Saturday, 31 January 2015

Selama 8 Bulan PT.Patria Anugerah Diduga Tilep Uang Lembur Sicuriti

Tobasa,Dinamika Kepri - PT.Patria Anugerah adalah salah satu perusahaan yang bergerak di bidang penyalur tenaga kerja (outsoursing) sicuriti di  Tobasa provinsi Sumatera Utara.

Kini perusahan Outsoursing itu tengah dilanda issu yang tidak sedap,pasalnya ,perusahan itu kini disinyalir telah menilep uang lembur 8 orang pekerja  selama 8 delapan bulan,yaitu sejak  bulan April tahun 2014 yang lalu,dimana ke 8 orang sicuriti itu bekerja  di base camp PLTA Asahan III Pintu Pohan Tobasa.

Menurut narasumber  yang  enggan namanya dituliskan,katanya dirinya pernah bekerja di 
PLTA Asahan III ,Ia mengatakan kalau dirinya sudah bekerja beberapa tahun di  PLTA Asahan III itu,dirinya mengaku bekerja sebagai sicuriti via perusahaan PT.Patria Anugerah.

Kini narasumber mengaku tidak bersemangat untuk bekerja lagi,pasalnya  gaji Lembur sejak  bulan April tahun 2014 dengan sebanyak Rp 400 ribu per Bulannya tak kunjung dibayarkan oleh penyalur  PT.Patria Anugerah tampa alasan yang jelas.

Bahkan menurut narasumber lagi,kalau masalah itu kata juga sudah disampaikan ke SBSI setempat di Balige namun belum ada tanggapan apapun dari pihak PT.Patria Anugerah tersebut .

“ Sudah delapan 8 bulan ini gaji lembur kami tidak dibayar oleh pihak penyalur,dan tidak tahu apa alasannya,gaji lembur yang tidak di bayarkan itu sekitar Rp 400 ribu perbulannya untuk perorangnya,kami ada sekitar 8 orang,kalau ditotalkan sekitar Rp 25 juta,bahkan masalah ini juga telah kami sampaikan ke SBSI yang berkantor di Balige,namun  sampai saat ini tidak ada respon yang berarti,jadi  sementara ini kami hanya bisa berharap,agar kiranya hak kami dapat direalisasikan perusahaan Outsoursing itu  dengan secepatnya.kami juga butuh kesejateraan.selain gaji lembur,uang dinas dan uang pensangon setahun lalu,juga belum dibayarkan,bahkan menager perusahaan PT.Patria Anugerah pernah meminta tanda tangan kami agar tidak melakukan penuntutan.” Ucapnya.

Ketika awak media mencoba mengkonfirmasi hal itu keperusahaan yang dimaksud,
Jannes Simatupang dari pihak perusahaan penyalur sicuriti mengatakan,bukan tidak mau membayar,Namun pihak dari perusahaan yang mereka jaga yang tidak dapat tepati janjinya.

“ Bukan pihak kami yang tidak mau membayar,namun uang itu belum cair dari perusahaan yang mereka jaga,makanya kami belum dapat membayarkan hak mereka.laginya kalau sudah dicairkan tentu kami akan segera membayarkannya.” Kata (JS) yang mengaku Dirut dari PT.Patria Anugerah itu kepada media ini pada tanggal 27/1/2015 yang lalu via celularnya.

JS juga mengaku bahwa saat ini perusahaan outsoursingnya telah memperkerjakan sebanyak 15 orang sebagai sicuriti di beberapa perusahaan yang berbeda.

Namun sangat ironis kalau satu perusahaan tidak dapat membayarkan atau mendahulukan hak orang yang dipekerjakannya,diduga dalam hal ini terindikasi hal-hal yang tidak diinginkan,sebab tidak mungkin perusahaan sebesar PT PLTA Asahan III tidak mampu membayar hak pekerja dilingkungannya,dimana diketahui hanya sebesar Rp 25 juta saja .

Diduga dalam hal ini ada unsur  sengaja untuk mepermainkan atau merampas hak orang lain,sebagaimana pernyataan itu  disampaikan oleh ketua Serikat buruh seluruh indonesia (SBSI) 92 Tobasa yaitu Pariama Boru Hutagaol.

Via Ponselnya,Kepada Media ini,Pariama boru Hutagaol menjelaskan,katanya pihak penyalur harus bertanggung jawab dengan permasalahan ini.

" Kami sudah menerima laporan terkait hal itu,saya selaku ketua SBSI 92 Tobasa,meminta agar pihak PT.Patria Anugerah dapat segera memenuhi hak-hak pekerja itu,saya tidak mau tahu kepada siapa-siapa perusahaan itu bermitra,namun yang jelas hak-hak pekerja harus diberikan,ini bukan jaman penjajahan dan bukan zamannya membuat orang kecil seperti diperbudak dengan semena-mena,ya..kalau memang tidak ada solusi atau etika yang baik dari PT.Patria Anugerah,tentu dengan berat hati kami (SBSI)akan segera melakukan penyegelan atau menggembok terhadap perusahaan tersebut agat tidak dapat beroperasi lagi." Tegas Pariama optimis,31/1/2015.

Menurut Pariama Diketahui,ternyata polemik yang ditimbul ini bukan dari perusahaan penyalurnya,namun dari PT Bhayangkara selaku mitra kerja PT.Patria Anugerah.

PT PLTA Asahan III selaku perusahaan induk mempercayakan PT Bhayangkara, PT Bhayangkara lalu  bermitra dan mempercayakan PT.Patria Anugerah sebagai jasa outsoursing penyedia pekerja sicuriti di PT PLTA Asahan III.

Ketika Pihak SBSI meminta tanggung jawab dari PT Bhayangkara,kata Pariama Boru Hutagaol dari celularnya kepada wartawan ini,kalau pihak PT Bhayangkara sudah melarikan diri alias lepas tanggung jawab.bahkan pihak perusahaan juga menganjurkan agar SBSI juga dapat melaporkan kasus itu kepihak kepolisian.

"Kami sudah pernah ingin mepertanyakan hal itu kepihak induknya(PT Bhayangkara=red)namun tidak ada tanggapan,mungkin pemilik perusahaan sudah melarikan diri.namun itu bukan jadi soalan,sebab pekerja tidak ada urusan dengan perusahaan PT Bhayangkara itu,pekerja tahunya PT.Patria Anugerah saja begitu juga dengan kami dari SBSI."Ucap Pariama lagi.

Dengan adanya kasus ini,Pariama Boru Hutagaol selaku ketua SBSI 92 Tobasa berharap dan menghimbau,kiranya perusahan-perusahan yang ada saat ini juga dapat menjunjung tinggi hak-hak buruh demi kemanusian,pengusaha jangan membuat seenaknya kalau masyarakat kecil itu seperti budak,melakukan dengan semena-mena,membuat kepintarannya untuk membodoh-bodohi orang lain.