Tuesday, 27 October 2015

Masalah lahan, Ratusan orang warga Kabil kepung Kantor Dprd Batam

Tampak Iman Setiawan dan Helmy Hemilton, berbisik.
Batam, Dinamika Kepri- Bukan masalah baru dan diherankan lagi, jika warga di Batam saban waktunya kerap melakukan unjuk rasa terkait permasalahan lahan. Begitulah di Batam, sepertinya kebanyakan mafia lahannya ketimbang luas arealnya. 

Diduga para mafia lahan tersebut, dipelihara oleh para okmun pejabat BP Batam untuk melancarkan aksinya sebagai perpanjangan tangannya dimana jika suatu saat nanti aksinya terkuak, oknum Bp Batam itu, dapat mengelak buang badan alias cuci tangan, dan seperti perasaan tidak berdosa.

Dan ternyata virus permainan lahan di Batam telah menjangkiti  warga di Batam, namun tidak semuanya, biasanya mereka yang bermain itu adalah orang-orang yang memiliki jabatan. Jika tidak memiliki power atau jabatan, jangan harapkan bisa dapat bersinergi dengan para oknum Pejabat BP Batam.

Maka dengan adanya hal seperti itu, Selasa (27/10) pagi, sekitar 500 orang penduduk warga Kabil mendatangi kantor Dprd Batam untuk berorasi menolak pemindahan lokasi pembangunan SMA Negeri 21 yang akan segera dibangun dimana pemindahan yang dilakukan oknum Dprd dari komisi I Batam itu, katanya tampa kordinasi dengan masyarakat setempat yang sudah bersusah payah mendapatkan lahan sekolah tersebut.

Dan paling ekstreem lagi, untuk melancarkan aksinya oknum Dprd itu juga bersekongkol dengan salah satu staf ahli komisi I yang bernama Munir juga mengaku anggota dewan kepada masyarakat disana. dimana pernyataan tersebut dinyatakan oleh warga saat di forum ketika para perwakilan dari warga tengah melakukan pertemuan. 

Dalam pertemuan dengar aspirasi dan tuntutan tersebut terlihat dihadiri oleh ketua komisi I, Nyanyang Hari, Ketua II Dprd Kota Batam Iman Setiawan, Helmy HemiltonTumbur Sihaloho, Li KhaiRuslan M Ali Wasyim Wakil Ketua Komisi I, Udin Sihaloho dan H. Fauzan dari komisi IV.

Dalam pertemuan itu, warga juga membeberkan nama oknum Dprd yang dimaksudnya itu, katanya dalam forum, " Okey kami tidak perlu menyebut oknum lagi, biar lebih jelas, namanya Ruslan M Ali Wasyim, dan yang mengaku-ngaku anggota Dprd itu Munir. " Ucap warga blak-blakan.

Mendengar nama Munir, Pimpinan rapat  menjelaskan bahwa yang bernama Munir tersebut adalah sebagai Staf ahli di komisi I Dprd Kota Batam.

" Munir itu adalah staf ahli di komisi I, setahu kami anggota Dprd di Batam hanya 50 orang bukan 51." Kata Nyanyang Hari dihapan Forum memastikan.

Penjagaan rapat itu terlihat ketat, Kapolsek dari dua daerah seperti Polsek Noungsa, Komisaris Polisi C Bambang Heriyanto, Polsek Batam kota, Komisaris Polisi Arief Budi, juga ikut menyaksikan pertemuan itu. 

Dalam rapat itu warga meminta agar pemindahan lokasi pembangunan sekolah  itu, tidak dilakukan. selain itu warga juga meminta kepada Dewan agar Munir dapat mencabut laporannya dari kepolisian yang telah menuduh mereka telah melakukan perusakan. sebab kata mereka (warga=red) mereka sama sekali tidak melakukan seperti apa yang dituduhkan, alasannya hanya mencabut plang dan tidak merusak apapun.

Namun nendati para perwakilan dari warga sedang melakukan pertemuan, para warga yang masih bertahan diluar gedung masih saja tetap berorasi sambil menyebut-nyebut nama Ruslan M Ali Wasyim dan Munir yang mengaku-ngaku anggota dewan.

Unjuk rasa itu berjalan damai serta dikawal  penjagaan ketat dari pihak kepolisian. setelah pertemuan berakhir dilakukan maka para pendemo mengakhari aksinya.

Selain itu, besok, Rabu (28/10) para warga dan para anggota dewan yang ikut menghadiri petemuan itu, katanya akan melakukan pertemuan lagi untuk menyurpai lokasi pembangunan sekolah yang sudah dibebaskan warga itu.( Ag)

Editor : Agus Budi T