Wednesday, 20 August 2014

Sedekah Sepakbola

Dinamika Kepri - Dalam sebuah ceramahnya ustad Yusuf Mansyur pernah mengangkat sebuah ayat Al Quran yang berbunyi, "Belum sampai kepada kebaikan yang sempurna sebelum kamu menyedekahkan harta yang paling dicintai." (Al Imran: 92).

Di negara maju, semisal United Kingdom (UK), corporate philanthropy atau yang sering juga disebut tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) sangat gencar diimplementasikan di pelbagai sektor. Tanya kenapa? Nah, salah satu industri yang juga "dirasuki" pemahaman spiritual paling dahsyat itu --kata Yusuf Mansur-- adalah industri sepakbola.

Dalam sejarah hidup FC Barcelona, mereka pertama kali mendapat sponsor komersial pada tahun 2011. Sebuah organisasi nonprofit bernama Qatar Foundation menyuplai dana kepada El Barca sebesar 150 juta euro selama 5 tahun. Itulah pertama kalinya klub ini mendapat kucuran dana melalui mutualisme logo di dada jersey mereka.

Sebenarnya, pertama kali ada "iklan" di bagian dada kaus Barca adalah musim 2007/2008, ketika logo UNICEF terpampang di kostum Azulgrana sampai 2011. Hanya saja, sponsorship tersebut tidak bersifat komersil. Bukanlah UNICEF yang menyetor fee kepada barca, melainkan sebaliknya. Tim asal Catalan itu justru setuju mengeluarkan dana 1,5 juta euro per tahun kepada lembaga kemanusiaan untuk anak-anak itu – sebagai "sedekah".

Di Inggris, hampir semua klub sepakbola top sudah mengimplementasikan CSR kepada masyarakat. Salah satunya Everton, yang gencar melakukan tanggung jawab sosial kepada masyarakat sekitar. Bentuknya beragam, ada yang memberi pelatihan sepakbola gratis kepada masyarakat, ada yang menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Afrika, dan ada juga melakukan bantuan sosial dalam bidang pendidikan.

Pada tahun 2005, jumlah pengeluaran untuk kemanusiaan dari klub-klub Liga Premier menurut Deloitte adalah mencapai lebih dari Rp 1,56 triliun! Betapa mulianya.

Ketika ditanya mengapa mereka melakukan itu, padahal 'kan ini cuma sepakbola. Salah satu eksekutif lembaga amal klub sepakbola di Inggris menjawab: "it’s not always about delivering soccer programmes, it's about creating opportunities through football". ("Ini bukan melulu terkait program sepakbola. Ini tentang menciptakan banyak kesempatan melalui sepakbola.")

Lalu yang lainnya ada yang menjawab seperti ini: "The answer to the question, ‘Why do (the football club) do this?’ Is that we would be foolish if we didn’t?". Jadi mereka ternyata benar-benar bersedekah, ya! Betapa mulianya.

Kita tentu sering juga mendengar, tidak hanya klub yang melakukan sedekah, tapi juga beberapa pemain top. Mungkin Anda akan berkata seperti ini, "Ya terang saja, mereka kaya raya". Tapi, bukan masalah skala finansial, nyatanya ini lebih kepada panggilan batin di dalam hati, atau mungkin bahasa kerennya: 'kecerdasan spiritual'.

Seorang Mickey Evans, pemain antah-berantah klub Plymouth Argyle diceritakan Independent menyalurkan 3/4 pendapatan dari laga perpisahannya untuk sebuah lembaga amal. Jody Craddock --saya juga baru tahu namanya-- juga sempat mendonasikan dana dalam jumlah besar untuk sebuah rumah sakit.

Geoff Thomas, legenda sepakbola Inggris, mendirikan Geoff Thomas Foundation. Robert Green, mantan kiper West Ham, pernah mendaki Kilimanjaro untuk meraup dana sosial yang akan didonasikan ke Afrika. Juga Craig Bellamy, yang sering dicap pemain temperamental pun sangat aktif dalam bidang kemanusiaan, sampai-sampai ia sering dikira melakukan '‘pencitraan".

