbagai macam faktor mulai dari proses perkembangan seseorang hingga faktor lingkungan di luar dirinya. Memang, saat ini semua orang belum dapat menerima kehadiran LGBT, selalu ada pro dan kontra terhadap sesuatu hal.

Untuk masalah LGBT, ada dua macam sikap kontra yang terlihat. Pertama, kontra tetapi dapat menerima untuk hidup berdampingan dengan LGBT dan yang kedua, kontra untuk melibas. Masalah pro kontra disini jangan hanya dikaitkan dengan kaum straight dan non-straight.

Ada banyak kasus dimana LGBT ingin kembali menjadi straight dengan cara  mencoba berhubungan dengan lawan jenis atau kaum straight yang akhirnya memilih untuk menjadi LGBT. Kembali, itu adalah sebuah pilihan setiap orang berhak memaknai kehidupannya sendiri.

Seluk-beluk LGBT memang menarik untuk dibicarakan, terlepas dari apakah kita pro atau kontra, ada baiknya kita mengetahui dunia LGBT saat ini karena tidak sedikit pula LGBT yang mau menikah heterogen dengan pasangan di luar kaumnya. Bagi pasangan gay, harus ada yang berperan sebagai perempuan dan laki-laki di antara  mereka berdua, untuk gay yang berperan sebagai perempuan disebut bottom dan yang jadi laki-laki disebut top.

Sedangkan, untuk lesbian yang berperan sebagai perempuan disebut femme dan yang menjadi laki-laki disebut buchi. Tidak melulu seorang lesbian hanya ingin berhubungan dengan wanita karena saat ini telah ada kasus di mana ada buchi yang hanya mau berhubungan dengan bottom. Si perempuan buchi itu menjadi laki-laki di kehidupan pernikahan, sementara si laki-laki bottom menjadi perempuan di kehidupan nyata.

Memilih menjadi kaum LGBT tentu mendatangkan risiko yang tidak sedikit, contoh paling sederhana adalah bully. Bentuk bully-nya sama seperti orang kebanyakan yang merasa superior.

Mereka menganggap LGBT adalah kaum inferior. Kasus bully sendiri justru terjadi juga di kaum LGBT sendiri seperti misalnya, White Gay People menolak berhubungan dengan Asian gay, sissy, old, dan lain-lain.

Sementara untuk dorongan seksual,  ada kaum gay ada yang hiperseksual dan pasif. Bahkan banyak kaum LGBT yang masih menjaga "kemurnian" mereka dengan tidak melakukan penetrasi saat seks atau bahkan tidak melakukan seks sama sekali. Banyak LGBT yang juga percaya konsep true love.

Kebanyakan orang juga belum memahami beberapa istilah dalam dunia LGBT. Seperti istilah antara transeksual dan transgender, kebanyakan menganggap sama. Padahal, transeksual adalah orang yang menetapkan untuk mengubah kelaminnya seperti dengan memberikan hormon-hormon tertentu yang membuat kelaminnya mengalami perubahan, tetapi jika dia tetap mempertahankan kelaminnya, dia hanya transgender, perannya saja yang berbeda.

Kaum LGBT juga menggunakan istilah queer untuk menyebut orang di luar mereka. Sementara queer untuk orang biasa sama seperti clique untuk sebutan geng.

Peliknya masalah LGBT ini ditambah dengan fakta bahwa dalam kelompok LGBT sendiri juga memiliki masalah penerimaan diri.Banyak yang tidak bisa menerima ketika mereka sendiri "terpilih" menjadi LGBT. Maka mereka lebih banyak mencari. Banyak yang tidak tenang dan tidak tahan uji malah mengakhiri hidupnya. Itu sebabnya apapun identitasnya, kekuatan rohani dan spiritual penting esensinya.

Mengambil pilihan untuk menjadi LGBT membuat seseorang juga harus menerima berjuta risiko dalam satu paket. Salah satu risikonya adalah berkaitan dengan transmisi HIV/AIDS. Kelompok transmisi tertinggi hingga beberapa tahun lalu di Indonesia itu LSL (Lelaki Seks Lelaki atau MSM-Men Sex Men).

Sekitar awal tahun 1981, dari kaum gay pula lah yang ditemukan pertama kali mengidap penyakit tersebut (sumber: Centers for Diseases Control-CDC, Los Angeles). Selanjutnya gaya hidup yang bebas seperti ini malah cukup menimbulkan  kekhawatiran semakin meningkatnya angka kejadian penyakit tersebut.

Belum lagi dengan melakukan hubungan homoseksual membuat mereka tidak dapat menghasilkan keturunan. Untuk masalah menghasilkan keturunan, di negara barat, kita bisa ambil Ricky Martin dan Neil Patrick Harris yang masing-masing dengan pasangannya memutuskan untuk beranak pinak dengan konsep surrogate mother (meminjam rahim kepada wanita pendonor). Bahkan melalui surrogate mother mereka bisa memogram ingin punya anak dengan jenis kelamin apa, kembar, dan sebagainya.

Secara default hanya ada pria dan wanita. LGBT itu pilihan karena merasa tidak nyaman dengan kondisi defaultnya.Masalah LGBT muncul karena memodifikasi kondisi default. Kondisi default manusia adalah wanita untuk pria dan sebaliknya. Secara fisiologis pun demikian. Alat reproduksi pun demikian. Desain alat kelamin dan tubuh lainnya pun saling melengkapi. Jadi ada kondisi membutuhkan lawan jenis.

Bahkan di LGBT sendiri ada fungsi gender pria dan wanita. Karena ada ketidaknyamanan atau ada dorongan emosi dan protes terhadap kondisi default maka memilih menjalani LGBT. Namun, ada beberapa hal yang belum terjawab disini, yaitu terkait asumsi bahwa LGBT yang kini bukan lagi menjadi masalah.

Sebenarnya apa perubahan yang terjadi disini? Jika asumsi tersebut benar, mengapa yang dulu di anggap masalah menjadi bukan masalah? Apakah  sebenarnya LGBT itu bukan sebuah masalah, tetapi hanya masyarakatnya yang belum paham? Atau LGBT itu kini sudah bukan menjadi masalah karena definisi dan indikator masyarakat soal masalah telah berubah, sehingga yang dahulu bermasalah menjadi tidak bermasalah?

What a life!

Disusun bersama Rizqa Febriliany dan Diego Christian Immanuel Mulatua Pakpahan (Penulis Novel Travel in Love)
Sumber : selasar.com