Saturday, 26 December 2015

Diperayaan Natal dan Tahun Baru, Ternyata menyimpan kesedihan bagi sebagian orang

Dinamika Kepri - Sebagian umat Nasrani yang berada diperantuan terutama bagi mereka yang tidak dapat mudik ke kampung halamannya di hari Natal dan Tahun Baru, ternyata menyimpan kisah sedih, dimana kesedihan itu datang ketika hari 'H' nya tiba.

Mereka sedih sebab tidak dapat berkumpul dengan sanak keluarganya di hari Natal dan Tahun Baru di kampung halaman dikarenakan faktor keadaan ekonomi mereka yang tidak mendukung. Mereka akan mengganggap Natal dan Tahun Baru tersebut, menjadi beban moral tersendiri bagi mereka masing-masing.

Di Hari Natal yang baru saja usai, terlihat ada sebagian dari mereka  terlihat sedih. Ketika ditanya kenapa sedih, alasannya sedih karena tidak bisa Pulang untuk berkumpul dengan sanak keluarga yang ada di kampung halamannya.

"Pastinya aku sedih, seandainya saja aku bisa pulang ke kampung sebelum hari Natal ini, pastinya kebahagian itu lebih melengkapi. Namun apa daya, ya seperti inilah dulu, semoga saja, suadara-saudaraku yang ada di kampung tidak kecewa atas ketidak hadiran kami. " Kata pria yang sudah berkeluarga itu sedih.

Ternyata budaya mudik di hari besar tidak bisa hilang dari diri siapa saja, Banyak orang yang berusaha mengumpulkan rupiah demi rupiah menabung hanya untuk biaya mudik di hari raya, Natal dan Tahun Baru.

Mudik pulang kampung di hari besar seakan sudah menjadi kebiasan, tradisi atau juga seperti Ritual untuk melengkapi moment hari besar tersebut. Selain itu banyak orang mengatakan bahwa berkumpul bersama keluarga tercinta di Kampung Halaman di saat hari raya, Natal dan Tahun Baru, akan lebih menyenangkan.

Namun bagi mereka di Perantuan yang hidupnya hanya pas-pasan, ironisnya hanya bisa menghayal. Tak jarang dimalam Natal dan Malam Tahun Baru, Banyak orang Nasrani menagis sendiri dalam sepinya. Menagis bukan karena ia mengingat dosa-dosa yang diperbuatnya. Namun mananjgis karena tidak bisa Pulang ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarganya.

Maka tidak heran, biasanya orang Nasrani diperantuan di malam Natal dan tahun baru, sesama mereka yang tidak mudik, akan merencanakan akan berkumpul bersama dengan yang lain, gelar tikar dihalaman, buat acara kebaktian, bakar-bakar ikan dan beli minuman beralkohol berkadar ringan (5%), tujuan hanya sekedar untuk menghilangkan kesedihannya. Apalagi dimalam Tahun Baru ketika mendengar suara lonceng dari gereja, kata mereka, makin  sedih ketika mendengarnya.

" Kalau di malam tahun Baru, suara lonceng itu yang membuat aku enggak tahan, kadang disitu aku makin sedih ketika mendengarnya." Ucap salah satu dari mereka.

Bagi umat Nasrani yang ada di Perantuan, bagi mereka, mudik di hari Natal dan Tahun Baru adalah sudah menjadi tren tersendiri dari sejak dahulu. Apalagi masih berstatus lajang, Pastinya malu mengatakan tidak mudik jika ada yang menanyakan.

Ketika ditanyakan apa bedanya merayakan Natal dan Tahun Baru di perantuan dan di kampung halaman, jawabnya lebih enakan di kampung halaman, alasannya, merayakan Natal dan Tahun Baru di kampung halaman bersama orang tua, akan lebih menyenangkan, bahkan tidak kesenangan lain yang bisa menandinginya.(Ag)

Editor : Agus Budi T