Sunday, 15 July 2018

Lanal Tanjung Balai Asahan Gagalkan Lundup Sabu 5,297 Kg

Pemeriksaan barang bukti.
Dinamika Kepri, Asahan - Aksi Penyelundupan (Lundup=red) Narkotika jenis sabu masuk ke Asahan, Sumut, berhasil digagalkan oleh Tim First Fleet Quick Respons (FFQR) Lanal Tanjung Balai Asahan dari salah satu kapal tampa nama dan dokumen saat melintas di Tanjung Berombang Sungai Asahan, Minggu (15/7).

Dari kapal itu ditemukan sabu yang dikemas 5 paket dengan berat total seberat 5,297 Kg.

Dalam hal ini, belum ada siapapun yang diamankan, karena saat Tim FFQR melakukan pengejaran, ABK kapal itu sudah keburu melarikan diri ke dalam hutan bakau, dan berhasil meloloskan diri.

Selanjutnya barang bukti tersebut dibawa ke Mako Lanal TBA guna penyelidikan lebih lanjut dengan melibatkan BNN daerah Asahan.

Setelah dilakukan pengecekan oleh BNN, diketahui barang tersebut positif narkoba jenis sabu.

Kapal kayu pengangkut Sabu.
Saat ini kapal tampa dokumen itu juga telah ditambatkan di Posmat Bagan Asahan.
Awal terungkapnya penyeludupan sabu 5,297 Kg ini ialah berawal dari adanya informasi masyarakat yang diterima oleh Pasintel Lanal Tanjung Balai Asahan, setelah itu lalu diteruskannya ke Lanal TBA dan menindaklajutinya dengan menerjunkan Tim FFQR I Lanal Tanjung Balai Asahan, agar segera melaksanakan patroli dan penyekatan guna memastikan kebenaran informasi tersebut.

Menggunakan Patkamla SSG II-I-47 Tim FFQR I lalu melaksanakan tugas patroli dan melakukan pemeriksaan terhadap kapal-kapal mencurigakan yang melintas di Perairan Bagan Asahan.

Sesaat kemudian, Tim melihat satu kapal yang mencurigakan bergerak masuk menuju Sungai Asahan. Selanjutnya Tim FFQR mendekati kapal tersebut guna melaksanakan pemeriksaan, namun saat didekati, kapal tersebut malah menambah kecepatan dan bergerak ke arah hutan bakau di Tanjung Berombang Sungai Asahan.

Saat ditemukan, kapal tersebut terlihat dikandaskan oleh ABK dengan kondisi mesin masih hidup.

Saat diperiksa, tidak ada orang di atas kapal, tetapi Tim sempat terlihat ada orang berlari masuk ke dalam hutan bakau, namun setelah berusaha dikejar, ABK itu berhasil kabur.

Setelah kembali dari pengejaran ABK kapal, Tim kembali ke kapal guna melaksanakan pengecekan dan penggeledahan.

Saat diperiksa seluruh isi kapal, ternyata kapal tersebut kondisi bocor di beberapa titik bangunan kapal.

Selanjutnya kapal tersebut ditarik kemenuju Posmat Bagan Asahan menggunakan kapal patroli Patkamla SSG II-I-47.

Pasintel lalu melaporkan kejadian tersebut kepada Pjs. Danlanal dan Pjs. Dandenpomal

Selama kapal ditarik menuju Posmat Bagan Asahan, Tim melakukan penggeledahan terhadap seluruh bangunan kapal. Alhasil,  Tim FFQR berhasil menemukan bungkusan berwarna coklat sebanyak 5 buah di bagian belakang dalam kapal dengan ditutupi kayu.

Setelah Patkamla SSG II-I-47 dan kapal tanpa nama tiba di Posmat Bagan Asahan, Pjs.Danlanal memerintahkan tim Pomal untuk membuka salah satu bungkusan tersebut guna memastikan apa isinya dengan disaksikan oleh Pasintel, Pasops, Danpatkamla beserta beberapa anggota.

Oleh BNN, barang temuan itu dinyatakan positif merupakan Narkotika jenis sabu.

Selain itu, keberhasilan ini juga adalah merupakan dari komitmen Koarmada I dibawah pimpinan Pangkoarmada I Laksamana Muda TNI Yudo Margono, SE., MM dalam memberantas kegiatan ilegal di laut.(Ril)

Bekerja Sama dengan UIB, Peradi Gelar UPA 2018, di Batam 63 Calon Advokat Diuji

Para penguji peserta UPA 2018.

