Wednesday, 9 July 2014

Penangkapan pengguna Sabu Oknum Wartawan ,diduga rekayasa Polisi

Tg Balai Karimun,Dinamika Kepri-Penangkapan pengguna baram haram jenis sabu-sabu yang di lakukan oleh satresnarkoba Polres Karimun baru-baru ini di Tanjungbatu Kundur ,masih menyisakan berbagai pertanyaan di khalayak ramai, dugaan kuat penangkapan ini hanya di rekayasa.

Seorang pengguna narkoba jenis sabu sabu, dengan posisi tangan di borgol, di keroyok oleh 5 orang oknum polisi.

Ternyata oknum kepolisian Polres Karimun, jauh lebih kejam dari pada teroris, Diminta kepada Propam Polres Karimun dan Propam Polda Kepri, untuk segera menindak lanjuti Kelima Oknum anggota Polres Karimun tersebut. Karena ini jelas suatu tindak pengeroyokan terhadap orang yang tidak berdaya.

Kepada wartawn Istri ‘A’ (Inisial)  bercerita tentang proses penangkapan suaminya berikut pembantaian yang dilakukan oleh 5 orang oknum Polisi terhadap suaminya ditontoni  istrinya sendiri. “Pada saat itu saya dipaksa untuk menelpon suami saya di tanjung sari Tanjungbatu kota. 

Padahal posisi saya hanya di samping rumah saja dan di ikat di dalam mobil, tentu saja suami saya menghampiri mobil tersebut, dan ketika suami saya menghampiri mobil disaat itu juga ia di ikat dan di borgol, kemudian dengan menngunakan mobil avanza silver ini terus melaju ke arah yang sepi yaitu sekitar 5 KM dari kota yaitu di sengko. 

Nah di sinilah suami saya di bantai di depan saya, Disaat  posisi tangan sedang di borgol, kelima oknum polisi yang tidak bermoral tersebut,  secara bebas memukul si A tanpa ada perlawanan. 

Setelah wajah si A remuk atau babak belur, barulah   pemukulan dihentikan, kejadian ini terjadi sekitar pukul 20:00 WIB sampai 21: 00 WIB kamis malam (26/06) yang lalu. Melihat keadaan Si ‘A’ babak belur, itulah sebabnya ketiga tangkapan pengguna narkoba cepat cepat dilarikan pihak satnarkoba ke Karimun pada malam itu juga.

Si ‘A’ saat di Tanya kepada wartawan membenarkan bahwa dirinya di bantai oleh ke 5 oknum anggota Satnarkoba di saat tangannya  sedang di borgol. “ Saya di pukul ke 5 anggota polisi berpakaian preman, di hadapan istri saya. Karena pada saat itu saya di paksa untuk menelpon salah seorang yang saya tidak ketahui”. Ujar A menambahkan.

Kasatresnarkoba Polres Karimun,AKP.Antonius, F.D Gea. Enggan menemui wartawan untuk di konfirmasi masalah ini. Setelah 2 hari kami menunggu,yang tergabung didalam Asosiasi Pers Kepulauan Kundur atau ASPEKK menunggu sang kasat, akhirnya ia malah mengarahkannya ke penyidik. Begitu juga penyidik malah balik mengarahkannya ke Kasatresnarkoba.

Yudi Sekretaris ASPEKK, saat dikonfirmasi membenarkan ada oknum anggota wartawan yang ikut ditanggkap pada malam itu. Dan saya sudah tanyai langsung ke Oknum bahwa dirinya hanya pemakai. 

Lagian barang bukti hanya 0.5 Gram. Tidak sampai 1 gram. Didalam UUD 35 Tahun 2009 pasal 112 ayat 1. Disana menyebutkan jika barang bukti dibawah 2 Gram, itu di kategorikan sebagai pemakai. Apalagi ini yang ditemui pihak satnarkoba karimun hanya 0,5 Gram. Diatas 2 Gram, itu baru dikategorikan sebagai pengedar.

Yudi juga sangat kecewa terhadap team satresnarkoba yang sempat melakukan pembantaian pada malam itu. “ Kenapa Polisi bisanya hanya menangkap Pemakai yang di jadikan korban,sementara Bandar narkoba jenis sabu-sabu masih tetap menjalankan bisnis haramnya di wilayah Pulau Kundur dan karimun..?

Yang hanya 0,5 Gram? Terus membantainya?.. kenapa polisi tidak mampu menangkap Bandar yang jumlah barangnya pake Kilo yang saat ini sudah berkeliaran? Apakah karena Bandar uangnya Miliyaran sehingga polisi enggan untuk menangkapnya?”. Untuk itu Yudi mengajak masyarakat untuk bersama sama berfikir mencari solusi, ketika polisi kita sudah seperti ini. 

*Bersambung…..(Rian)