Beberapa figur tidak suka memamerkan aksi sosialnya ke publik, salah satunya adalah Gareth Southgate, yang pernah menolak sebuah kampanye donasi sosial, setelah salah satu penyelenggara acara berniat mempublikasikan nama para donaturnya. Ini seperti sebuah ayat dalam kitab suci: "bersedekahlah kalian, baik secara terang-terangan, maupun sembunyi-sembunyi, tapi jika sembunyi-sembunyi, itu lebih baik".

"Kalau saya mau, ada lebih banyak publisitas yang lebih murahan dari ini (berdonasi)," ucap Bellamy menjawab tudingan dirinya hanya melakukan "pencitraan" dengan menjadi seorang dermawan.

Jika Anda ingat, ketika bergabung ke Paris St Germain, David Beckham menyalurkan 100% gajinya sebagai dana amal untuk anak-anak. Seorang Mario Balotelli pun diisukan sering menyisihkan gajinya ke lembaga amal ketika bermain untuk Manchester City.

Nama lain yang dikenal rajin bersedekah dari keringat sepakbola adalah Dirk Kuyt dengan Dirk Kuyt Foundation-nya, yang membantu anak-anak tak mampu di Belanda dan sejumlah negara lain. Zinedine Zidane juga konsisten beraksi di bidang sosial melalui penggalangan pertandingan bertajuk 'Match against Poverty' untuk membantu UNDP. Yang juga fenomenal, di tahun 2011 Michael Essien mendonasikan sepertiga pendapatannya untuk menolong anak-anak di Ghana. Sungguh mulia.
 
Alangkah mulianya pula Arsenal yang menyumbang Rp 487 juta ke sebuah lembaga mentoring kecil untuk anak-anak di sekitaran Islington. Betapa mulianya Cristiano Ronaldo, yang ketika tahu ada seorang anak bernama 'Martunis' terjerembap dalam bencana tsunami Aceh menggunakan jersey Portugal bernama punggung C. Ronaldo, ia langsung terbang menemuinya dan memberikan sumbangan.

Betapa mulianya seorang Mesut Oezil, yang sebelum Piala Dunia 2014 masih sempat mendanai operasi 11 anak-anak Brasil yang sakit. Terkuak pula bahwa sebelum dan selama Piala Dunia 2014 dimulai, DFB (PSSI-nya Jerman) secara kolektif melakukan aksi-aksi sosial di dekat kamp pelatihan mereka, di Bahia, Brasil. Rombongan Oliver Bierhoff memberi bantuan dana untuk membangun rumah dan beberapa infrastruktur untuk kemajuan masyarakat lokal, termasuk lapangan sepakbola.

Tak heran jika kemudian warga Brasil sangat menyukai Jerman, dan mereka mendukung penuh negara tersebut saat menghadapi Argentina di final -- dan (kebetulan atau tidak) keluar sebagai juara. Oezil kemudian menaikkan sedekahnya dengan memberi bantuan donasi dari 11 menjadi 23 anak-anak. Betapa mulianya, mereka.

Lagi-lagi, entah kebetulan atau tidak, FC Barcelona yang sangat berjaya dalam kurun empat tahun di era Pep Guardiola --meraih 14 piala dalam kurun 2008-2012-- ternyata di saat yang sama sangat 'aktif bersedekah' melalui logo UNICEF di dada (2007-2011).

Inikah sebuah pertanda, bahwa jika menilik prestasi sepakbola dan negara Indonesia yang masih amburadul, jangan-jangan apa karena kita jarang bersedekah?


Coventry, 14 Agustus 2014


====

*Penulis adalah mahasiswa yang sedang menempuh studi MSc Sport Management, Coventry University. Akun twitter: @amalganesha
(dtc/roz) Sumber: detiksport