Monday, 4 May 2015

Rustam: " Itu bukan perumahan kemenpera, Tetapi swadaya"

Batam,Dinamika Kepri - Program kesejahteraan rakyat yang digagas Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) tak berjalan lancar di Batam, Kepulauan Riau (Kepri),selain tidak lancar,Rumah murah gagasan kemenpera itu juga tengah berubah status menjadi Swadaya. 

Kabar yang mengejutkan,ternyata  rumah hibah tipe 21 yang kini telah dihuni puluhan warga di komplek kamboja dapur 12 Sagulung Double itu, menurut Rustam (3/5),yang diketahui dahulunya selaku pimpinan proyek pembangunan perumahan tersebut,kepada wartawan ini,mengatakan kalau rumah murah itu, bukan dari kemenpera melainkan dari swadaya.

"Itu bukan dari kemenpera,itu swadaya,anggarannya juga dari swadaya,kemenpera hanya mempasilitasi saja,makanya di KPR kan." Ucap dia Via celularnya.

Menurut Rustam Efendi,project officer tim pelaksana kala itu,mengaku kalau saat ini sebagian rumah tipe 21 itu,telah di KPR kan.

"Sebagian sudah di KPR kan." Ucapnya lagi.

Terkait pernyataan Rustam yang mengatakan kalau rumah murah itu bukan dari kemenpera,di benarkan oleh Ir.Tato Wahyu selaku pejabat BP Batam bidang Dirkimli dan Agro bisnis .

"Itu bukan dari Kemenpera,cuma 2 rumah dari kemenpera,selebihnya dari swasta,kemenpera hanya mempalisitasi saja." Terang Tato Wahyu (4/5) via ponselnya.

Romantika rumah murah yang konon katanya di bangun oleh kementerian perumahan rakyat(kemenpera) pada 7 tahun lalu itu,kini tengah menjadi sorotan media di seluruh Batam,pasalnya sampai saat ini sebagian warga yang mendiami rumah itu banyak yang merasa tidak nyaman.

Sebelumnya, Humas BP Batam,Dwi Joko Wiwoho,kepada awak media ini juga mengatakan,kalau BP Batam hanya mengalokasi lahan saja.

Kata Rustam dan Tato Wahyu kalau perumahan itu di bangun oleh swadaya atau Swasta,namun layak dipertanyakan siapa-siapa saja pihak swasta yang dimaksud tersebut.

Kenapa layak dipertanyakan,sebab Kondisi infrastruktur perumahan sebelumnya sangat ninim dan memprihatinkan,jalan,drenaise tidak di benahi,begitu juga jaringan air ketika ditempati warga sama sekali belum ada,namun kini sudah terpasang alias warga bayar sendiri.

Selain itu,warga juga  menilai bahwa proyek bernilai miliaran rupiah itu tidak tepat sasaran atau gagal proyek. 

Informasi yang beredar menyebutkan, proyek tersebut merencanakan akan membangun sebanyak 3.000 unit rumah sangat sederhana untuk warga kurang mampu yang belum memiliki rumah. Namun kenyataannya yang terealisasi, hanya 85 unit di enam blok saja.


Editor : Agus Budi T