Sunday, 27 September 2015

Berlahan dan pasti, BP Batam Putuskan mata pencarian nelayan tradisional masyarakat tempatan

Tampak kapal para nelayan tradisional di ujung Tiban 5 Sekupang, Batam, terlihat hancur tak berharapan, pasrah terima penindasan dari kejamnya zaman yang sedikitpun, tidak memahami mereka.

Batam, Dinamika Kepri- Pesatnya pembangunan disektor pemukiman maupun Perumahan di Batam, membuat lingkungan di Batam menjadi sangat ekstreem, Panas, berdebu dan berkabut. 

Selain rawan longsor, juga telah mengurangi adanya resapan air, hingga membuat semua DAM, Bendungan maupun waduk di Batam kini berangsur mengering. Pasalnya berdampak dari hutan dibabat habis, semua gunung diratakan, pantai direklamasi  dibuat menjadi perumahan, galangan kapal dan pelabuhan.

Pesatnya pembangunan tersebut, membuat stock lahan di Batam semakin menipis, akibatnya hutan Bakau pun, juga tidak luput dari incaran para pengembang.

Melihat peluang itu, para oknum pejabat juga tidak tinggal diam. diduga para oknum pejabat BP Batam tersebut tidak perduli, apakah itu sesuai peruntukan atau tidak, yang pasti bisa memberikan uang Fee bagi mereka untuk memperkaya diri pribadinya masing-masing.

Maraknya reklamasi pantai yang dilakukan para pengembang atas restu dari BP Batam tersebut, ternyata telah menyisahkan kepahitan yang sangat serius bagi para Nelayan tradisioanal masyarakat tempatan. 

Akibatnya, para nelayan di Batam, banyak beralih pekerjaan untuk menghidupi keluarganya. Perahu-perahu mereka dibiarkan terlantar begitu saja, hancur diterpa kerasnya ombak, seperti tampak gambar diatas.

Kendati banyak seruan dari masyarakat Batam, agar BP Batam dibubarkan, sampai saat ini itu belum terlaksana. Sepertinya BP Batam tebal muka hingga tidak mengindahkannya. ditambah lagi situasi pemerintahaan saat ini, dimana penegasan hukumnya terkesan sangat labil. tentunya membuat Para oknum Pejabat BP Batam bebas mengembangkan sayapnya.

Lahan-lahan banyak dialih fungsikan, ROW jalan jadi angkringan. selain itu ROW jalan juga ada yang dibangun Hotel seperti disekitasaran Nagoya. Dan yang paling tidak masuk akal, pemilik hotel itu, dapat mengantongi IMB nya, dimana IMB tersebut dikeluarkan oleh Pemko Batam. Kesannya seperti ada udang dibalik batu.

Selain itu, banyak asumsi masyarakat Batam yang mengatakan, bahwa mafia lahan juga sangat berperan aktif dalam alih fungsi lahan di Batam. terkait hal itu, awak media ini juga pernah mempertanyakan hal tersebut kepada Humas BP Batam, Purnomo Andiangtono beberapa waktu yang lalu. Namun ia memastikan, kalau di BP Batam, tidak ada ada mafia lahan seperti yang dimaksudkan. (klik baca beritanya).

Menanggapi banyaknya rumor yang mengatakan bahwa BP Batam tempatnya sarang para Mafia lahan di Batam, kepada wartawan media ini (14/6),Purnomo Andiantono selaku Direktur Promosi dan Humas BP Batam, ketika diconfirmasi, Ia mengatakan, itu tidak benar.

" Itu tidak benar, BP Kawasan menjalankan tugas  sesuai prosedurnya, tidak ada Mafia lahan seperti yang dimaksudkan, jika memang ada pelanggaran yang ditemukan, sebaik lansung saja dilaporkan kepengadilan. " Kata dia kala itu.


Selain itu juga, sebelumnya Gubernur Kepri HM Sani pada Tanggal 8/3/2015 lalu,meminta,agar aparat penegak hukum  tidak perlu takut memproses para mafia lahan, termasuk pejabat pemerintah yang memiliki kewenangan untuk mengalokasikan lahan,tetap akan diproses secara hukum jika ada pejabat yang dimaksud terlibat dalam permainan kotor itu.

Bahkan Sani menjawab,terkait maraknya kongkalingkong pengalokasian lahan di Batam kini telah menyebabkan semrawutnya tata ruang Kota Batam.

“Kita harapkan tidak ada mafia lahan di Batam. Nanti kita adakan pertemuan dengan instansi terkait lainnya agar hal ini tidak terjadi lagi,” ujar Sani Minggu (8/3/2015)lalu.


Namun apapun jawab, dan kata mereka itu, tentulah tidak berarti yang bermakna bagi mereka (Masyarakat tempatan=red) yang telah merasakan dampaknya, dan yang pasti, masyarakat awamlah yang selalu menjadi korbannya.

Seperti terlihat pada gambar diatas, 2 perahu seperti tidak bertuan ditinggalkan begitu saja, seakan tidak menunjukkan adanya masa depan jika sang pemilik perahu tersebut harus menggantungkan nasib hidup keluarganya diatas perahu.(Ag)

Editor : Agus Budi T