Saturday, 10 January 2015

Pembuat Kartun Nabi Muhammad Tewas Ditembak

Dinamika Kepri - Majalah mingguan Perancis Charlie Hebdo yang pernah membuat heboh dengan memuat gambar kartun Nabi Muhammad SAW kemarin mengalami kecaman dan tindakan kekerasan dari sekelompok ekstrimis. Sedikitnya ada 12 orang yang tewas dalam insiden berdarah tersebut, termasuk sang pemimpin redaksi, Stephane Charbonnier.

Serangan terhadap majalah ini bukan hanya kali ini, pada 2011 silam, sebuah bom molotov juga pernah mendarat ke kantor redaksi majalah ini. Tindakan tersebut disulut oleh edisi majalah yang memuat kartun Nabi Muhammad SAW sebagai bintang tamunya. Namun sang pemimpin redaksi majalah mengatakan bahwa serangan yang diterimanya kala itu bukan mewakili umat Islam, hanya sekelompok orang 'idiot' garis keras. Walaupun umat Islam di dunia sedang marah kala itu.

Dinamika Kepri-  Majalah ini berdiri pada tahun 1969, namun pada tahun 1981 sempat terhenti. Dan di tahun 1992 majalah ini bangkit kembali. Stephane Charbonnier, adalah pemimpin redaksi yang memegang majalah tersebut sejak tahun 2009 yang akhirnya harus tewas ditembak mati bersama 9 orang lainnya serta 2 orang anggota polisi pada Rabu, (7/1/2015).

Majalah Charlie Hebdo pernah memuat edisi kontroversial pada 3 November 2011, yakni mengganti nama Charlie Hebdo menjadi Sharia Hebdo dengan mencantumkan Nabi Muhammad sebagai editor tamu di dalamnya. Slogan di edisi tersebut, "100 cambukan jika kamu tidak mati tertawa".

Dalam sebuah wawancara dengan ABC News di tahun 2012, Charbonnier pernah menjelaskan kalau sebenarnya teror serta ancama telah ada sejak sejak lama, hanya saja ia selalu menegaskan bahwa ia berdiri diatas kebebasan berbicara.

"Tugas kita bukanlah untuk membela kebebasan berbicara, tapi tanpa kebebasan berbicara kita mati," katanya saat itu.

"Saya lebih suka mati daripada hidup seperti tikus." tambahnya lagi.

Sebenarnya karya-karya yang diterbitkan oleh majalah Charlie Hebdo itu intinya tidak ingin menghina kaum muslim, hanya saja tindakannya atas intimidasi ekstrimis kepada wartawan tidak dapat diterima warga muslim dunia. Dan pada akhirnya, inilah dampaknya.

Salah seorang staff Charlie Hebdo, Laurent Leger juga pernah mengatakan kepada BFM-TV,
"Tujuannya adalah untuk tertawa ... Kami ingin menertawakan ekstremis -... Setiap ekstremis Bisa Jadi Muslim, Yahudi, Katolik, karena setiap orang bisa memilih agama, tetapi pikiran dan tindakan ekstremis kita tidak bisa menerima."

BY : lintas.me