Saturday, 14 November 2015

Ketahui, Inilah Bahaya Penggunaan Narkoba Jenis Sabu dan Ekstasi

Dinamika Kepri - Shabu atau Sabu-sabu adalah salah satu jenis Narkoba yang merupakan jenis madat pembunuh nomor dua di Indonesia setelah putaw (heroin). 

Madat jenis sabu-sabu ini juga dapat membuat penggunanya kecanduan atau ketergantungan. penggunanya juga bisa saja cepat meninggal, Biasanya dari mereka yang mati akibat over dosis (OD) dan depresi. Jika tidak OD, biasanya penggunanya pastinya kedepannya akan memangalami kecacatan itu akan menjadi Gen menurun hingga kepada para keturunannya kelak.

Salah satu cara mengkonsumsi jenis madat bernama sabu-sabu ini adalah dengan membakar sabu di atas kertas timah lalu dihisap asapnya. Mungkin, karena ada unsur api dan asap inilah yang kemudian membuat si pemberi nama jenis madat ini memilih nama yang dekat dengan masakan Jepang Shabu-shabu.

Asal muasal kata 'Shabu', Shabu- shabu adalah makanan Jepang berupa irisan sangat tipis daging sapi (atau daging ayam, daging domba, ikan fugu, gurita dan ikan kakap) yang dicelup ke dalam panci khusus berisi air panas di atas meja makan, dan beberapa kali dilambai-lambaikan di dalam kuah sebelum dimakan bersama saus (tare) mengandung wijen yang disebut gomadare atau ponzu. Di dalam panci biasanya juga dimasukkan sayur-sayuran, tahu, atau kuzukiri.

Cara lain mengkonsumsi sabu-sabu (jenis madat ini) adalah dengan menggunakan bong supaya asapnya disaring air terlebih dahulu, kemudian dihisap. Atau serbuk sabu ditumbuk lalu disedot langsung menggunakan hidung. Cara lain, serbuk sabu dimakan langsung, atau dilarutkan ke dalam air lalu disuntikkan dengan alat penyuntik.

Menggunakan narkoba dengan menyuntikkan ke tubuh, ternyata mengandung resiko tinggi terhadap penyakit HIV, diamana penggunan sunitk secara bergantian adalah salah satu faktor utamanya.

Sabu-sabu adalah Metamfetamina (metilamfetamina atau desoksiefedrin), disingkat met. Ia merupakan obat psikostimulansia dan simpatomimetik yang dipasarkan untuk kasus attention deficit hyperactive disorder (gangguan hiperaktivitas akibat kurang mendapat perhatian), juga kasus narcolepsy (kelainan tidur).

Metamfetamina pertama dibuat dari efedrina di Jepang pada 1893 oleh Nagai Nagayoshi. Sabu-sabu menyebabkan terjadinya peningkatan secara drastis hormon dopamine, serotonin, dan noradrenaline dalam otak dan saraf.

Dengan ditemukannya sabu-sabu sebagai salah satu madat, menyebabkan banyak pemakai madat jenis cocaine yang beralih ke sabu-sabu. Sebab harganya yang lebih murah. 

Sabu-sabu bisa diproduksi oleh orang awam (di rumah). Selain murah dan mudah diproduksi, efek mabuk yang diberikan sabu-sabu jauh lebih lama yaitu sekitar 9-15 jam dibandingkan dengan cocaine yang hanya memberi efek mabuk sekitar 15-20 menit saja. Madat jenis sabu-sabu jauh lebih mudah diperoleh ketimbang cocaine.

Sedangkan Ekstasi atau kerap disebut Inek maupun Vitamin, dapat merusak otak dan memperlemah daya ingat,  selain itu merusak mekanisme di dalam otak.

Ekstasi juga terbukti dapat menyebabkan kerusakan jantung dan hati, menyebabkan depresi dan gangguan kejiwaan. Pengguna ekstasi biasanya setelah kecanduan, akan mengalami kesulitan untuk berhenti atau mengurangi pemakaian. Ekstasi juga dapat menyebabkan kematian mendadak.

Ekstasi (disebut juga dengan nama Inex atau XTC) yang bernama resmi MDMA (3,4-methylenedioxy-N-methylamphetamine), merupakan senyawa kimia yang sering digunakan sebagai obat rekreasi yang membuat penggunanya menjadi sangat aktif. Resiko penggunaannya adalah dehidrasi ketika penggunanya lupa minum air. Hal sebaliknya juga dapat terjadi, di mana seseorang minum terlalu banyak air.

Ekstasi memiliki struktur kimia dan pengaruh yang mirip dengan amfetamin dan halusinogen. Berbeda dengan sabu-sabu yang berbentuk kristal, ekstasi biasanya berbentuk tablet berwarna dengan disain yang berbeda-beda. Ekstasi bisa juga berbentuk bubuk atau kapsul.

Pengaruh jangka panjang yang diakibatkan ekstasi antara lain merusak otak dan memperlemah daya ingat, merusak mekanisme di dalam otak yang mengatur daya belajar dan berpikir dengan cepat. Ekstasi juga terbukti dapat menyebabkan kerusakan jantung dan hati, menyebabkan depresi dan gangguan kejiwaan lainnya. Pengguna ekstasi biasanya setelah kecanduan mengalami kesulitan untuk berhenti atau mengurangi pemakaian.

Pengaruh ekstasi juga dapat membuat seseorang bertingkah laku yang membahayakan, atau menempatkan dirinya ke dalam keadaan tidak berdaya. Bila keadaan tidak berdaya ini terjadi pada pemadat ekstasi perempuan, maka ia akan menjadi objek pemerkosaan atau terjerumus ke dalam hubungan seks bebas yang memperdaya, kemudian pada gilirannya akan menghasilkan kehamilan dan berbagai penyakit seperti AIDS atau Hepatitis C.

Ekstasi juga dapat menyebabkan kematian. Pertama, akibat pengaruh rangsangan yang mengakibatkan serangan jantung atau pendarahan otak. 

Kedua, kombinasi penggunaan ekstasi dengan aktivitas menari akan menyebabkan naiknya temperatur suhu badan pada tingkat yang berbahaya.Biasanya ekstasi diminum di klub-klub malam atau diskotik, maka resiko kematian karena panas yang berlebihan (hyperthermia) akan meningkat. 

Ketiga, walau bukan karena akibat langsung dari ekstasi, kematian dapat terjadi karena banyaknya air yang diminum akibat temperatur suhu badan yang tinggi sehingga terjadi dilutional hyponatremia atau keadaan dimana otak kelebihan cairan.

Terlebih bagi wanita muda, alangkah baiknya jangan pernah melakukannya, selain beresiko masuk penjara, Pemakaian Jenis Ekstasi ini sangat beresiko terhadap rahim wanita. Bagi wanita yang kerap memakai jenis narkoba ini, dipastikan akan sulit Hamil, jikapun terjadi kehamilan sesudah menikah, anak yang dikandungnya, dipastikan akan mengalami keterlambatan mental atau disebut IQ jongkok.  

Nah.. jika anda sangat menghargai hidup dan menjaga agar keturunan anda nantinya tidak mengalami kecatatan fisik maupun mental seperti yang dimaksud, alangkah baiknya mulai dari saat ini, kebiasaan buruk tersebut, dapat dihentikan, untuk menyonsong masa depan yang lebih baik. (*) 

Editor : Agus Budi T