Thursday, 23 January 2014

Seorang Istri Ngaku , Katanya Dianiaya Suaminya Selama 24 Tahun.

Batam,Dinamika Kepri - Dilokasi pengadilan Negri (PN)Batam 22/1/2014 kemarin ,  Seorang Ibu terlihat sedih ,sebut saja RS (42) tampak gelisah ,karena sidang terhadap suaminya tidak kunjung digelar,katanya telah ada indikasi permainan antara pihak pengadilan dan suaminya  (terdakwa) yang diketahuinya banyak Uang.

Diruang tunggu menunggu sidang, Pada media ini Saat ini  RS mengaku tengah melakukan penuntutan terhadap suaminya beranisial  PO (53) telah melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap dirinya.

RS ,Ibu tiga anak itu , menuduh suaminya telah melakukan kekerasan dalam rumah tangga(KDRT) selama 24 tahun ,sehingga suaminya yang telah memberinya tiga anak itu, dilaporkannya ,sehinnga saat ini suaminya PO tengah berdiri menunggu antrian sidang sambil termenung di balik jeruji besi pengadilan negri Batam.

Ibu tersebut memenjarakan suaminya, RS mengaku ,Ia sudah tidak tahan lagi dengan perbuatan suaminya yang semakin hari katanya semakin membabibuta itu, katanya lagi, hampir setiap hari Ia disiksa oleh suaminya, penyiksaan sering terjadi ketika ke tiga anak-anak mereka tengah tidak berada dirumah.tidak tahan dengan hal itu,lalu ia melaporkan perbuatan suaminya yang bekerja BP kawasan Batam itu kepada kerabatnya,akhirnya PO di tangkap polisi dengan tuduhan KDRT.

" Hampir setiap saya dicekik-cekiknya,kalau rumah lagi sepi pasti aku jadi sasarannya, apa lagi anak-anak lagi tidak dirumah ,saya selalu diusirnya dari rumah,saya tidak mau,aku masih sayang sama anak-anaku,akibatnya aku sering di cekiknya,selain itu, dia juga tidak segan-segan  memukuli saya,lihat tanggan saya ini sudah tidak normal lagi,ini akibat kelakuannya,saya tidak tahan lagi dengan sikapnya,makanya saya melaporkannya kepolisi,dan sekarang sudah proses dipengadilan,mudah-mudahan dia bisa merasakan sakit seperti sakit yang kurasakan selama ini." Ucap sembari mengeluarkan air mata.

Ketika ditanya  harapannya untuk rujuk kembali,Pada media ini,katanya  tidak mengharapkan hal itu terjadi ,RS mengakui sudah tidak ada niat lagi untuk rujuk kembali.

" Aku benci dan sangat benci ,kebencian ini sudah sangat terlalu,bahkan  susah untuk dilupakan,aku masih trauma dengan apa yang telah pernah dilakukannya terhadapku, penderitaaan ini sangat berat untuk dilupakan ,penderitaan sudah aku alami sejak mengandung tujuh bulan anak pertama kami ,yaitu sejak 24 tahun lalu,kini anak saya sudah tiga dan anak yang sulung kami sudah berumur 24 tahun , bahkan untuk uang belanja pun ,tidak pernah dikasih sekaligus,biasanya dicicil sehari-harinya,kadang dikasih Rp 100 ribu,dan kadang dikasih Rp 50 ribu,pernah dikasih Rp 1 juta,tapi malamnya diminta kembali,begitulah selalu." Ungkapnya.

RS juga mengaku ,bahwa selama ini  Ia tidak pernah mengetahui apa jabatan suaminya saat ini di BP kawasan ,tetapi Ia mengetahui kalau jabatannya suaminya sudah tinggi,itupun Ia ketahui dari para tetangganya,sebab menurut RS suaminya tidak pernah bercerita akan hal itu.

" Sudah 24 tahun saya berkeluarga dengannya,saya tidak pernah mengetahui apa jabatannya di BP kawasan,tetapi kata tetangga,  jabatannya sudah tinggi. tetapi kupikir-pikir ,samasekali jabatannya itu  tidak ada pengaruh bagiku." Ucap lagi.

Ketika ditanya apa titik permasalahaannya selama tersebut,RS menjawab , katanya hanya masalah legalitas pernikahan mereka yang tidak terdaftar di catatan Sipil Batam,kata RS ,suaminya PO tidak pernah mau mendaftar keabsahaan pernikahan mereka ke catatan Sipil.padahal RS selama ini selalu menganjurkannya tetapi PO tidak pernah memerdulikan permitaan RS.

