Thursday, 21 May 2015

Katanya, Korban KDRT Kena Intervensi Dari Oknum Kejaksaan Batam

Batam ,Dinamika Kepri – Kemarin  pada rabu (20/5), Sri Wahyuni Lidia yaitu korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan oleh suaminya yang berkewarga Negaraan Singapura yang beranisial MR pada 9 bulan lalu telah menjalani sidang perdananya.

Walau begitu sidang tidak berjalan seperti yang diharapkan,korban dikeluarkan dari sidang karena tidak mau melepaskan tas bawaannya di waktu hendak sidang,akhirnya sidangpun tertunda jelas korban,bahkan ibu korban katanya sempat berteriak diruang sidang,melihat itu maka sidang pun dibatalkan.Sedangkan pelaku KDRT sendiri kata korban ,juga hadir saat itu.

Pihak keluarga  juga  menilai kalau  proses hukum yang mereka harapkan terkesan lambat serta penuh intervensi dari pihak kejari Batam ,sebab  untuk panggilan sidang pertama itu, keluarga korban menilai Oknum jaksa sangat tidak beritika,dimana ucap mereka,surat panggilan sidang diantar pada jam 11 malam bahkan oknum Jaksa Kejari Batam kata keluarga sempat meremehkan mereka dengan memberikan sejumlah uang sebanyak Rp 50 ribu untuk ongkos mengikuti sidang,selain itu ,oknum jaksa yang dimaksud keluarga, juga berjanji akan mengirimkan mobil Fuso untuk mengangkut mereka untuk mengikuti sidang.

Katanya Prosesnya lambat, padahal pelaporan KDRT itu sudah dilaporkan korban dari sejak  6/8/2014 lalu, laporan tentang KDRT  bernomor  LP-B/922/VII/2014/Kepri/SPK-Polresta Barelang ini  menurut keluarga baru di proses setelah mereka (keluarga=red)menyampaikan hal itu ke Mabes Polri.

Kata Ibu korban,keterlambatan proses hukum  yang mereka harapkan itu sebenarnya sudah mereka ketahui sebelumnya,mereka menduga dan mengetahui kalau suami korban anisial MR itu banyak uang.

" Sebenarnya kami dah tahu kenapa kasus ini lama di proses.mungkin karena pelaku banyak uang,orang Singapura lagi,kan Dollar uangnya,makanya kami tak terima dan melaporkan hingga ke Mabes Polri." Ucap Ibu Mega (ibu korban) menuturkan.


Editor : Agus Budi T.