Dinamika Kepri, Batam - Sebanyak 63 calon Advokat mengkuti Ujian Profesi Advokat (UPA) yang digelar Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Bekerja sama dengan Universitas Internasional Batam (UIB), Sabtu (14/7).

Ujian ini, dihadiri para penguji oleh Ketua Umum, DR H Fauzie Yusuf Hasibuan yang diwakili oleh Sekretaris Jenderal (Sekjend) Thomas E Tampubolon MH dan Ketua Bidang Pengangkatan Advokat H Irwan Hadiwinata MH, Ketua DPC Peradi Batam Bistok Nadeak, Wakil Ketua Isfandir Hutasoit dan Eko Nurisman mewakili UIB.

Irwan Hadiwinata dalam penjelasannya kepada wartawan mengatakan, 63 calon advokat tersebut adalah merupakan angkatan ke-10 yang mengikuti Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) yang diselenggarakan Peradi bersama UIB pada April-Mei 2018 yang lalu.

“Jadi ini merupakan perintah Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat karena untuk melakukan pengangkatan seorang calon advokat, harus melalui proses yang dilakukan oleh organisasi advokat salah satunya adalah harus mengikuti PKPA dan ujian,” jelas Irwan Hadiwinata.

Irwan menambahkan, mengikuti ujian PKPA yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Nasional (DPN) DR H Fauzie Yusuf bukanlah jaminan lulus. Namun, soal kelulusan atas apa hasil yang diraih sendiri oleh calon advokat pada ujian, sebab kata dia, tahun-tahun sebelumnya juga ada yang tak lulus. Bahkan panitia ujian yang menyelenggarakan di UIB, Peradi kerja sama dengan pihak ketiga, tujuannya untuk menyaring yang benar-benar calon advokat yang mumpuni.

Peserta UPA 2018.
Sementara untuk hasil ujiannya diperkirakan akan keluar akhir Agustus 2018 dan dapat dilihat di website milik DPN Peradi [www.peradi.or.id].

Meski begitu, kata H Irwan Hadiwinata, berharap semua lulus dengan baik. Sebab, H Irwan yang juga salah satu panitia UPA ini mengatakan, anggota Peradi lulusan DPN DR H Fauzie Yusuf telah mengikuti serangkaian proses belajar yang matan. Yang diasuh oleh para ahli dan praktisi hukum di UIB.

“Jadi kami optimis. Sebab, kami bekerja sama dengan pengajar yang ahli semua tentunya di bidangnya. Sehingga, pada hasil ujian kami berharap dan optimis semua bisa,” harapnya.

Di tempat yang sama, Thomas E Tampubolon menjelaskan, UPA yang digelar Sabtu itu merupakan ujian serentak seluruh Indonesia di 34 kota dan provinsi. Untuk keseluruhan, sebanyak 5 397 calon advokat mengikuti ujian. Lebih jelas Thomas mengatakan, ujian yang digelar Juli se-Indonesia merupakan ke-18.

“Dan ke delapan belas kali dilaksanakan serentak.” ujarnya.

Thomas berharap juga, seluruh calon advokat yang mengikuti serangkaian ujian diharapkan hasil yang maksimum.

Sama halnya dengan Irwan, lanjut dia bahwa sebelum ujian dilaksanakan, peserta telah dilatih dan diajari melalui proses PKPA.

Sementara itu, Bistok Nadeak juga beraharap sama. Dia mengakui sendiri bahwa, mengikuti UPA Peradi bukan lah hal yang gampang.

“Tapi melalui proses yang sangat ketat. Lembar ujiannya saja bukan di Batam diperiksa. Namun, disegel dan dibawa langsung ke Jakarta oleh panitia UPA Pusat. Jadi berat. Tapi kitab optimislah,” katanya.

Sementara, Ahmad Murni , Filemon dan Gian adalah tiga peserta menyampaikan baru kali ini pengalamannya menjumpai ujian yang super ketat.

Mulai dari waktu, pakaian harus rapi dan sopan, serta suasana harus benar-benar hening dan steril dari catatan apa pun di atas meja.

 “Benar-benar sangat ketat,” kata mereka.

Meski begitu, ketiga peserta adalah bagian dari 63 peserta di UIB berharap hasil yang baik. Sehingga nanti pada ujian yang akan keluar akhir Agustus mereka dinyatalan lulus.

"Tetap optimis. Soal-soalnya memang agak lumayan menjebak, apa lagi soal membuat surat kuasa dan gugatan. Tapikan semua itu sudah diajarin pada PKPA bulan lalu,” tutupnya.(Ril)