Friday, 22 May 2015

Di Indonesia Dipukulin,Di Singapura Aku Jadi Pelacur di Buat Suamiku

Batam,Dinamika Kepri -Kisah Nyata,Kisah ini ditulis berdasarkan kisah nyata dari seorang wanita,yaitu wanita korban dari kekerasan dalam rumah tangga yang dialaminya di dua Negara,bahkan narasumber juga mengatakan tidak keberatan jika nama aslinya juga di tulis lengkap di dalam kisahnya ini.

Namun demi Hak  dan privasinya,awak media ini hanya mencantumkan Nama anisial saja,kata narasumber mengatakan, Ia tidak keberatan,jika namanya ditulis lengkap,katanya,biar lebih jelas tidak ada yang ditutup-tutupi ,Namun itu tidak kami lakukan,demi melindungi hak privasinya,inilah kisahnya.

Kenalkan namaku anisial SW,saya kelahiran Solok,Sumatera Barat 31 tahun lalu,saya wanita yang sederhana,menurutku, penampilanku biasa saja ,polos alami apa adanya,kulitku putih namun rupaku juga  sedikit menawan,dahulu aku sekolah di Jakarta yaitu disalah satu pesantren,setelah beranjak kelas 2 SMA aku ke kembali Tanjung Pinang untuk menemui ibuku,disanalah  semua kisah awal romantika pahit ini dimulai.

Di Tanjung Pinang,Ibuku dahulunya memiliki warung jualan rokok kecil-kecilan,disinilah awal pertemuanku dengan suamiku yang telah menyengsarakan kehidupanku.

Sebut saja anisial namanya MR (70),MR ini berkewarga Negara Singapura keturunan India,namun ia tidak mau dikatakan orang India atau kerap di sebut India mamak.

dahulu sebelum kenal denganku,MR sering berbelanja ke warung kami,karena sering melihatku,pria yang lebih tua 40 tahun dariku itu,sepertinya ia menaruh hati kepadaku,ia sering menemuiku,Ia ingin mengambil hatiku,berbagai cara ia lakukan,untuk memastikanku ia juga mengiming-imingi aku,rumah,mobil dan uang yang banyak jika aku mau menikah dengannya.

Tetapi aku tidak begitu tertarik untuk mengambil keputusan untuk menikah dengannya,ibuku juga telah mengetahui hal itu,namun ibu mendukung saja,sebab saat itu ibu melihat MR terlihat seperti orang baik,namun aku tidak tahu kenapa mau menikah dengannya,akupun mengiyakan niat MR untuk menikahi saya,pikirku saat itu,aku ingin mengubah taraf hidup keluarga kami,apalagi dia orang Singapura. pikirku kala itu.aku ingin mengharap untung ternyata jadi buntung.

Akhirnya aku mengiyakan niatnya untuk menikahiku,kami menikah di Solok di tempat kelahiranku,semua berjalan baik tampa ada sesuatu yang janggal kala itu.

Seiring berjalannya waktu,pernikahan kami berjalan sebagaimana seperti keluarga seutuhnya,setelah kelahiran anak ke-3 ku darinya,aku diajaknya jalan-jalan kenegaranya katanya untuk memperkenalkan diriku pada sanak keluarganya,tetapi apa yang kudapat,apa ia katakan tidak ada,aku malah dijualnya dan di jadikan dipelacur di sana.

Pertamanya aku dia ajak berjalan-jalan mengitari suasana kota Singapura.lalu kami terhenti di suatu tempat keramaian,setelah itu ia pamit padaku,katanya mau membeli makanan kesuatu tempat,ia meninggalkan aku sendiri ditempat yang tidak kuketahui apa nama tempat itu.

Aku sedikit cemas,sebab suamiku tak kunjung datang menemuiku,bagaimanapun aku takut sebab itu bukan negaraku,selain itu,semua surat dokumen seperti Pasporku ada pada suamiku.

Sekian lama menunggu,Ia tak juga datang,melihatku sendiri ,akhirnya ada polisi Singapura yang datang menghampiriku,polisi itu seperti ingin menakut-nakuti,katanya dia akan menangkapku,aku memohon jangan,alasanku karena aku, lagi menunggu suamiku.

