Friday, 8 January 2016

Masyarakat berharap, BP Batam dapat kembali ke Otorita

Batam, Dinamika Kepri- Hangatnya isu kabar pembubaran BP Batam saat ini, ternyata tidak hanya di konsumsi oleh kalangan tertentu saja.

Ternyat masyarakat awam yang tidak begitu memahaminya sama sekali, juga ikut berpendapat dan mengatakan katanya dari pada bising-bising alangkah baiknya jika BP Batam itu dikembali lagi seperti awalnya, yaitu kembali ke Otorita Batam seperti sediakala, alasannya agar kinerjanya lebih terfokus kepada tupoksi nya membangun Batam.

Dan jika itu dilakukan, tentunya Tidak akan ada intervensi lagi dari pihak manapun sebab sudah dibawah naungannya Presiden langsung.

Yang kita ketahui selama ini, dimana sejak bergantinya Otorita ke Bp Batam, ada banyak kejanggalan, terlihat ada banyak kepentingan.

Dan yang paling mengherankan, ada mantan politisi bisa masuk berkecimpung ke Bp Batam bahkan menduduki jabatan empuk sebagai deputi hingga saat ini.

Logikanya ini sangat tidak wajar, BP Batam itu seyokyanya  bukanlah tempat para politisi, Namun tempatnya bagi orang-orang yang memiliki dedikasi tinggi dibidangnya masing-masing yang diutus lansung oleh pemerintah pusat untuk membangun Batam.

Dan anehnya, ada yang mengatakan bahwa ada juga menjadikan diri menjadi makelar tanah mempersulit para investor karena fee nya yang sedikit, terkesan ingin memeperkaya diri sendiri serta ada niat ingin mengusai seluruh lahan serta menganggap tanah di Batam itu, seperti warisan pribadinya.

Selain itu ada juga yang menuturkan, dimana sejak terbentuknya dewan kawasan Free Trade Zone (FTZ) Bintan, Batam, dan Karimun. Terlihat banyak kepentingan yang melibatkan para unsur Muspida untuk menyepakati keputusan. 

Akibatnya BP Batam menjadi bingung sendiri karena banyaknya intervensi -intervensi demi kepentingan kerabat, sanak saudara, kolega dan rekan-rekan, bahkan seakan-akan Bp Batam itu seperti perusahaan milik keluarga.

Mengapa dikatakan seperti perusahaan milik kelurga ?, pantauan awak media ini, itulah yang terjadi di Bp Batam tersebut.

Ada Ayah, Anak, ponakan, paman, manantu. Tante bahkan temannya tante juga ada. Dan yang paling parahnya lagi, ada informasi yang menyebutkan ada pegawai honorer juga dipercayakan untuk menantangani segala arsif -arsif di Bp Batam.

Kembali ke masalah unsur kepentingan tadi, Seperti salah satu contoh ketika dilakukannya UKK untuk memilih para deputi beberapa waktu lalu. Istono sendiri yang sudah lama berkarir di BP Batam nyaris tersingkir akibat adanya kepentingan luar. 

Namun  demikian, Istono tetap bertahan dan terpilih menjadi deputi, tetapi semua itu terjadi setelah Ia melakukan proses hukum ke PTUN dan dilakukannya UKK jilid 2.

Menanggapi, seandainya BP Batam itu di kembalikan ke Otorita, ditempat terpisah, Muren Mulkan salah satu aktifis di Batam mengatakan sangat mendukung, alasannya jika sudah menjadi Otorita, pastinya mereka yang di tugaskan membangun Batam itu, akan terfokus menjalankan kinerjanya masing-masing,  pastinya tidak ada lagi yang akan mengintervensi atau mencapuri kerja mereka seperti sekarang ini.

Katanya lagi, jika sudah menjadi otorita, berarti langsung di bawah naungan presiden, dan bukan seperti sekarang ini, terlalu banyak yang mengurusi, makanya jadi bingung sendiri.

Menilik dari sejarahnya otorita di Batam, memang terlihat jelas, pembangunan kota Batam saat itu cepat berkembang, sebab untuk menghasilkan suatu keputusan tidak perlu harus  menunggu dari mana-mana, cukup dari yang berkopenten saja. 

Bukan seperti sekarang ini, ada dewan kawasan yang terdiri dari para unsur Muspida yang pastinya memakan waktu menyepakati sesuatu hal, sebab para unsur Muspida yang ikut menjadi dewan kawasan, belum tentu dapat satu kata untuk menyepakati suatu keputusan, akibatnya pembangunan di Batam jadi terhambat, Kata Mulkan menanggapi. 

Selain Mulkan, Aldi Braga yang juga aktifis di Batam mengatakan hal yang sama mendukung Bp Batam, katanya dengan adanya hal semacam ini ingin membubarkan BP Batam, tentu semua ini tidak luput dari adanya kepentingan pusat.

" Ini kepentingan pusat." kata Aldi Braga.(Ag)

Editor : Agus Budi T