Thursday, 13 November 2014

Konsumsi Mi Instan Mudah Orang Kena Diabetes

Jakarta,Dinamika Kepri - Penelitian terbaru membuktikan bahwa konsumsi mi instan, termasuk ramen, secara signifikan dapat meningkatkan risiko seseorang menderita sindrom kardiometabolik, terutama pada perempuan.

Penelitian Baylor University Medical Center ini beberapa waktu lalu dipublikasikan dalam jurnal Nutrition. Hyun Joon Shin, MD, yang memimpin studi Baylor Heart and Vascular Hospital (BHVH) ini menemukan konsumsi mi instan dua kali atau lebih dalam seminggu terkait dengan sindrom kardiometabolik.
Sindrom ini dapat meningkatkan risiko seseorang menderita penyakit jantung dan kondisi-kondisi lainnya seperti diabetes dan stroke.

Shin juga menemukan risiko ini lebih umum terjadi pada perempuan. Menurut dia, munculnya sindrom kardiometabolik kemungkinan besar berhubungan dengan perbedaan biologis, seperti hormon seks, dan metabolisme, lalu obesitas dan komponen sindrom metabolik.
Hal ini juga karena perbedaan kebiasaan konsumsi makanan yang bervariasi pada laki-laki dan perempuan. Faktor lain yang berperan adalah bahan kimia  bisphenol A (BPA) yang digunakan untuk kemasan miedalam bentuk wadah styrofoam.

Penelitian memperlihatkan bahwa BPA mengganggu perjalanan hormon mengirimkan pesan melalui tubuh, khususnya estrogen. Terlepas dari temuan yang terkait dengan gender atau penyebabnya, Shin mengatakan penelitian ini menekankan pentingnya memahami makanan yang kita makan.
"Penelitian ini penting karena banyak orang yang mengonsumsi mi instan tanpa mengetahui risiko kesehatan yang mungkin terjadi," katanya seperti dalam siaran publik Baylor Scott & White Health.

Menurut dia, implikasi kesehatan studi ini bisa sangat besar - terutama jika itu mengarahkan orang-orang memilih makanan sehat. Masyarakat di Asia diketahui memiliki tingkat konsumsi ramen yang relatif tinggi. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada wilayah Korea Selatan yang memiliki jumlah konsumen mi instan tertinggi di dunia.

"Sementara asupan mi instan lebih banyak di komunitas-komunitas Asia, hubungan antara konsumsi mi instan dan sindrom metabolik belum dipelajari secara luas," ujar Shin. (Antara)