Thursday, 19 December 2013

Mengenal Kepercayaan Asli Dari Suku Batak Yang Kian Terpinggirkan.

Dinamika Kepri - Sebelum Kristen dan Islam masuk ke tanah batak abad 19, jauh sebelumnya sudah ada kepercayaan yang di anut orang-orang batak sebagai sebuah agama yang menjadi landasan hidup mereka.

Kepercayaan asli orang batak ini di sebut “Parmalim” atau ” Ugamo parmalim” (Agama parmalim).  Keyakinan yang mereka pegang mengandung nilai-nilai religius yang luhur dan mulia, yaitu kehidupan yang harmonis dengan sesama manusia dan kepada sang pencipta.

Asal muasal kata “Parmalim” adalah dari kata “malim” yang artinya kesucian serta hidup untuk saling mengayomi dan memuliakan OPPU NAMULA JADI NA BOLON atau debata (Tuhan pencipta langit dan bumi).   Jadi Parmalim adalah orang-rang yang mengutamakan kesucian hidup.

Mereka menyembah OPPU NA MU JADI NABOLON, siapakah Dia ini dalam kepercayaan parmalim?  Dia adalah Tuhan pencipta alam semesta yang tak berwujud, dan manusia tidak bisa bertemu dengannya.  Jadi untuk menghubungkan manusia dengan pencipta itu, maka di utus seorang parhitean (perantara) yaitu Raja Sisingamangaraja yang juga di kenal dengan Raja Nasiak Bagi.  Raja Nasiak Bagi merupakan sebutan terhadap kesucian (Hamalimon) dan juga semua jasa-jasanya hingga akhir hayatnya dalam mengayomi bangsa batak.  Nasiak Bagi juga sudah di takdirkan untuk hidup menderita dan dia tidak kaya tetapi sama miskinya dengan rakyatnya, baginya hidup adalah pengorbanan.

Ritual agama Parmalim
Saat ini pusat agama parmalim terbesar ada di desa Hutatinggi, sekita 4 km dari kecamatan lagu boti kab.Toba Samosir.  Saat ini penganut Parmalim mencapai sekitar 7.00 orang yang tersebar di 39 tempat di seluruh indonesia.
Seperti agama-agama lain, parmalim juga memiliki rumah Ibadah yang disebut Bale Pasogit.  Parmalim tidak memakan daging babi dan anjing serta mengharamkan darah untuk di makan.  Mereka juga beribadah hari sabtu dan hari itu merupakan hari keramat bagi mereka sehingga tidak boleh bekerja dan bepergian jauh di hari sabtu.   Disamping itu mereka juga mempercayai 44 nabi yang menjadi utusan agama-agama lain.

Parmalim  memiliki 2 peringatan besar tiap tahun yaitu Sipaha sada dan Sipaha lima.  Sipaha sada adalah tahun baru batak, yang dimulai bulan maret dan Sipaha lima dilakukan saat bulan purnama antara bulan juni dan juli.

Penganut parmalim juga sangat mencintai lingkungan dan alam ciptaan Tuhan.  Mereka di larang menebang pohon, namun jika harus menebang pohon mereka harus menggantinya dengan menanam tunas baru.  Mereka juga tidak boleh merusak tunas baru yang masih kecil, dengan demikian mereka sangat menjaga kelestarian alam dan lingkungan kehidupan.

Persepsi yang salah dan diskriminasi terhadap parmalim
Bagi orang yang tidak mengenal parmalim dengan baik, mereka selalu di cap sebagai “Sipele begu” (penyembah setan).  Padahal sesungguhnya mereka menyembah OPPU NA MULA JADI NA BOLON (Tuhan pencipta alam semesta).  Akibat salah persepsi itu tidak jarang mereka di jauhi dan di benci serta dianggap sesat.

Disamping itu pemerintah juga turut berperan menyudutkan parmalim ini, dengan cara tidak mengakui keberadaan mereka, sehingga dalam mengurus administrasi kependudukan mereka mengalami kesulitan seperti membuat akte lahir, akte nikah dan KTP.  Hal ini menyebabkan banyak diantara mereka yang tidak memiliki administrasi kependudukan.  Dalam pembuatan KTP kolom agama di kosongkan, hal ini menyulitkan mereka untuk mencari pekerjaan dan juga bersekolah.

Dengan demikian Umat Parmalim merasa bahwa mereka belum merdeka dari penjajahan, sebab kebebasan mengeskpresikan keyakinan mereka terhambat oleh pemerintah.  Seharusnya pemerintah mengayomi kepercayaan yang mereka telah anut turun-temurun dari nenek moyang mereka jauh sebelum indonesia ada.

Kata-kata Bijak Parmalim
Kata-kata bijak parmalim ini merupakan inti dari kepercayaan mereka yang luhur yaitu:

“Marpangkirimon do namangoloi jala na mangulahon patik ni debata, jala dapotna do sogot hangoluan ni tondi asing ni ngolu ni diri on” artinya

(”Manusia yang mematuhi dan mengikuti ajaran/hukum Tuhan dan melakukanya dalam hidupnya akan memiliki pengharapan kelak.  Ia akan mendapatkan kehidupan roh suci dan kekal”)
Referensi: Dari berbagai sumber.