Sunday, 1 November 2015

Awas..! Tiga Penipuan Valas Paling Populer Di Dunia Menghantui

Dinamika Kepri - Bisnis valas termasuk salah satu usaha berprospek menjanjikan yang banyak dimanfaatkan penipu untuk dijadikan modus operandinya.

Ini bisa terjadi karena banyak orang yang meski tidak memahami seluk-beluk bidang ekonomi, namun kelewat percaya diri; menyepelekan dengan anggapan bahwa bisnis valas cukup jual dan beli lalu untung. Padahal perkara ini lebih kompleks daripada kelihatannya.

Ada banyak faktor yang perlu diperhatikan saat berbisnis valas, baik itu jual beli mata uang fisik maupun trading forex. Diantaranya adalah dinamika ekonomi Dunia, kepemilikan data terkini yang akurat dan bisa dipertanggungjawabkan, serta pemahaman akan risiko. Namun ketiga unsur ini sering diabaikan oleh orang awam, sehingga mereka terjebak dalam penipuan valas. Berikut ini beberapa penipuan valas yang paling populer versi seputarforex:

Penipuan Dolar Amerika: 100,000 USD Tahun 1934 Palsu

Sudah tak terhitung lagi jumlah orang yang bertanya kepada kami tentang apakah uang lembaran 100,000 Dolar AS tahun 1934 masih berlaku dan bisa ditukar di money changer. Bahkan tak sedikit pula yang mengklaim memiliki sertifikat bukti keabsahan lembaran uang Dolar Amerika yang dimilikinya. Sayangnya, baik dengan maupun tanpa sertifikat, uang 100,000 USD Tahun 1934 bergambar Woodrow Wilson itu tak ada nilainya.

Situs Departemen Keuangan Amerika Serikat memiliki satu halaman khusus yang didedikasikan untuk membahas lembaran uang 100,000 USD karena keunikannya. Pemerintah AS menerbitkan uang 100,000 hanya sekali pada tahun 1934 sebagai gold certificate khusus bagi bank-bank. Kepemilikan uang ini terlarang bagi masyarakat umum, dan apabila ada individual memilikinya maka diancam 25 tahun penjara oleh pemerintah federal AS.

Lebih dari itu, karena terbatas hanya untuk dipakai antar bank, maka semua uang sertifikat emas itu telah dicatat, kecuali satu set un-cut sheet yang menurut rumor diduga dicuri dari percetakan. Saat ini, semua sertifikat emas 100,000 USD Tahun 1934 itu sudah ditarik dari peredaran dan telah dimusnahkan, kecuali yang dipamerkan di Smithsonian Museum dan diarsipkan oleh bank sentral AS.

Fakta-fakta tersebut diatas tidak banyak diketahui oleh orang diluar Amerika, sehingga penipuan Dolar Amerika 100,000 USD Tahun 1934 menjadi marak di Asia Tenggara. Para penipu bahkan lebih berani lagi dengan menyebarkan besaran mata uang yang lebih besar, seperti 1,000,000 (satu juta) Dolar AS, dengan label tahun terbit lebih lama lagi, seperti tahun 1920an. Padahal, sertifikat emas dengan nominal 100,000 merupakan nominal terbesar yang pernah ada dalam sejarah mata uang Dolar AS, dan sebagaimana telah kami paparkan, itupun bukan untuk penggunaan umum.

Bisnis Mata Uang Dinar Irak

Dalam penipuan valas yang sempat populer pada 2007-2008 ini, para penipu mengiklankan investasi mudah berisiko rendah dengan membeli mata uang asing saat ini untuk dijual lagi kelak setelah nilainya meningkat. Penjaja mata uang Dinar Irak mengklaim bahwa nilai mata uang Irak saat itu masih sangat rendah, dan dengan kemungkinan bahwa kekayaan alam Irak akan menjadi sangat penting bagi Dunia, maka peluang menguatnya nilai Dinar Irak terbuka lebar.

Oleh karena itu, mereka menjual berbundel-bundel "Dinar Irak" dengan jaminan keaslian dan iming-iming keuntungan luar biasa besar. Mereka bahkan tak ragu untuk merekayasa sejumlah "berita" yang mengiaskan kepercayaan negara-negara maju terhadap Irak.

