Monday, 2 February 2015

Dampak Sosial Yang Memprihatinkan di Tambunan Lumban Pea

"Adanya Proyek Ambalat II yang gagal dan Pembibitan Ikan Tawar di Tambunan Lumban Pea,picu masyarakat setempat jadi krisis kepercayaan terhadap sesamanya"

Tobasa,Dinamika Kepri -Kini keberadaan proyek gagal yang katanya proyek Ambalat II dan keberadaan pembangunan Pembibitan Ikan tawar yang sudah terealisasi di desa Tambunan Lumban Pea saat ini,telah mengundang polimik ditengah masyarakat setempat.

Akibatnya,mereka tidak lagi sehati seperti dahulu kala ikut bercocok tanam dengan serentak,padahal satu desa itu mayoritas satu keturunan atau satu marga,kenapa bisa ?,katanya karena kedua proyek tersebut.

"Semua itu terjadi karena adanya Pembangunan Kawasan Terpadu di Tambunan Lumban Pea,selain itu ada juga pembangunan Pembibitan Ikan tawar yang sudah terealisasi,ada segelintir orang yang telah mengazas mamfaatkan proyek-proyek itu demi keuntungan pribadi tampa memikirkan yang lain sehingga dampaknya bisa seperti ini.tidak ada keharmonisan lagi."Kata salah satu warga sekitar menjelaskan.

Menurut informasi yang duterima media ini,dahulu rencananya Rawa di pinggiran danau toba Tambunan Lumban pea itu ditimbun dan akan dijadikan sebagai kawasan perekonomian di Tobasa,namun kini proyek itu mangkir dan telah gagal Proyek.sebab sudah 6 tahun ini proyek itu tidak beroperasi lagi padahal sudah menelan ratusan miliar rupiah dari dana anggaran Pusat.sedangkan pembibitan ikan tawar yang saat ini telah di bangun tidak dikelola dengan baik,pasalnya kolam-kolam yang bernilai ratusan juta itu tidak difungsikan sebagaimana mestinya.

Dalam pantauan media ini 23/1/2015,puluhan kolam disana tidak ada ikannya,bahkan aktitifas disan tidak ada yang berarti,terkesan keberadaan pembangunan pembibitan itu hanya proyek fiktif untuk menghabiskan anggaran saja.

Selain pembibitan ikan Tawar itu,ada juga keberadaan Pembangunan yang  disebut Kawasan Terpadu,dimana merupakan proyek multi years (Proyek berkesinambungan=red)dengan sumber dana dari pemerintah pusat. yaitu Total proyek tersebut senilai Rp 120 Milliar. bahkan Untuk tahap pertamanya telah menelan biaya Rp 12 Milliar,namun gagal Ada apa?

Sebelumnya,pada Kamis 17/7/2014 yang lalu Massa GMTB  juga telah melakukan demo untuk menuntut penuntasan Kasus Korupsi di Tobasa,termasuk kasus dengan proyek terpadu yang ada di Desa Tambunan Lumban Pea Kecamatan Balige Kabupaten Toba Samosir,kala itu pendemo juga menuntut agar BPK segera mengauditnya,namun hingga kini tidak bergeming sama sekali, bahkan kasus itu kian adem ayem saja.

Penelusuran media ini ketika di Tambunan Lumban Pea,ternyata keberadaan proyek Ambalat ke II yang ada  Desa Tambunan Lumban Pea  Kecamatan Balige Kabupaten Toba Samosir itu,tengah berpengaruh ke sisi sosial masyarakat setempat.

akibatnya kini pertanian di Tambunan Lumban Pea tidak jadi terganggu,sebab diantara warga disana tidak memiliki mosi percaya  terhadap sesamanya karena terkesan tamak dan serakah .

Kenapa dikatakan tamak dan serakah,Sebab dahulunya untuk mendapatkan izin sepadan dari warga Tambunan Lumban Pea,katanya para sesepuh kampung sengaja membuat dan memberikan tanda tangan palsu kepemerintah setempat agar proyek itu dapat terealisasi.

Katanya banyak tanda tangan palsu di dalam izin sepadan untuk penimbunan rawa itu,bukan penimbunan rawa saja,bahkan untuk pembangunan proyek pembibitan ikan tawar di tepi danau Toba Tambunan Lumban pea sebelumnya ,katanya juga melakukan hal demikian.

"Enggak ada yang beres lagi orang tua di kampung ini  (Tambunan Lumban Pea=red),demi untuk keuntungan pribadinya,orang lain juga dijualnya,padahal dahulunya tidak ada warga yang setuju dengan konsep-konsep pembangunan di Tambunan ini,tetapi tetap saja terjadi, kami tidak pernah setuju,katanya kami telah setuju dan  telah menanda tangani persetujuan,padahal kami tidak menanda tangani bentuk surat apapun terkait hal itu,begitulah permainan sesepuh orang disini,kini kami tidak sehati lagi seperti dahulu,akibatnya pertanian jadi terganggu dan tidak serentak karena tidak ada mosi percaya antara satu dengan yang lain,semua lebih mementingkan pribadi lepas pribadi.keharmonisan bisa terjadi lagi,namun harus menunggu para sesepuh mati dulu,sebab demi kepentingannya, merekalah yang merusak keharmonisan tersebut " Katanya. 

Menurutnya, ada beberapa orang - orang sesepuh Tambunan Lumban Pea saat ini yang terlibat ikut menikmati dari proyek gagal tersebut namun tidak tersentuh Hukum sama sekali.ketika ditanya siapa nama-nama sesepuh yang dimaksud warga itu,Ia mengatakan ada 5 orang namun Ia enggan menyebut nama-namanya.

Gagalnya   senilai Rp 120 Milliar dan telah menelan biaya Rp 12 Milliar ini,setidaknya dapat didalami oleh KOmisi pemberantasan Korupsi (KPK) dengan serius.bila perlu tangkap semua kroni-kroni yang terlibat didalammnya termasuk pemalsu data sepadan yang tidak pernah dikehendaki masyarakat setempat itu.

Kini proyek itu gagal total,bahkan dampak efeknya tengah menjadi bumerang ditengah masyarakat Tambunan Lumban Pea,kini pertanian jadi terganggu,ketersedian pangan jadi terganggu,masyarakat kini enggan bercocok tanam karena masyarakat disana telah kehilangan mosi kepercayaan sesama mereka,kini banyak lahan persawahaan tampak terbengkalai,bahkan mereka selalu berprasangka negatif kepada sesamanya,bahkan parahnya lagi,sebagian orang terlihat seperti merasa krisis kepercayaan terhadap sesama dan menganggap diantara mereka selalu ada penghianat.