Thursday, 15 May 2014

Untuk bayar hutang,Cagal pilih jual Ginjalnya.

Jakarta, Dinamika Kepri  - Nyata dan unik, Chandra Saputra (26), warga Pekalongan, Jawa Tengah, sudah 10 hari berada di Jakarta. Pria yang gagal merebut kursi anggota legislatif dari Partai Demokrat ini tidur bersama puluhan tunawisma di Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat.

Ia mencalonkan diri sebagai caleg Dapil 4 Kabupaten Pekalongan, tetapi gagal mendapatkan suara yang bisa mengantarnya ke kursi DPRD sehingga kabur dari kampungnya di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, karena dikejar-kejar penagih utang.

Kepergiannya ke Jakarta hanya untuk menjual ginjalnya dan rencananya uang tersebut akan dipakai untuk melunasi sejumlah utangnya sekitar Rp 420 juta. Uang sebesar itu dipergunakan untuk biaya kampanye Pemilihan Caleg 2014 Dapil 4 Kabupaten Pekalongan.

"Saya dari tanggal 5 Mei sudah di Jakarta. Saya dari kampung di Kecamatan Cepu, naik kereta turun di Stasiun Jatinegara," ujarnya saat diwawancarai Warta Kota, Selasa (13/5/2014), di Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, tempat ia mengasingkan diri.

Ia mengaku hanya membawa delapan setel di tas kopor berwarna coklatnya. Selain itu, tas hitam kecilnya untuk menyimpan satu charger untuk pengisian baterai gadget Samsung Mega dan BlackBerry Torch hitamnya. Ia juga membawa baju batik warna biru ala Partai Demokrat serta celana bahan berwarna hitam.

"Awalnya, saya didorong masyarakat Pekalongan untuk menjadi calon anggota legislatif DPRD Kabupaten Pekalongan. Karena saya rajin bersosialisasi dengan masyarakat, dan kegiatan pemuda salah satunya Karang Taruna, masyarakat ingin saya mencalonkan diri," tutur pemuda yang sudah tiga tahun bekerja sebagai asisten pribadi anggota DPR dari Partai Demokrat itu.

Akhirnya, Chandra langsung mendaftarkan ke KPU setempat. Ternyata Partai Demokrat di daerahnya hanya mendapat satu kursi dan itu pun sisa suara.

"Enggak sesuai harapan, Mas, karena partainya juga sedang digunjang-ganjing info tak sedap. Harapan di sana mendapat dua kursi untuk Partai Demokrat malahan hanya mendapat satu kursi. Itu pun sisa suara," jelasnya.

Sementara kedua orangtuanya, ayahnya pensiunan masinis PT KAI dan ibunya wiraswasta sekaligus penjual sayur, juga sempat memberikan dana kepadanya sebesar Rp 180 juta. Uang tersebut digunakan untuk biaya kampanye.

Lantaran kalah dari lawannya yang sama partainya, Chandra sudah mulai kehilangan akal. Banyak orang menyambangi kediamannya untuk menagih utang.

Chandra pun mencari cara untuk menutupi utang-utangnya. Ia pun melakukan sistem tambal sulam, meminjam dari sana-sini untuk menutupi utang tersebut.

"Saya saat ini berurusan dengan rentenir dan juga utang dengan saudara dan teman. Ditotal yang belum terbayar Rp 420 juta. Minggu ini pun sudah jatuh tempo, tepatnya tanggal 9 Mei 2014," jelasnya.

Chandra mengaku kedua orangtuanya tahu bahwa ia ke Jakarta mencari uang untuk menutupi utang atau mencari pertolongan. Chandra menceritakan tentang ibunya yang ingin menjual ginjalnya, tetapi ditolak mentah-mentah.

"Awalnya ibu merelakan ginjalnya dijual untuk menutupi bayar utang, namun saya menolak keras. Akhirnya saya rela ke Jakarta untuk menjual ginjal," katanya.

Ia mengaku akan menjual ginjalnya seharga Rp 420 juta, senilai dengan total utangnya. "Saya realistis, harga ginjal sesuai dengan nominal utang Chandra senilai Rp 420 juta," katanya.

Chandra pun bercerita, ketika sampai di Jakarta, ia langsung mendatangi Masjid Agung Sunda Kelapa di Menteng. Ia bermaksud tinggal sekaligus mendekatkan diri kepada Yang Mahakuasa agar dipermudah persoalan atau permasalahannya.

Ia sudah berkeliling dari Kota Depok hingga Kota Tangerang untuk mencari seorang pengusaha kaya yang ingin membeli ginjalnya. Namun, usahanya tetap sia-sia lantaran pengusaha tersebut sudah berpindah rumah.

"Sudah mutar-muter, pertama ke daerah Depok mencari pembeli dan menawarkan ginjalnya ke pengusaha di Depok, namun pengusaha tersebut sudah berpindah rumah. Dari pagi sampai sore, pulang lagi ke masjid. Setelah itu, ke Tangerang di sana nyari seseorang yang dulu mencari donor ginjal. Namun, orangnya pun sudah tidak ada karena pindah juga," jelasnya.

Ia mengaku, setiap usai shalat subuh, ia berkeliling di Jakarta untuk menawarkan ginjalnya. Namun, ia tidak menemukan pembeli.

"Saya juga sempat terpikir ingin menjual ginjal ke rumah sakit. Namun, ketika saya mem-browsing di gadget menjual ginjal tidak diperbolehkan," ujarnya.

Ia menceritakan, kedua orangtuanya masih menelepon untuk menanyakan kabar. Terkadang orangtuanya mengatakan sering diteror atau disambangi rentenir sampai pukul 01.30 pagi.

Rencananya, pada Rabu (14/5/2014) ini Chandra ingin bertemu dengan Menteri BUMN Dahlan Iskan karena, menurut dia, sosok Dahlan Iskan baik dan berjiwa sosial tinggi. Ia berharap mendapat masukan ataupun solusi dan bantuan dari Dahlan Iskan.

"Saya ingin sekali bertemu beliau. Dia orangnya baik, sekaligus memiliki sosial tinggi. Mudah-mudahan permasalahan aku pun selesai berkat bantuannya," jelasnya.