Wednesday, 23 September 2015

Selain Munir ngaku anggota dewan, Ia Juga mengancam LPM Kabil, Akan dipidanakan

"Dua oknum Anggota Dprd Batam, nyambi jadi Makelar Tanah ?"

Batam, Dinamika Kepri- Dalam pertemuan rapat dengar pendapat (RDP) pihak Lembaga Pemberdayaan masyarakat (LPM) Punggur dengan pihak komisi I Dprd Kota Batam, Rabu siang tadi (23/9), terkuak ternyata berbagai upaya terus dilakukan oleh orang-orang tamak dan serakah untuk mencari keuntungan pribadinya. 

Selain sudah digaji oleh negara, tidak jarang banyak orang yang sudah berpendapatan tetap, selalu ingin mencari pendapatan lebih atau uang masuk untuk memperkaya diri sendiri tampa mememikirkan nasib orang banyak.

Mungkin itulah yang pantas disebutkan kepada orang yang katanya bernana Munir sebagai staf ahli di Dprd kota Batam. Dimana orang itu katanya juga mengaku kepada LPM Punggur, juga seorang anggota dewan.

Diduga pengakuan itu sangat Ekstreem, namun demi mendapatkan Fee dari pengusaha pembeli lahan, yang mana biasanya makelar bisa mendapatkan fee sekitar 1 % sampai 2,5 % dari penjualan lahan, diduga pengakuan itu bukanlah jadi masalah.

Akibatnya, membuat yang bersangkutan ini, diduga tega merampas lahan dengan menyerobot peruntukan pembangunan sekolah SMA Negeri 21 itu untuk pengusaha.

Padahal sekolah itu kabarnya akan segera dibangun dalam waktu dekat ini. dimana murid sekolah itu juga sudah ada, namun kini masih menumpang digedung SD negeri 17 Telaga Punggur, Batam, Kepri.

Lahan seluas 1,7 hektar di Pungggur yang sebelumnya telah dibebaskan dan dimatangkan oleh para penggagas pembangunan sekolah, kata LPM dalam pertemuan itu, kini lahan tersebut telah dikuasai oleh pihak pengusaha. Bahkan Plang papan nama yang sebelumnya di tancapkan oleh pihak LPM di sekitar itu, juga sudah dibongkar pihak mereka.

Melihat adanya perlawanan dari LPM dan tokoh masyarakat setempat atas penyerobotan lahan sekolah itu, membuat makelar tanah itu yang juga katanya melibatkan 2 orang oknum anggota Dprd kota Batam tersebut, jadi berang.

Akhirnya melalui Nikson Sihombing selaku tokoh masyarakat setempat, via ponselnya, katanya Munir mengancam akan mempidanakan LPM karena diduga telah menghalangi rencananya untuk mengusai lahan sekolah itu.

Maka dengan adanya amcaman itu, membuat Tokoh masyarakat dan LPM setempat akhirnya mendatangi Komisi I siang tadi, Tujuannya untuk mempertanyakan pengakuan dari Munir yang menyebut dirinya sebagai anggota Dewan. 

Dalam pertemuan itu, para anggota Dprd komisi I mengaku tidak ada yang bernanma Munir di Komisi I, kata anggota dewan yang hadir dalam pertemuan itu, Munir itu setahu mereka adalah, seorang staf ahli di kantor Dprd Kota Batam.

Terkait adanya beberapa oknum Dprd Batam yang terlibat dalam masalah penyerobotan itu, kepada wartawan usai pertemuan, Nikson Sihombing sepertinya tidak berani membeberkannya siapa nama maupun anisial anggota dewan yang dimaksud, alasannya, jangan dulu, ini demi Etika.

" Oh jangan dulu, nanti saja, ini demi etika, " Kata dia memastikan.

Adanya kesan merahasiakan itu, tidak tahu apa etika yang dimaksudkan oleh Nikson Sihombing, seakan-akan dirinya juga anggota dewan dimana harus menjaga frivasi anggota dewan lainnya.

Namun telusur punya telusur, seorang dari LPM itu membeberkannya, tetapi bukan nama ataupun anisialnya, katanya, kalau kedua anggota Dprd yang dimaksud adalah masih dari anggota komisi I Dprd Kota Batam. 

Usai petemuan, katanya, besok  hari kamis, (24/9), pertemuan itu akan dilakukan kembali. Namun Pihak LPM meminta agar pihak dari komisi I Dprd Kota Batam, dapat menghadirkan Munir yang mana telah mengancam akan mempidanakan LPM. selain itu, mereka juga ingin melihat rupa orang yang mengaku-ngaku anggota dewan tersebut.(Ag)

Editor : Agus Budi T