Friday, 11 April 2014

Kekerasan dalam sel tahanan, MZ disiksa JS Polisi berpangkat Aiptu

" Tindakan JS,akan di Laporkan ke komnas Ham ??"

Tanjung Pinang,Dinamika Kepri - Kekerasan dalam sel tahanan yang dilakukan oknum kepolisian terulang kembali, MZ, tahanan polsek Tanjung Pinang Kota yang disangkakan pasal 362 KUHP mendapat pemukulan anggota polisi berinisial JS berpangkat AIPTU. 

Dari pengakuan MZ, dia dipaksa menandatangani surat pernyataan bersedia tidak didampingi pengacara, awalanya MZ tidak bersedia mengikuti kemauan kanit Reskrim jebolan akpol 2006 tersebut. awalnya JN membentak tersangka MZ, tidak menurut,oknum polisi berbadan tinggi ini lantas menendang lengan kanan dan rusuk kanan MZ.

Sontak MZ ketakutan, selain melakukan pemukulan, MZ juga diancam dengan hukuman yang lebih berat jika tidak bersedia menandatangani surat pernyataan bersedia tidak didampingi advokat yang diduga direkayasa tanpa blanko instansi polri. Tidak tahan dengan pemukulan yang dialaminya, MZ terpaksa menandatangani surat tersebut dengan lebam di tangan kanan dan rusuk kanan.

Saat dikonfirmasi langsung pada kapolsek Tanjung Pinang Kota AKP Wahyu Edrajaya, S.IK Kamis (04/04/2014) membantah telah terjadi pemukulan tahanan dalam sel tahanan, Wahyu berdalih jika anggotanya telah melakukan tugasnya sesuai SOP kepolisian. Anehnya, MZ dipukul tidak disaat pemeriksaan namun disaat berkas BAPnya sudah dilimpahkan.

Dilain tempat, Kapolresta Tanjung Pinang AKBP Patar Gunawan  saat dihubungi via sambungan celuler latah membantah jika anggotanya melakukan kekerasan pemukulan pada salah satu tahanan di polsek Tanjung Pinang Kota.

"Itu tidak benar, anggota saya tidak melakukan pemukulan, kami melakukannya sesuai dengan SOP, itu tidak benar" dalihnya seraya melindungi anggotanya.

Junaidi Tanjung, sekjend DPW SOLTAN (solidaritas pemuda tempatan) mengkritik kinerja kepolisian yang selalu mendahulukan tindak kekerasan dalam menjalankan tugasnya sebagai aparatur negara, menurut Junaidi, POLRI harus menjunjung tinggi Hak Azasi Manusia (HAM), dan citra polri khususnya di reskrim (reserse dan kriminal) sudah sangat buruk.

"Seharusnya polisi menjunjung tinggi hak azasi manusia dan profesional dalam bertindak, padahal kanit reskrim yang diduga melakukan tindakan pemukulan itu sarjana kepolisian,", ujarnya kecewa.

Pihak keluarga MZ juga sangat kecewa atas perlakuan oknum polisi polsek tersebut, Adi, adik kandung MZ berharap agar pelaku pemukulan oknum kepolisian yang menimpa kakaknya dapat segera diproses.

Dalam mencari keadilan, Adi yang didampingi Junaidi, sekjen DPW SOLTAN telah melaporkan tindakan tidak manusiawai ini ke Kantor kementrian hukam dan HAM Provinsi kepri, Senin (07/04/2014). Laporan pelanggaran HAN ini diterima staf bidang pelanggaran HAM. Adi berharap ada tindakan tegas terhadap pelaku pemukulan yang menimpa kakak sulungnya itu. Adi juga akan melaporkan kasus ini ke komisi nasional hak azasi manusia (KOMNAS-HAM) jika tidak ada tindakan tegas oleh pihak kepolisisan terhadap oknum anggota polsek yang melakukan tindak kekerasan yang dialami MZ.

(Edy)