Apakah uang yang mereka jual asli? Ya, besar kemungkinan uang Dinar Irak yang mereka jual itu asli. Masalahnya, nilai mata uang itu hampir tidak mungkin meningkat. Ini karena realitanya:

Irak adalah negara yang terus bergelut dengan konflik antar sekte dan antar suku selama berpuluh tahun. Tiga kelompok utama: Syiah, Sunni, dan Kurdi, tidak bisa merasa rela jika pihak lainnya berkuasa. Konflik ini sudah berurat berakar, sehingga kecil sekali kemungkinan negeri ini akan damai dan perekonomiannya stabil kembali. Padahal tanpa stabilisasi, nilai tukar suatu negara mustahil menguat. Status sebagai "negara produsen minyak" pun bukanlah jaminan bahwa suatu negara bisa menjadi kaya dan berjaya.

Faktanya, sejumlah negara penghasil minyak telah dan tengah mengalami resesi berulangkali, termasuk Rusia, Venezuela, dan lain-lain. Tak peduli seberapa besar simpanan kekayaan alam sebuah negara, jika negara itu tak punya kemampuan untuk mengelolanya, maka negara tersebut selamanya tidak akan maju.
Perdagangan mata uang sangat bergantung pada likuiditas.

Berbeda dengan tanah atau emas yang merupakan aset penyimpan kekayaan jangka panjang, nilai riil suatu mata uang sebenarnya berkurang dari waktu ke waktu. Umpamakan saja 1000 Rupiah dulu bisa digunakan untuk membeli sekantong permen, sekarang hanya bisa beberapa biji saja. Dengan demikian, kemampuan mata uang untuk menghasilkan keuntungan didapat hanya dari pertukarannya dengan mata uang lain dalam jangka pendek.

Jika Anda tidak bisa menemukan pembeli bagi mata uang yang Anda miliki dengan mudah saat ini, maka bisa dikatakan bahwa mata uang itu tidak bisa dipertukarkan maupun menghasilkan keuntungan. Hingga kini, Dinar Irak termasuk mata uang yang paling sulit diperjualbelikan baik via Money Changer maupun bank; dan ini saja seharusnya sudah membuat Anda ragu untuk berinvestasi dalam mata uang Dinar Irak.

Negara manapun bisa mengganti, me-redenominasi, maupun mendevaluasi mata uangnya kapan saja. Sudah banyak kejadian dimana negara-negara mengganti mata uang karena satu atau lain alasan, dan bahkan ada yang telah melakukan redenominasi dimana 1 juta uang lama dipertukarkan hanya dengan nilai 1 uang baru. Negara-negara dalam kondisi rapuh dan inflasi tinggi termasuk yang paling mungkin melakukan hal ini.

Setelah penggantian semacam itu, mata uang lama biasanya ditarik secara bertahap dari peredaran hingga akhirnya tak berlaku sama sekali. Dengan kata lain, mata uang asing yang dipegang sekarang bisa lenyap nilainya suatu saat nanti. Fakta ini secara efektif membatalkan klaim "berisiko rendah" ataupun "tanpa risiko". Bila Anda tidak bisa segera menukarkan uang yang Anda pegang, maka di masa depan itu bisa jadi hanya seharga rongsokan. Padahal kalau akan ditukarkan sekarang, maka harganya pun biasa saja.

Selain menggunakan mata uang Dinar Iraq, penipuan valas semacam ini juga mengeksploitasi Dong Vietnam dan Pound Mesir. Korbannya tidak terbatas pada orang-orang awam di Asia Tenggara saja, melainkan juga dari Amerika. Council of Better Business Bureaus yang merupakan jaringan penghubung antara perusahaan dan konsumen di Amerika Serikat dan Kanada, menobatkan penipuan valas dengan modus operandi ini sebagai nomor 6 dalam 10 modus penipuan paling top tahun 2013.

Penipuan Satu Juta Euro Commemorative

Versi terbaru penipuan valas menggunakan lembaran satu juta Euro yang diklaim asli, bahkan kadang lengkap dengan sertifikat otorisasi-nya. Seperti halnya penipuan Dolar Amerika palsu diatas, penipuan ini juga memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat akan besaran nominal mata uang dari negara lain. Bedanya, jika di penipuan pertama melibatkan uang palsu dan penipuan kedua menggunakan valas asli, maka di penipuan ketiga ini menggunakan lembaran kenang-kenangan (commemorative), atau uang koleksi (novelty money) yang bukan merupakan alat pembayaran legal.

