Saturday, 29 August 2015

Walau Harga Minyak Dunia Turun, Harga Minyak di Indonesia, Tetap bertahan

Jakarta, Dinamika Kepri - Harga minyak dunia nampaknya sedang anjlok. Masyarakat pun mendesak Pemerintah supaya segera menurunkan harga Bahan Bakar Minyak  (BBM) penugasan dan bersubsidi.

Namun Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memilih untuk mempertahankan harga jual premium, solar, dan minyak tanah pada periode penjualan 1-30 September 2015.

Menteri ESDM, Sudirman Said tidak mengubah harga tiga jenis BBM yang dijual di PT Pertamina (Persero) tersebut. Untuk harga Premium RON di wilayah penugasan luar Jawa Madura bali dilepas pada angka Rp 7.300 per liter. Untuk harga solar Rp 6.900 per liter, sedangkan harga minyak tanah Rp 2.500 per liter.

Sudirman juga menuturkan akan terus mengamati perkembangan harga minyak dunia dan kondisi perekonomian tanah air saat ini. Penetapan harga mulai buan depan akan dilakukan usai menyelesaikan perhitungan harga jual eceran BBM selama 24 Juli sampai 24 Agustus 2015.

Tak hanya itu, Menteri ESDM juga akan melakukan simulasi alternative periode perhitungan harga BBM yaitu tiga, empat, sampai enam bulan.

Harga jual eceran BBM secara umum tidak naik. Hal ini didasari oleh hasil perhitungan rata-rata harga minyak bumi yang sedang ada indicator penurunan. Yang merupakan dampak perlambatan ekonomi dunia dan silumasi yang tengah dilakukan.

Sudirman yang merupakan mantan direktur PT Pindad (Persero) mengaku untuk menetapkan harga harus berkoordinasi dengan Pertamina. Menteri ESDM juga berupaya mengedepankan kondisi sosia ekonomi masyarakat.

Seorang pakar ekonom Universitas Indonesia, faisal Basri mempertanyakan kebijakan Pemerintah yang sudah cukup lama mempertahankan harga BBM. Padahal diketahui harga minyak dunia sedang turun.

Di tengah kondisi ekonomi yang tak menentu ini, harusnya Pemerintah melakukan sesuatu agar daya beli masyarakat tetap dan menjaga bagaimana inflasi terkendali di level rendah.

Menurut Faisal, langkah pertama yang harus dilakukan saat ini adalah menurunkan harga BBM bersubsidi dan mengamati penetapan harga BBM tak bersubsidi.

Sehingga sesuai dengan aturan terdapat margin keuntungan maksimum 10 persen. Hal ini merupakan bentuk stimulus nyata bagi rakyat banyak.

Via : smeaker.com