Thursday, 17 September 2015

Belum ada kompensasi dengan warga sepadan, BTS Kontraversi di Perumahaan Indomas, Ternyata dapat aktif juga






















Batam, Dinamika Kepri - Selama bertahun tahun sejak  2013, warga   Komplek Putra Jaya Tanjung Uncang terus memperjuangkan hak mereka sebagai warga. bahkan sebagian dari mereka sebelumnya berusaha ingin membongkar sendiri Tiang BTS itu . dimana niat itu terjadi disebabkan pemilik Tower BTS milik salah satu perusahaan swasta itu, dianggap tidak peduli dengan mereka.

Adapun informasi yang diterima media ini  mengatakan, kompensasi yang diberikan oleh Perusahaan tidak tepat sasaran salah penerima. dimana orang atau warga sepedan tidak menerimanya.

Terkait sudah aktifnya menara BTS tersebut, kamis 17/9, awak media ini mencoba mengonfirmasinya kepada salah seorang warga sepadan itu. katanya belum ada menerima kompensasi apapun dari pihak perusahaan.

" Belum ada kompensasinya, saya juga tidak tahu kalau tower itu sudah aktif" . kata Ibu Mutiara 

Adanya hak kompensasi warga yang belum disampaikan pihak perusahaan itu, menunjukan bahwa penegakan hukum di indonesia semakin tidak jelas. para pengusaha saat ini tidak memakai prosedur lagi. semua dilakukannya dengan extreem tampa menghiraukan masyarakat yang mengena akibat dampak perlakuannya.

Selain pihak pemerintah kota Batam kerap berpangku tangan, lengkaplah sudah penderitaan masyarakatnya. sebab akibat adanya menara tower di atas bangunan lantai 3 itu, sebagian warga memilih meninggalkan tempat tinggalnya dengan beralasan karena takut sambaran dari petir dan bencana akan tumbangnya Tower tersebut.

Kendati masalah ini sudah sampai di hearingkan di Dprd Kota Batam pada tahun 2014 lalu, hasilnya nihil. bahkan yang paling menggelitik lagi. kata warga sepadan, ada beberapa pihak yang kecipratan mendapat upeti dari pihak perusahaan yang mendirikan menara BTS itu.

Dengan adanya permasalahan menara itu. kesannya, ada pihak-pihak berkesempatan dan menari-nari diatas penderitaan orang lain. akibatnya mereka lebih memilih diam dan tutup mata ketimbang harus membelah haknya masyarakat. (Ag)

Editor : Agus Budi T