Perusahaan Naples Bank Note Company pernah menciptakan lembaran uang Satu Juta Euro dengan desain khusus untuk memperingati awal mula penggunaan Euro sebagai mata uang di 15 negara anggota Uni Eropa pada Januari 2002. Uang yang awalnya ditujukan sebagai barang koleksi tersebut dijual oleh perusahaan dengan harga 18.50 Dolar AS saja, dan tersedia untuk dipesan siapa saja. Sedangkan mata uang Euro aslinya hingga kini tidak pernah diterbitkan dalam nominal lebih dari 500 Euro.

Namun belakangan uang Satu Juta Euro Commemorative tersebut tersebar di Asia dan dijadikan bahan penipuan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab. Mereka yang tertipu biasanya mengira bahwa uang Satu Juta Euro itu kelak akan bisa mereka tukarkan begitu saja dengan nilai sangat tinggi di money changer atau bank, padahal tak ada money changer bonafid maupun bank di dunia ini yang akan mau menerimanya. Satu-satunya yang mungkin mau menerima adalah kolektor, dan itupun paling-paling dengan harga sekitar 20-40 USD saja.

Penipuan dengan novelty money sejenis Satu Juta Euro Commemorative cukup banyak terjadi, dengan memanfaatkan mata uang major seperti Dolar AS dan Euro maupun mata uang eksotis dari negara-negara yang kurang dikenal. Karena hal ini, maka dalam menyikapi tawaran mata uang asing, kita mesti selalu waspada, terutama bila pengetahuan kita tentang karakteristik valas terbatas.

Solusi dan Rekomendasi

Berikut ini sejumlah poin yang perlu Anda perhatikan agar tak menanggung kerugian karena penipuan seperti tiga kasus diatas:

Ketahuilah bahwa Pemerintah manapun akan sebisa mungkin menghindari mencetak mata uang berdenominasi besar, karena sangat rawan pemalsuan. Negara-negara yang mata uangnya punya pecahan besar seperti Indonesia, pada suatu titik akan berusaha melakukan redenominasi. Sedangkan bagi negara-negara maju seperti AS dan Euro, tak ada perlunya mencetak uang berdenominasi besar saat ini.

Ingat, nilai tukar mata uang selalu berubah, dan status mata uang itu sendiri merupakan label yang dikenakan oleh pemerintah negara tertentu pada beberapa lembar kertas dan koin dimana mereka bisa dengan mudah menggantinya dengan yang baru.

Hindari memegang atau menyimpan valas dalam bentuk tunai apabila Anda tidak memiliki keperluan di luar negeri. Menyimpan dana dalam bentuk deposito valas itu baik, tetapi selayaknya disimpan di bank, bukan dalam bentuk tunai. Sebisa mungkin, beli dan jual valas hanya di bank atau money changer berizin.

Apabila Anda akan memegang valas di Indonesia, prioritaskan mata uang dengan tahun terbit baru; semakin baru semakin baik.

Utamakan untuk memegang valas yang sudah banyak dikenal, bukan mata uang eksotik yang jarang dipertukarkan. Diantara valas paling populer dipertukarkan adalah Dolar Australia, Yuan China, Euro, Poundsterling, Dolar Hongkong, Yen Jepang, Ringgit Malaysia, Dolar Singapura, dan Dolar AS.

Apabila berminat menjalankan bisnis valas secara fisik, maka lebih dulu kenali ciri-ciri mata uang asli, sehingga tidak mudah tertipu oleh mata uang novelty/koleksi ataupun uang palsu.

Penipuan valas telah eksis sejak bertahun-tahun lampau, tetapi hingga kini korbannya masih banyak bertebaran. Salah satu sebabnya adalah, korban atau keluarga korban masih menyimpan valas yang dijadikan bahan penipuan tersebut tanpa menyadari bahwa kertas-kertas tersebut kadang tidak lebih baik dari sampah.

Selain itu, penipuan mata uang asing seperti ketiga kasus marak yang diulas dalam artikel ini akan sulit dimintakan untuk diusut kepada polisi. Masalahnya adalah, kasus seperti ini seringkali melibatkan lembaran sungguhan meski itu hanya uang novelty.

Dalam kasus Satu Juta Euro Commemorative, misalnya, kepolisian di Lucknow, India, sempat menangkap beberapa orang yang menyebarkan lembaran tersebut di tahun 2010, tetapi tidak bisa menjatuhi hukuman karena uang yang disebarkan adalah benar-benar uang Euro commemorative.

Para penipu itu memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat; bahwa itu tidak berlaku sebagai alat pembayaran seharusnya sudah menjadi fakta yang diketahui umum. Dalam kondisi ini, kita sendiri yang mesti berhati-hati agar tidak tertipu.

Source : seputarforex.com