Thursday, 20 August 2015

Tabir gelap di SMAN 4 Batam, Berlahan mulai terkuak

Batam, Dinamika Kepri-Telusur punya telusur, ternyata di SMAN 4 Batam, sepertinya  banyak masalah yang tersimpan rapi di Lingkungan Interen sekolah, dimana saat ini masalah-masalah yang diduga tersimpan rapi itu, berlahan mulai terbuka tabirnya.

Sebelumnya tersiar isu kabar yang menyebutkan, kalau ada oknum dari pihak oknum guru di SMAN 4 Batam, yang katanya telah melakukan pungli bermoduskan Uang pembangunan sebanyak Rp 1.500.000 untuk permurid barunya.Namun Kabar kebenaran isu yang menyudutkan itu, ditampik keras oleh kepala sekolahnya, katanya itu tidak benar. 

" Di SMAN 4 tidak ada pungutan uang pembangunan." Terang Tapi Winanti kepada awak media ini beberapa waktu lalu. 

Saat ini kabar baru timbul lagi, Siang tadi ,Kamis (20/8),Wartawan ini telah mengendus informasi yang menyatakan, kalau pembangunan 2 Ruang kelas yang sudah selesai dibangun pada 2 tahun lalu, ternyata  telah menyisahkan kisah pahit bagi kontraktor yang sudah mengerjakannya.

Pasalnya, kontraktor yang kini telah diabaikan itu, terlihat hanya bisa berserah dan pasrah diri dengan kerugian yang ia alami, pasalnya sampai saat ini biaya untuk menimbun jalan akses masuk dengan membeli material batu dan pasir kala itu. katanya belum dibayarkan oleh pihak sekolah.

Melalui orang dekat kontraktor menuturkan, kalau mereka telah mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah. 

Kendati sudah 2 tahun berlalu sejak itu, sampai saat ini katanya pihak sekolah SMAN 4 Batam belum juga dapat membayarkannya, terkesan seperti dilupakan.

Terkait kebenaran informasi itu, awak media ini juga mencoba memastikannya benar tidaknya informasi tersebut kepada kepala sekolah melalui Ibu Diah selaku sekretaris sekolah di SMAN 4 tersebut.

Kepada wartawan ini, melalui pesan singkat dari ponsel Celularnya, Sekretaris itu menjawab,kalau itu tidak benar.

" Itu tidak benar ", Balas sekretaris sekolah itu memastikan,pada Kamis (20/8), kepada awak media ini. 

Kini pembangunan penambahan 2 ruang kelas baru telah dilakukan lagi dengan kontraktor orang yang berbeda, padahal perhitungan biaya pembangunan 2 ruang yang lama dengan kontraktor sebelumnya itu, sampai saat ini belum terealisasi sepenuhnya.

Ketika awak media ini menanyakan, mengapa pihak kontraktor lama itu tidak menuntut haknya, Raja Napitulu selaku kontraktor sebelumnya itu mengatakan, biarkan saja.

“ Udahlah ..biarkan saja”, Jawab dia seperti nada mengalah, kepada wartawan ini.

Ternyata,  selain pihak sekolah SMAN 4 tidak perduli terhadap haknya orang lain, pembangunan penambahan 2 ruang kelas baru yang menyimpan  kontraversi itu, terkesan seperti proyek Nepotisme. Pasalnya pembangunan dilingkungan sekolah itu, ternyata dikerjakan masih satu kerabat dengan salah guru seorang yang mengajar disana. 

Pembangunan  penambahan 2 ruang kelas tahap pertama dan tahap kedua itu, diketahui ternyata juga masih satu kerabat.

Pantauan dilapangan, penambahan 2 ruang kelas di SMAN 4 Batam itu, tidak ada papan besteknya, dan setelah hal itu diconfirmasi wartawan ini sebelumnya kepada kepala sekolahnya, Dra,Hj Tapi Winanti. Kepsek itu menjawab, tidak perlu ada besteknya, sebab pembangunan penambahan 2 ruang kelas itu, adalah biaya dari dirinya.

Namun yang jadi pertanyaan dan telah membingungkan saat ini adalah,  mengapa kewajiban sekolah  yang hanya berjumlah puluhan juta saja, bisa tertunggak ada kesan seperti di asinkan, Padahal anggaran pembangunan itu sebelumnya,adalah dana anggrannya dari pemerintah.

Selain itu, Kata  kepala sekolah itu beberapa waktu lalu  kepada wartawan ini mengatakan, kalau dirinya sangat peduli dengan keadaan murid-muridnya yang terlantar belajar, sanking pedulinya, Kepsek SMAN 4 Batam itu, Katanya rela menyumbangkan uang dari Setifikasinya untuk menambah 2 ruang kelas baru di sekolah itu.

Padahal biayanya terhitung tidak sedikit, jika diakumulasikan biayanya kurang lebih bisa mencapai hingga Rp 260 juta. dimana jumlah perhitungan itu berdasarkan dari biaya pembangunan 2 ruang kelas ditahap pertama yang sudah selesai. seperti yang sudah pernah diungkapkan oleh kontraktor yang pertama, dimana Ia kontraktor yang pertama itu mengatakan bahwa pembangunan 2 ruang kelas sebelumnya, telah menelan biaya Rp 260 juta.

Ucap Kepsek itu, katanya Ia rela mendahulukan biaya pembangunan sekolah, padahal sekolah itu milik pemerintah. jika itu benar adanya seperti ucapannya, tentunya sikap kepsek tersebut, patut di contoh oleh para guru kepala sekolah dimanapun berada diseluruh indonesia. sebab jarang-jarang saat ini ada Guru kepala sekolah yang berhati mulia seperti Kepsek SMAN 4 Batam itu.

Namun yang menjadi pertanyaan dikalangan media saat ini, jika itu memang benar  masih ada tunggakan dengan kontraktor yang lama, mengapa tunggakan yang hanya berjumlah puluhan juta saja, bisa diabaikan, dan tidak berani mendahulukannya.(Ag)

Editor : Agus Budi