Saturday, 19 December 2015

Ngerih.!, Bagi pencuri yang kedapatan di Perumahaan Taman Tembesi Raya, Istilah " Mangkuling Do Mudar ", Tidak berlaku, Hajar..

ilustrasi.
Batam, Dinamika Kepri- Batam yang dulu ternyata bukan lagi seperti Batam saat ini. kehidupan Batam sudah serasa sudah sangat ekstreem. Yah..sangat ekstreem, seakan tidak ada lagi rasa kemanusian.

Dahulu persaudaraan sesama perantau  satu suku yang datang ke Batam terlihat begitu akrab walau dari salah satunya telah melakukan kesalahan dan masih ada maafnya. Namun kini sudah beda, tidak ada maaf lagi terkesan malah saling menjatuhkan. jangankan saling menjatuhkan sesama mereka juga saling membinasakan.

Seperti istilah orang Batak mengatakan " Mangkuling do Mudar " sepertinya di Batam itu tidak ada lagi, dimana itu terbukti setelah salah satu warga Taman Tembesi Raya (Nara sumber) kepada media ini menuturkan bahwa beberapa waktu lalu Ia mengatakan ada 3 orang Pencuri Anjing yang masuk ke komplek mereka nyaris mati dihajar  warga setempat setelah ketahuan mencuri anjing.

Kendati katanya warga setempat yang  mayoritas pendatang dari Medan, itu tidak diperdulikan walaupun pencuri Anjing itu sesama perantau yang juga berasal dari Medan. Kata narasumber ini, mereka terus menghajar ke 3 pencuri anjing itu hingga babak belur hingga nyaris mati.  setelah warga menemui ada 3 ekor anjing di dalam mobil pelaku.

Namun beruntung, ke 3 begundal pencuri itu katanya selamat dari kematian pasalnya ada petugas dari kepolisian yang kebetulan tinggal di komplek itu berhasil menahan aksi main hakim dari warga Perumahaan tersebut, dan menyerahkannya ke 3 pencuri anjing itu ke Polisi untuk di proses lebih lanjut. kata narasumber memastikan seandainya tidak ada yang menahan saat itu, pastinya ke 3 pencuri itu sudah mati seperti pencuri lain.

Ketika awak media ini mempertanyakan aksi prilaku main hakim sendiri itu, Ia menjawab, katanya harus seperti itu, agar para pencuri-pencuri yang ingin masuk ke komplek mereka berpikir 1000 kali sebelum melakukannya dan ada efek jeranya kepada pencuri atau maling yang lain.

Ketika awak media ini menayakan arti dari ucapannya yang menyebutkan " Pastinya sudah mati seperti pencuri lain " ia menjawab katanya, Ya..mati seperti pencuri lain.

" Ya..mati seperti pencuri lain, dulu sudah ada 1 orang pencuri yang mati di bakar di komplek kami. sebenarnya pencuri ini sudah pernah diampuni warga dan dibebaskan, namun tidak lama dari itu, Ia malah mengulang mencuri dan tertangkap lagi. Melihat pencurinya dia-dia lagi, akhirnya wargapun berang dan membakarnya hingga mati." Kata narasumber yang juga warga dari Taman Tembesi Raya ini.

Selain itu narasumber juga mengatakan, bahwa pencuri yang telah mati dibakar itu adalah masih satu suku dengan mereka yaitu sama-sama perantau dari Medan. Terkait menanggapi adanya kamus Bahasa Batak yang menyebutkan " Mangkuling do Mudar", Kata narasumber itu memang ada, namun apa yang boleh diperbuat, semua warga sudah kesal, jangankan yang warga lain, malah satu marganya sendiri yang paling kuat menghajarnya, ucap narasumber ini.

Kata dia lagi menuturkan," Komplek kami itu memang mayoritas orang Medan, kami sangat kompak, para pemudanya juga kompak, selain itu, kami tahu siapa-siapa orang yang ingin melakukan yang tidak-tidak, jika kelihatan sudah mencurigakan, kami langsung menghampirinya dan mengatakan agar jangan macam-macam dikomplek kami.tujuannya agar tidak terjadi lagi seperti yang sudah terjadi."

Sebelum menutup perbincangannya dengan wartawan ini, narasumber juga mengatakan, kalau mereka  juga mempunyai rasa kemanusian, menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan budaya yang menyebutkan" Mangkuling do Mudar ", namun bagi pencuri itu tidak berlaku siapapun orangnya.

Mengingat sudah ada korban sebelumnya, kata narasumber yang  berdagang di simpang masuk Taman Tembesi Raya ini mengatakan, adapun tindakan yang sudah mereka lakukan itu, katanya semata-mata untuk bertujuan memberikan efek jera kepada pencuri-pencuri yang lain agar tidak melakukan aksi pencurian di komplek mereka. (Ag)

Editor : Agus Budi T