Saturday, 27 February 2016

BNNP Kepri, Gelar hasil tanggkapan Narkoba dan Tujuh pelaku diduga jaringan Internasional

Tampak ke 7 Pelaku diperlihatkan oleh BNNP Kepri kepada Media. Jumat, (26/2/2016)
Batam, Dinamika Kepri - Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kepri, Jumat, (26/2/2016) melakukan gelar hasil tangkapannya selama dalam waktu dua minggu terakhir ini, di kantor BNNP, Noungsa, Batam, Kepri.

Dalam acara gelar tangkapan ini, Pihak BNNP kepada menunjukan hasil tangkapannya sebanyak 7 orang pengedar narkoba jaringan internasional beserta barang buktinya beserta dengan puluhan kilogram ganja dan sabu-sabu dan ratusan lembar uang ringgit Malaysia.

Dari 7 orang yang diamankan, empat orang tersangka yang diamankan tersebut diduga merupakan jaringan antar negara yang sering keluar masuk Malaysia Batam.

Ke empat pelaku ini ditangkap usai kedapatan membawa narkoba jenis sabu-sabu dari negara malaysia menuju Batam melalui pelabuhan Ferry internasional, Batam Center.

Barang haram tersebut juga di sengaja dimasukkan ke dalam anus mereka untuk mengelabui petugas. Selain barang bukti narkoba, dari tangan petugas juga mengamankan ratusan lembar uang ringgit Malaysia, yang diduga hasil dari hasil narkoba.

Sedangkan tiga orang tersangka lainnya tertangkap tangan petugas di pelabuhan Domestik, Kijang, Tanjung Pinang, Kepri ketika membawa puluhan kilogram ganja kering yang sengaja dibungkus rapi  dan di simpan di dalam tas koper dari pelabuhan Dumai, Riau.

Saat jumpa pers, Bubung mengatakan, penangkapan ke tujuh orang tersebut adalah merupakan hasil dari operasi pemberantasan Narkoba di Indonesia, khususnya Batam, kota yang merupakan jalur akses terbesar peredaran Narkoba antar Negara.

"Penangkapan ke tujuh orang ini adalah merupakan hasil dari operasi pemberantasan Narkoba di Indonesia, khususnya Batam, dimana kota  batam adalah merupakan jalur akses terbesar peredaran Narkoba antar Negara." Terang Bubung selaku Kabid berantas BNNP Kepri, kepada media.

Dan untuk sementara ini, ketujuh pelaku ini masih terus dilakukan pemeriksaan guna pengembangan lebih lanjut. Sedangkan ganjatan dari perbuatan para pelaku ini, mereka akan dijerat dengan pasal 114 ayat 2, pasal 112 UU RI No 35 tahun 2009 dengan hukuman maksimal hukuman mati atau semur hidup. (Ln)


Editor : Agus Budi T