" Sebenarnya titik permasalahan ini datang ketika saya pernah mengusulkan agar pernikahaan kami didaftar di catatan sipil Kota Batam,tujuannya agar kelak dana pensiunnya dari BP kawasan bisa diberikan kepada anak-anaknya yang tiga ini,sebab peraturan BP kawasan yang saya ketahui dari tetangga ,BP kawasan tidak akan memberikan penuh dana pensiun apabila keluarga yang besangkutan tidak terdafar di catatan sipil, memang ada pensiun  yang di berikan BP kawasan nantinya ,tetapi hanya 30% dari yang sebenarnya,dan sisanya 70% lagi akan diberikan kepemerintah,makanya, mengetahui hal itu, aku memintanya untuk mendaftarkan segera pernikahan kami ke catatan sipil,agar nantinya masalah tersebut tidak terjadi,kami memang sah menikah di Gereja,tetapi itu tidak cukup untuk persyaratan penerima pensiunnya kelak ,itu tidak bisa ,kalau itu tidak dilkukan jelas kami tidak berhak menerimanya.jadi kalau begitu,bagaimana nantinya nasib anak-anaknya ini, walau berkali-kali itu aku sarankan Ia tidak pernah fahami,bahkan itulah yang membuat dia marah dan menganiaya saya, setiap saya meneringati  hal itu,pasti saya akan di cekiknya "Ucapnya sedih.

Tambahnya " Dahulu, ketika kami melakukan pernikahan ,Ia  pernah satu minggu menjadi Nasrani,tetapi satu kemudian ia kembali ke agama sebelumnya,bahkan Ia juga telah diberikan marga menjadi marga Panjitan.

Ketika di tanya,apakah suaminya memiliki wanita idaman lain (WIL),RS tampak lama berpikir,katanya tidak tahu,tetapi yang pasti,dua atau tiga bulan sekali  Ia akan pulang ke kampung halamanya Di jawa.

Aji Prakoso.SH ,yaitu jaksa penuntut umum yang menangani kasus KDRT tersebut,siang pada hari kamis 23/1, di ruang kerjanya pada media ini menjelaskan tentang kronologisnya,kata Aji, bahwa titik permasalahan itu terjadi, karena  perselingkuhan.

" Sesuai fakta persidangan selama ini, sang suami mengaku telah mengetahuinya Istrinya telah melakukan perselingkuhan dengan seorang Pria, bahkan pria selingkuhan istrinya itu juga pernah ditahan di Polsek Sekupang,untuk lebih pastinya bisa di cek sana (Polsek Sekupang= red)." Ucap Aji.

Tambah Aji lagi " Ini permasalahan adalah keluarga,kita sudah  mencoba untuk memediasikan agar keduanya bisa berdamai,bahkan catatan sipil yang diminta selama juga telah diuruskan,tetapi suaminya tidak mau menandatangani kalau nantinya akan bercerai juga,sebab suaminya yang kini ditahan,tidak mau bercerai,katanya dia masih mau mempertahankan rumah tanggannya.jadi untuk selanjutnya kita tunnggu saja sidang berikutnya."

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah kekerasan yang dilakukan di dalam rumah tangga baik oleh suami maupun oleh istri. 

Menurut Pasal 1 UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT), KDRT adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. 

Sebagian besar korban KDRT adalah kaum perempuan (istri) dan pelakunya adalah suami, walaupun ada juga korban justru sebaliknya, atau orang-orang yang tersubordinasi di dalam rumah tangga itu. Pelaku atau korban KDRT adalah orang yang mempunyai hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, perwalian dengan suami, dan anak bahkan pembatu rumah tangga, tinggal di rumah ini. 

Ironisnya kasus KDRT sering ditutup-tutupi oleh si korban karena terpaut dengan struktur budaya, agama dan sistem hukum yang belum dipahami. Padahal perlindungan oleh negara dan masyarakat bertujuan untuk memberi rasa aman terhadap korban serta menindak pelakunya.

Dan Apabila PO Nantinya terbukti melakukan KDRT  tersebut , maka ancaman dikenakan Pasal 44 ayat  tentang  Undang-Undang KDRT. dan pidananya akan dikenakan pidana penjara  paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp15 juta .