Monday, 31 August 2015

Cemari lingkungan, Puluhan Warga Dari 3 Perumahan Di Kabil, Geruduk PT.Ecogreen Oleochemicals


Batam, Dinamika Kepri- Sepertinya kekesalan para warga dari 3 perumahan yang ada di Kabil tidak bisa dibendung lagi, selain pihak perusahaan yang dianggap seakan tidak perduli dengan nasib kesehatan mereka, mereka juga menuding kalau Badan penanggulangan Dampak lingkungan Daerah (Bapedalda) Kota Batam seperti tidak berfungsi lagi.

Minggu, (30/8) siang, terlihat sebanyak puluhan orang mendatangi tengah perusahaan Ecogreen Oleochemicals. puluhan orang itu diterima masuk namun hanya disekitar pos sikuriti saja.

Kedatangan puluhan warga itu, disambut oleh Humas perusahaan yaitu, pak Bambang. kepada Bambang, warga meminta agar cerobong yang sudah bocor selama 1 bulan itu, dapat segera dihentikan aktivitasnya, sebab kebocoran itu katanya, sudah menggangu kenyamanan dan kesehatan para penduduk yang bermukim di 3 perumahan yang ada disekitar perusahaan.

Katanya mereka tidak tahan lagi, sebab  semua perabot, pekarangan, dan rumah mereka, telah tercemari limbah perusahaan itu, limbah seperti debu itu telah mengotori, bahkan akibat itu, anak-anak disekitar di 3 perumahaan tersebut, katanya banyak yang telah menderita penyakit batuk-batukan karena ulah dari perusahaan PT.Ecogreen Oleochemicals yang dinilai tidak cepat tanggap dalam hal tersebut.

Terkait adanya kebocoran dari salah satu intilasi sisa asap pembakaran Batu bara  yang sudah  1 bulan terjadi itu. katanya, 2 minggu lalu telah melaporkan kejadian itu ke pihak Bapedalda kota Batam, namun tidak ada tanggapan sama sekali. kata mereka, sepertinya percuma dilaporkan ke Bapedalda, karena sampai saat ini tidak ada hasilnya, dilaporkanpun seperti tidak ada gunanya. kesannya seperti di diamkan. kata mereka menjelaskan keluh kesalnya kepada media.

Kata seorang salah satu dari mereka mengatakan, katanya mereka juga tidak habis pikir mengapa pihak Bapedalda kota Batam tidak dapat menanggapinya, mengapa dapat didiamkan. 

" Dampak lingkungan yang diakibatkan dari produksi dari PT Ecogreen itu namanya 'Play Ash', itu adalah nama limbah dari sisa pembakaran batu bara itu. dan limbah itulah yang telah mencemari pemukiman kami hingga saat ini. bahkan kami sudah melaporkannya, namun kami tidak mengetahui mengapa dapt didiamkan oleh pihak bapedalda Kota Batam. Padahal sudah 1 bulan ini akitivitas pencemaran itu terjadi. Namun tidak ada tindakan atau perhatian apapun di pemerintah Kota Batam, mengenai hal ini." Ucap orang itu.

Selain itu, keberadaan pemukiman mereka yang berdekatan dengan areal indutri, juga tengah menjadi pertanyaan di benak hati mereka masing-masing, harapnya itu bisa segera diusut sampai tuntas, sebab mereka menilai sangat tidak logika jika pemukiman dapat berdekatan dengan areal perindustrian. 

" Bahkan yang lebih parah lagi, kami sebagai warga sangat mempertanyakan, siapakah oknum BP Batam yang telah berani memberikan izin membangun perumahan dibangun diareal  industri . kami  juga sangat mengharapkan agar kasus ini segera di usut tuntas, ini terkesan telah adanya alih fungsi. kalau kami sendiri sebagai masyarakat, ya tahunya ada barang kami beli, maksudnya ada rumah kami beli. Jelas kalau seperti ini modelnya, ini sama saja, mau membunuh masyarakat dengan berlahan. dan yang menjadi pertanyaan, dari mana pula ada rumusnya pemukiman bisa dibangun atas dilokasi industri, mestinya ada pihak-pihak yang wajib mempertanyakan masalah ini." Kata dia.

Terkait pencemaran lingkungan, katanya mereka sudah pernah melayangkan surat dan itu mendapatkan tanggapan dari pihak perusahaan.

" Kami juga sudah pernah melayangkan surat agar diperhatikan, kendati pihak perusahaan pernah datang untuk meninjau kepemukiman warga, Namun tetap saja limbah sisa pembakaran itu, masih tetap beterbangan kepemukiman yang ada disekitar, seperti ke perumahan Jasinta tahap 1, tahap2, dan ke perumahan Armendo Raya. terkait hal ini, kemana saja pihak Bapedalda Kota Batam, dimana pengawasannya?,'' Kata dia lagi.


Setelah melakukan perundingan antara warga  dengan pihak perusahaan, sorenya puluhan warga itu lalu pergi meninggalkan perusahaan, walau sudah ada perbincangan antara mereka dengan pihak perusahaan, terlihat kalau dari sebahagian warga yang mendatangi perusahaan itu, ada yang tidak puas dengan hasil pertemuan.(Ag)

Editor : Agus Budi T