Monday, 2 November 2015

Sudah jalan 3 Tahun, 16 kali sidang, Namun sengketa pemotongan lahan di Tanjung Puntung, Tak kunjung usai

Tampak saksi tengah memberikan keterangan di depan majelis Hakim di PN Batam, Senin, 2/11/2015.
Batam, Dinamika Kepri- Ya sudah 16 kali sidang, itulah jawaban pihak yang menggugat  salah satu perusahaan di Batam siang tadi kepada wartawan ini ketika mempertanyakan perihal sidang sengketa lahan yang mereka ikuti saat itu di Pengadilan Negeri (PN) Batam siang tadi, Senin  (2/11/2015).

“Masalah ini sudah 16 kali di sidangkan sejak tahun 2012, kalau tidak salah,  ini sidang ke 16 kalinya ” katanya kepada para media. 

Katanya mereka sedang menggugat  salah satu perusahaan di Batam karena telah berani memotong tanah yang ada dilahan mereka di Tanjung Puntung Bengkong, Batam, Kepri, untuk keperluan penimbunan pada tahun 2012 yang lalu yang mana sampai saat ini sidangnya tak kunjung selesai .

 Menurut penjelasan dari pihak  penguggat, terkuak karena pihak perusahaan tidak menepati  perjanjiannya terhadap  mereka sebelumnya,  untuk membayarkan jumlah nominal uang yang sudah ditentukan dari tanah yang dikeruk dari lahan penggugat. 

Bahkan penggugat juga mengatakan bahwa  perusahaan yang memotong tanah dilahannya itu, juga tidak mengantongi izin pemotongan (Cut And Fill) sebagaimana mestinya.

Selain itu, untuk kelanjutan kasus tersebut, katanya hari Jumat ( 6/11/2015) ini , pihak Pengadilan juga akan melakukan sidak kelokasi yang bersengketa tersebut.

Dan yang paling disayangkan, katanya lagi ketika pihak keluarga  menyurpai lokasi bersamaan dengan pihak tergugat  beberapa waktu lalu, ucap Diah Bin Yusuf, katanya  salah satu keluarga penggugat yang bernama  Ibu Norian juga menerima penganiyaan di TKP, terkait hal  penganiayaan itu ternagnya sudah melaporkannya  kepada Polisi  tertanggal 16 Oktober 2015 yang lalu namun sampai saat ini perihal laporan itu, katanya belum ada yang ditahan polisi. 

Terkait permasalahan itu, Diah Bin Yusuf selaku dari pihak penggugat juga berahap pintanya agar masalah itu dapat selesai dengan baik tampa harus mengandalkan premanisme

" Harapannya, kiranya masalah ini cepat terselesaikan dengan baik tampa harus mengandalakan premanisme, iya mungkin itu saja harapan saya." kata dia. (Ag)

Editor : Agus Budi T