Sunday, 6 September 2015

Ungkap Polisi Thailand: Pelaku bom Bangkok warga negara Turki

Dinamika Kepri - Aparat keamanan akhirnya sebut kewarganegaraan tersangka pelaku ledakan bom Bangkok. Simpati kepada warga Uighur yang alami represi diduga jadi pemicu aksi terorisme.

TERUNGKAP. Aparat keamanan Thailand telah mengidentifikasi pelaku ledakan di Bangkok pada 17 Agustus 2015 yang menewaskan 20 orang. Foto oleh AFP/Pornchai Kittiwongsakul

Nama suku Uighur mengemukan dalam penyelidikan aparat keamanan di Thailand, terkait ledakan bom di Bangkok pada 17 Agustus lalu.

Rabu, 2 September, polisi Thailand menerbitkan perintah penangkapan bagi seorang laki-laki yang diduga berkebangsaan Turki, terkait dengan ledakan bom yang menewaskan 20 orang itu. Diduga aksi peledakan bom dipicu simpati kepada warga Uighur.

Untuk pertama kalinya setelah peristiwa yang menggegerkan Thailand, dan mengguncang ekonomi dan pariwisata di negeri Gajah Putih itu, polisi menyebut kewarganegaraan tersangka.

“Pelaku berkewarganegaraan Turki,” kata juru bicara kepolisian Thailand, Prawut Thavornsiri.

Nama tersangka pelaku adalah Emrah Davutoglu. Warga Turki ini dituduh memiliki “bahan-bahan untuk perang”.

Pekan lalu polisi juga menahan “warga asing” sebagai tersangka pelaku bom Bangkok.

Penyelidikan tentang siapa pelaku dan apa motifnya memang berjalan lambat.

Media lokal mengabarkan bahwa polisi menduga bom Bangkok terkait dengan rivalitas politik yang sengit, atau dilakukan oleh kriminal yang terorganisir, militan Islam, pembangkang di kawasan selatan negeri monarki itu, sampai simpati kepada pengungsi dari suku Uighur dari Tiongkok.

Uighur adalah suku terbesar di provinsi Xinjiang, yang mayoritas beragama Islam. Penduduk Tiongkok yang kini tercatat 1,4 miliar orang mayoritas adalah dari suku Han yang beragama Konghucu dan Buddha. Mayoritas korban tewas di Bangkok adalah turis asal Tiongkok.

Bulan Juli tahun ini, Thailand mendeportasi 109 warga berkebangsaan Uighur ke Tiongkok. Tindakan ini memicu protes ratusan orang di depan kedutaaan Thailand di Istanbul, Turki.

Mereka mengecam tindakan Thailand itu, karena warga Uighur yang dipulangkan dikhawatirkan akan menghadapi penyiksaan dan penindasan saat kembali ke kampung halaman mereka di Xinjiang, Tiongkok. Banyak warga Uighur yang memilih mengungsi ke Turki.

Pemerintah pusat Tiongkok dan pemerintah lokal di Xinjiang tengah mencermati ancaman terorisme yang terjadi di Xinjiang, atau dilakukan oleh warga yang berasal dari Xinjiang.

“Lulusan kami menjadi inti dari penyebaran ajaran agama Islam, yang mengajarkan damai dan semua hal-hal baik. Ini juga acara untuk membendung masuknya gerakan ekstrimis ke anak-anak muda di Xinjiang,” kata Alim Abdulrahman, Wakil Presiden Islamic Institute di Xinjiang, kepada sejumlah jurnalis dari Indonesia dan Malaysia, awal Agustus lalu.

“Kami, di Xinjiang, sebenarnya adalah korban dari aksi terorisme juga,” kata Alim.

Alim berasal dari suku Uighur, suku terbesar di Xinjiang, yang biasanya memeluk agama Islam.

Saat bulan Ramadan tahun ini, di media sosial bertebaran informasi soal larangan bagi warga Muslim di Xinjiang untuk menjalani ibadah puasa. Ini menimbulkan debat dan kritik keras kepada pemerintah Tiongkok.

Otoritas Xinjiang membantah informasi itu. Mereka sebaliknya mengatakan warga Muslim di provinsi yang berbatasan dengan 8 negara itu bebas berpuasa dan menjalankan ibadah.

Baru-baru ini ada 4 orang asli Uighur dipenjara oleh polisi di Indonesia karena ingin bertemu dengan kelompok ekstrim di Indonesia. Mereka dicurigai bergabung dengan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS). —Rappler.com