Monday, 7 September 2015

Hutan resapan air berkurang, Gunung juga diratakan, Akibatnya Batam alami kekeringan

Batam, Dinamika Kepri-  Air bersih makin sulit saja di dapatkan oleh warga Batam. 

Sepertinya warga Batam mulai merasakan dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh penembangan hutan secara bebas, ditambah lagi adanya perataan Gunung dihampir semua tempat  yang ada di Batam, tentunya semua itu terjadi, karena izin dari BP Batam. 

Akibatnya, hutan sebagai resapan air juga terlihat semakin menyempit, bahkan gunung sebagai penahan awan hujan, juga sudah jarang ditemui. contohnya saja seperti gunung di UIB Taman Kota. Padahal sudah jelas kalau gunung itu, sangat berdekatan dengan bendungan air Sei Ladi, namun masih ada saja Pihak oknum pejabat BP Batam, yang mengizinkannya agar gunung itu diratakan.

Diduga, akibat banyaknya aksi dari oknum Pejabat Bp Batam, dan para pegusaha yang melakukan spekulasi bermain dengan lahan di Batam,  membuat seluruh warga Batam harus menerima imbasnya, kini warga harus merasakan kesulitan untuk mendapatkan air bersih akibat dari tindakan mereka yang telah dengan sengaja, menebangi hutan dan meratakan segala gunung yang ada di Batam. 

Saat ini, banyak warga Batam yang telah menggunakan air parit atau air comberan, untuk kebutuhan sehari-harinya.

Selain itu, akibat kekeringan yang terus melanda, akhirnya pasokan air yang di dapat oleh pihak pengelola air bersih di Batam (ATB=red) semakin sedikit, hingga mereka harus memberlakukan buka tutup secara bergantian bergiliran kepada pelanggannya.

Warga Batam juga menilai kalau pelayanan ATB Batam, juga sudah tidak maksimal dimata masyarakat Batam. 

Seperti tertuang di status salah satu warga Batam Di Facebook pada minggu malam, (6/9) yang menyebutkan, "Sudah waktunya ATB ini diaudit BPK dan kepolisian, alasannya jelas karena ATB itu perusahaan yang mengelola dan menyalurkan air bersih ke masyarakat Batam. Landasan auditnya adalah 1. UUD 1945 Bab XIV Pasal 33 ayat 2,3, Dan Undang undang Perlindungan Konsumen no. 8 thn 1999 pasal 4 dan seterusnya." tulisnya.

Himbaunya lagi dalam statusnya facebooknya itu, tulisnya " Mari kita buka mata lebar-lebar untuk melihat siapa ATB ini.....?, Koq seenak perutnya alirkan dan matikan air ke konsumen...?, Terlambat bayar air, seenak perutnya juga bikin hitungan denda tanpa kompromi. Alih-alih perusahaan swasta, apa gak bisa di usut ?, Apa ada dasar kekebalan hukumnya, kayak duta besar dan diplomat ya...?, Menurut saya, seharusnya ATB itu sudah berakhir masa kontraknya, setelah Otorita Batam di bubarkan..... Tidak perlu harus menunggu tahun 2020 ". *(Ag)

Editor : Agus Budi T