Setelah kutunggu-tunggu,akhirnya aku menyerah,kulihat banyak juga apek-apek yang datang kepadaku.selain itu polisi itu juga semakin bernafsu padaku.aku seperti tidak berdaya,pikirku dari pada aku ditangkap,akupun menyanggupi kemauan polisi itu,aku dibawanya ke suatu tempat,akupun disetubuhi oleh polisi itu.

Tidak sampai disitu,setelah polisi itu puas melampiaskan hasrat berahinya padaku,ia pergi begitu saja,setelah aku keluar dari bilik,ternyata sudah ada apek-apek lain yang telah menunggu antrian untuk meniduriku.

Aku terkejut bukan kepalang,sebenarnya apa yang telah berlaku padaku pikirku saat itu,namun rasa ketakukatan masih saja menhantuiku,aku takut ditangkap karena aku tidak mengantongi pasporku,aku hanya pasrah dengan keadaanku,berkali-kali aku ditiduri pria malam itu,namun tidak ada yang memberikan apapun pada diriku.aku jadi berpikir dan curiga,pikirku,kalaupun aku telah menjadi seorang pelacur,pastilah ada yang kuterima(bayaran=red),tetapi ini tidak,aku bingung,air mataku menetes hatiku merintih pedih,aku bertanya,kenapa aku bisa seperti ini.

Malam itu,tak terhitung berapa kali aku telah ditiduri para pria hidung belang,aku seperti tidak sadarkan diri,semua badan sendi-sendi tulangku terasa sakit.

Ternyata setelah kucari tahu,rupanya suamiku itu telah menjual aku dan menjadikanku pelacur malam itu,namun aku tak bisa berbuat apa,bahkan sebelum aku menanyakannya,ia sudah terlebih dahulu mengacam saya,saya di tendang dan kadang dipukulin.namun aku tidak bisa berbuat apa-apa,aku tak berdaya.sepertinya aku bukan lagi istrinya,melainkan telah menjadi mesin uangnya.

Selama masa visaku pasporku masih hidup,setiap malamnya aku dipaksanya jadi pelacur di ,semua uang hasilnya melacurku di foya-foyakannya bersama teman-temannya,selain menjadikan aku jadi pelacur,ia juga memiliki bisnis jual rokok perbatang,dimana rokok itu rokok indonesia yang dilarang beredar disana.selain itu Ia juga menjual Dadah (ganja) kepada teman-temanya di Singapura.

Aku selalu berdoa agar visaku cepat habis,karena setelah masa visaku habis,aku dipulangkannya ke indonesia,Ia juga memberikan uang yang tidak sepantasnya kepada saya,sesampai dirumah,ibu selalu curiga dengan kondisi fisiku yang lemah dan pusat pasi.tetapi ibu tidak berani menanyakan padaku,sebab ibu tahu persis etika berumah tangga,makanya ibu tidak mau mencampuri urusan rumah tanggaku.

Aku melacur sampai aku melahirkan anak keempatku,dan kalau aku tidak mau ke Singapura,suamiku itu akan marah,bahkan ia akan datang menjemputku,selain itu dia juga akan mengancamku akan menculik anakku padahal itu anak dia juga.bahkan anak yang ke 4 itu tidak diakuinya kalau itu adalah anaknya,katanya itu anak dari orang lain,setiap aku hamil,Ia selalu mengatakan begitu,saat ini aku telah memilki 6 orang anak darinya,namun semua di terlantarkannya.

Aku tidak tahan lagi,aku menceritakan semua kebejatan suamiku pada ibuku,Ibuku hanya bisa menangis meratapi nasibku.ibu juga mengatakan agar aku bercerai darinya.

Sudah 4 tahun ini kami tidak lagi bersama,menurut hukum syariat Islam kami ini sudah bercerai,bahkan ia juga sudah pernah menyatakan talak sampai 3 kali,Ia pernah memohon pada ibuku agar rumah tangga kami terajut lagi,mantan suamiku itu juga akan memberikan sejumlah uang  20.000 dolar Singapura sebagai ganti ruginya.namun ibu tetap menolak,alasan ibu kalau kami sudah bercerai,tetapi mantan suamiku tetap itu ngotot agar aku kembali padanya.bahkan ia menyuruh aku menikah kembali kepada orang lain dan bercerai serta kembali menikah padanya.

