Thursday, 24 December 2015

Mari Ciptakan Generasi Kompetitif, Enterpreneurship Harus Diajarkan Sejak Dini

Dinamika Kepri - Lemahnya daya saing Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia dalam berkompetisi di dunia kerja salah satunya karena disebabkan sistem pendidikan dan penyiapan SDM yang salah.

Menteri Ketenagakerjaan RI, Hanif  Dakhiri meminta lembaga pendidikan di semua level melakukan redisain program dan orientasi dengan memasukkan unsur pendidikan enterpreneurship selain pendidikan karakter dan skill development.

"Untuk menjawab kelemahan SDM kita selama ini, maka penguatan  kompetensi dan skill wajib diajarkan sejak dini. Khususnya kompetensi di bidang enterpreuner itu harus sudah diberikan sejak pertama kali siswa masuk dunia sekolah hingga lulus perguruan tinggi," kata Hanif Dhakiri saat memberikan sambutan di acara Dies Natalis Kampus ALMA ATA ke XV di Jogjakarta, Kamis (24/12/2015).

Menurut dia, lembaga pendidikan formal harus mampu menyiapkan calon tenaga kerja handal dan kompeten selain menyiapkan kader bangsa terdidik dan nasionalis. Untuk itu kurikulum dan silabinya harus didisain dengan baik dengan mempertimbangkan perkembangan zaman dan kebutuhannya selain perubahan pola pikir bagi peserta didik yang dalam bahasa pemerintahan Jokowi-JK disebut revolusi mental.

"Sekolah tidak boleh hanya menciptakan calin pekerja tetapi sekolah juga harus mampu menciptakan orang-orang yang bisa menciptakan lapangan kerja atau menjadi wirausaha. Dengan demikian, maka lulusan lembaga pendidikan ini diharapkan akan menghasilkan lulusan yang selain memiliki character building juga memiliki employbility skill, dan entrepreneur skill," terang menteri yang selalu klimis dan rapi ini.

Hanif menambahkan, dalam paradigma 'entrepreuner education', program pendidikan seharusnya dirancang untuk membentuk lulusan yang handal dan sukses baik dalam dunia kerja maupun bisnis. Dengan pola pendidikan tersebut, dia yakin tenaga kerja Indonesia akan mampu bersaing dan berkompetisi di era global.

Perlu Tingkatkan SDM

Dalam kesempatan ini, Menaker Hanif juga menegaskan pentingnya membangun kesadaran bersama mengenai perlunya peningkatan kualitas dan  daya saing SDM Indonesia. Hal itu dapat dilakukan  antara lain melalui pendidikan dan pelatihan kerja.

"Pendidikan dan pelatihan kerja harus mampu mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia berkualitas, memiliki keterampilan, profesionalisme dan kompetensi yang tinggi serta relevan dengan kondisi dan kebutuhan dunia kerja," urai pria yang gemar menyanyi ini.

Karenanya lanjut Hanif, pendidikan dan pelatihan kerja harus dilakukan secara sinergis dan outputnya bermuara kepada peningkatan kompetensi kerja yang dapat mengisi pasar kerja dan kebutuhan dunia kerja selain bisa membantu program perluasan kesempatan kerja dan menumbuhkan mentality wirausaha.

“Di sinilah pentingnya strategi yang dapat mensinergikan antara supply dengan demand. Selama ini sisi supply sebagian besar dihasilkan oleh lembaga pendidikan. Untuk itu, peranan lembaga pendidikan menjadi sangat strategis dalam menyiapkan tenaga kerja yang dapat mengisi pasar kerja," terangnya.

Peranan yang harus dimainkan oleh lembaga pendidikan, lanjut Hanif , hendaknya berorientasi pada demand driven, tidak boleh lagi memiliki orientasi supply driven. Hal ini sangat penting diketahui karena selama ini orientasi kita sudah tidak sesuai dengan kondisi yang ada sekarang.

Menurut Menaker yang aktivis ini, penyiapan tenaga kerja oleh lembaga pendidikan yang berorientasi kepada kebutuhan diarahkan bukan saja membekali setiap peserta didik dengan kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi semata, akan tetapi juga diarahkan pada penciptaan sumber daya manusia yang mampu  mengelola sumber daya alam yang tersedia, serta dapat membawa bangsa ini keluar menjadi bangsa yang hebat.

"Permasalahan di bidang ketenagakerjaan yang paling dirasakan saat ini adalah pengangguran.  Berdasarkan data BPS pada bulan Agustus tahun 2015, jumlah penganggur terbuka  sekitar 7,56 juta orang atau 6,18 persen dari angkatan kerja sebanyak 122,4 juta orang. Besarnya tingkat pengangguran tersebut merupakan salah satu indikator perekonomian kita yang harus segera diatasi,“ katanya.

Penyebab Penganguran

Dalam pengamatan Menaker, pengangguran itu disebabkan oleh dua hal yaitu jumlah angkatan kerja yang setiap tahun meningkat dan terbatasnya kesempatan kerja. Peningkatan jumlah angkatan kerja diakibatkan karena adanya lulusan dari lembaga pendidikan maupun mereka yang belum diserap oleh pasar kerja pada tahun sebelumnya.

Sedangkan terbatasnya kesempatan kerja antara lain diakibatkan oleh kondisi pertumbuhan perekonomian nasional dan adanya ketidaksesuaian antara kebutuhan dengan ketersediaan tenaga kerja.

"Dua hal inilah yang menjadi PR kita bersama. Karena itu, saya mengajak semua pihak untuk bahu membahu dan saling bergandeng tangan untuk mengatasi dua problem tersebut," pungkasnya.

Source  : naker.go.id