Thursday, 25 June 2015

Ketahui tips agar anak tidak alami penyakit ketakutan (Phobia)

Dinamika Kepri- Tidak jarang,jika seorang ibu biasanya tidak sabar melihat prilaku sang anak batitanya,jika melihat sering rewel,makannya tidak lahap atau melakukan hal-hal yang lain.maka untuk menenangkan sianak,secara tidak sengaja si Ibu sering mengatakan, 

"Nanti disuntik Bu Dokter, loh, kalau makannya nggak habis!"
"Nanti Mama bilangin Pak Satpam, ya!."

Anda tak ingin anak phobia dengan dokter, kan? Karena itu cara mengatasinya adalah dengan mengizinkan anak membawa benda atau mainan kesayangannya saat datang ke dokter, sehingga ia merasa aman dan nyaman. Di rumah, orangtua bisa membantunya dengan menyediakan mainan berupa perangkat dokter-dokteran. Biarkan anak menjalani peran dokter dengan boneka sebagai pasiennya.

Secara berkala, ajak anak ke dokter gigi untuk menjaga kesehatan giginya. Tak ada salahnya juga mengajak dia saat orangtua atau kakak atau adiknya berobat gigi. Dengan begitu anak memeroleh informasi bagaimana dan ke mana ia harus pergi untuk menjaga kesehatan giginya. Lambat laun ketakutannya pada sosok dokter justru berganti menjadi kekaguman.

Phobia gelap

Takut pada gelap bisa juga karena anak pernah dihukum dengan dikurung di ruang gelap. Bila pengalaman pahit itu begitu membekas, bukan tidak mungkin rasa takutnya akan menetap sampai usia dewasa. Semisal keluar keringat dingin atau malah jadi sesak napas setiap kali berada di ruang gelap, atau menjerit-jerit kala listrik mendadak padam.

Agar anak tak mengalami hal itu, Anda harus mengatasinya dengan cara saat tidur malam jangan biarkan kamarnya dalam keadaan gelap gulita. Paling tidak, biarkan lampu tidur yang redup tetap menyala. Cara lain, biarkan boneka atau benda kesayangannya tetap menemaninya, seolah bertindak sebagai penjaganya hingga anak tak perlu takut.

Phobia masuk sekolah (Scolionophobia)

Bukan soal mudah melepas anak usia batita masuk playgroup. Sebab, ia harus beradaptasi dengan lingkungan barunya. Padahal, tak semua anak dapat dengan mudah beradaptasi. Dari pihak orangtua, tidak sedikit pula yang justru tak rela melepas anaknya “sekolah” karena khawatir anaknya terjatuh kala bermain atau didorong temannya.

Untuk mengatasi hal itu, maka Anda harus membiarkan anak menikmati dunia bermain yang sangat indah baginya. Oleh karena itu, dalam proses mendidik anak itu juga harus dilakukan secara bermain dengan santai dan akrab. Jangan mendidik anak-anak secara formal, sebab itu bisa bertentangan dengan perkembangan perilaku kecerdasan anak.

Pada dasarnya semua anak itu adalah cerdas. Jika anak tidak pandai matematika tidak bisa dikatakan bodoh, tetapi ia cerdas di bidang lain seperti bermain musik karena memang potensi unggulnya di bidang itu. Dan ini bisa kita lihat mereka yang sukses itu adalah orang-orang yang cerdas di bidangnya masing-masing.

Jadi sebenarnya anak itu bukan tidak cerdas, tetapi karena sistem pendidikan yang keliru kemudian berakibat pada school phobia pada anak-anak.

Orangtua pun tetap perlu mengantar anak ke sekolah karena ini menyangkut soal pembiasaan. Kalaupun di hari-hari berikutnya ada sekolah-sekolah yang bersikap tegas hanya membolehkan orang tua menunggu di luar, sampaikan informasi ini pada anak. Guru pun harus bisa menarik perhatian anak agar tidak terfokus pada ketiadaan pendampingan orangtuanya dengan bermain. Saat asyik bermain dengan teman-temannya niscaya ia akan lupa.(int)


Editor :Agus Budi T