Ibu tetap menolak,begitu juga aku,aku juga sangat membencinya.namun ia tetap tidak terima,ia mencari pasal,ia datang ke Batam membawa preman dan menemuiku,tidak terima saudara laki-lakiku menghalaunya,terjadilah percekcokan,aku dan ibu menyaksikan  perkelahian mereka,saudaraku itu kalak telak karena mantan suamiku itu membawa tukang pukul berbadan besar,akhirnya sauadaraku tersungkur diparit depan rumah,setelah itu merekapun pergi dan melaporkan kejadian itu kepada polisi.

Saudaraku itu akhirnya ditangkap polisi dengan tuduhan telah melakukan pemukulan terhadap mantan suamiku itu.tak pelak sauadaraku pun di Vonis pengadilan dengan hukuman 1 tahun 2 bulan penjara,tetapi kini dia sudah bebas dan telah diungsikan ke Pekan baru untuk menjaga hak yang tidak di inginkan.

Sepertinya rasa puas mantan suamiku untuk menyakiti aku tidak pernah ada ujungnya,ia juga pernah memukuli aku di lobi Hotel indo mas jodoh di tahun 2014 lalu ,selain itu,tangan anakku juga disuluti putung rokok,aku tidak terima,maka aku melaporkannya tindakan KDRT nya itu ke Polisi Polresta Barelang,Namun sampai saat ini (2015) belum di jawaban dari mereka,melihat tidak ditanggapi,akhirnya ibu sebelum juga sempat laporkan kasus KDRT itu hingga  Mabes Polri.

Tidak tahu angin apa,tiba-tiba pada tanggal 19/5/2015,jam 11 malam lalu,pihak Kejari Batam mengantar surat pemanggilan untuk sidang kasus tersebut.

Pada tanggal 20/5/2015, gelar sidang pertama dilakukan,namun batal setelah menjalani hendak memulai sidang,sebelum sidang,aku juga telah melihat tampang mantan suamiku itu,aku geram melihatnya.namun aku tetap mencoba menahan semua emosiku,bagaimanapun aku harus taat dengan hukum yang berlaku.

Melihat derita yang kualami ini,Aku berharap kiranya ada keadilan di negara ini yang berpihak padaku,di negara pelaku (Singapura=red), aku dijoliminya,di hina,disiksa diterlantarkan hingga aku dijadikan  menjadi pelacur,tidur dikolong jembatan,hingga tidur dilapangan bola aku tidak mempermasalahkannya karena aku sadar saat itu aku bukan sedang negaraku,tetapi kini aku di negaraku sendiri kenapa aku juga tidak mendapat keadilan,bahkan Ia juga bebas menganiaya aku di Negaraku sendiri,bahkan anak-anakku juga menerima perlakukan kasarnya.

Maaf..aku sengaja menceritakan yang sebenarnya tentang kisah ini,tentunya agar bisa di baca semua orang,sebab aku yang merasakannya,jadi aku bertanggung jawab dengan semua pernyataanku ini,setidaknya apa yang kualami ini bisa menjadi pembelajaran bagi orang lain ,agar tidak menerima derita seperti yang kualami,Tutur SW kepada wartawan media ini.

Pernyataan diatas adalah penuturan korban,bahkan Ibu korban (MG)juga membenarkan semua pernyataan putrinya itu  kepada awak media ini (21/5),kata ibu Mega,kalau sebelumnya ia tidak mengetahui bagaimana perlakuan menantunya terhadap putrinya,bahkan ia mengaku sanagat tidak mau mencampuri urusan rumah tangga anaknya.

Dimata Ibu anisial MG ,kalau menantunya itu adalah orang yang baik,katanya kalau menantunya pandai mengambil hatinya.

" Selama ini dia kulihat baik,pandai mengambil hati,terkadang aku ingin bertanya,tetapi dia pandai mengalihkan suasana,dia pura-pura ajak kita sekeluarga pergi makan bersama.tetapi setelah aku mengetahui semua ini,aku jadi benci,bahkan aku tak sudi lagi menerimanya jadi menantuku." Ucap MG memastikan.


Editor : Agus Budi T.