Tuesday, 8 July 2014

Bangunan Ruko dan Hotel marak diatas Buffer Zone

Batam,Dinamika Kepri - Banyaknya pembangunan Parmanen diatas lahan Buffer zone atau di lahan ruang hijau terbuka saat ini,dipastikan kedepannya akan mengganggu pembangunan Batam selanjutnya.

Untuk kawasan Nagoya khususnya,ruko dan hotel telah dibagun diatas tanah yang tidak pada tempatnya,namun diduga karena besarnya Fee atau gratifikasi yang didapat dari pihak pengusaha,membuat oknum-oknum pejabat BP Kawasan dan Oknum-oknum pemko Batam tutup mata,akibatnya tata ruang Batam semakin kumuh.

Salah satunya lahan ruang hijau terbuka deretan hotel 89 Nagoya,selain itu kini disekitar buffer Zone tersebut juga tengah ada yang mendirikan hotel baru yang rencana akan membuat hotel lantai lima,padahal pembangunan hotel itu sebelumnya sudah di complain warga bahkan dari strategi lokasi juga tidak memadai,namun tidak di gubris oleh pengusaha hotel itu sama sekali,sebab yang berwenang saja juga tidak perduli akan hal itu.

Terkait maraknya alih fungsi  ruang hijau terbuka menjadi tempat bangunan di Batam saat ini,media ini mecoba melakukan confirmasi via celular pada seni malam (7/7/2014) kepada kedua pemimpin kota Batam,yaitu Ketua BP Batam Mustofa Widjaja dan Walikota Batam Ahmad Dahlan ,namun tidak merespon sama sekali. ,Bahkan sampai berita ini di muat kedua pemimpin kota Batam di dalam satu bahterah itu memilih untuk tidak memberikan jawaban.

Padahal dengan adanya buffer zone atau kawasan penyangga merupakan suatu hal yang mutlak diperlukan. Buffer zone adalah lahan yang tidak bisa dibangun dan dibiarkan sebagaimana aslinya, misalnya rawa, danau, tanah lapang, semak atau hutan belukar sekalipun. 

Kawasan penyangga ini dipertahankan sebagaimana aslinya untuk memelihara keseimbangan ekologi dan menjadi paru-paru kota, sehingga racun CO maupun buangan CO2 hasil pembakaran kendaraan bermotor dan asap industri bisa terserap dalam kawasan penyangga dan dengan proses fotosintesa diubah menjadi oksigen yang diperlukan oleh kehidupan. Kawasan penyangga juga bisa dijadikan tempat singgah limpahan air hujan sehingga pada saat musim hujan, kelebihan air bisa terserap oleh lahan pada kawasan penyangga, sehingga banjir bisa dikurangi. Kawasan penyangga di tepi pantai berupa rawa-rawa dapat berfungsi meredam ombak dan terjangan Tsunami sehingga kerusakan yang diakibatkannya tidak akan terlalu parah.