Tuesday, 23 October 2018

Hakim PN Batam Tahan Terdakwa Erlina Hingga 91 Hari, PH: Dari Awal Semua Sudah Salah

Surat penahanan tahap II terdakwa Erlina dari Wakil Ketua PN Batam, Tumpal Sagala. Surat ini dikeluarkan sewaktu masih bertugas di Batam.

Dinamika Kepri, Batam - Setelah dihitung-hitung dengan cermat dan seksama, ternyata masa penahanan yang dilakukan oleh ketua majelis hakim oleh hakim Mangapul Manalu dan perpanjangan penahanan dari Wakil Ketua Pengadilan Negeri (PN) Batam sebelumnya, Tumpal Sagala terhadap terdakwa Erlina dalam perkara dugaan penggelapan jabatan di BPR Agra Dhana dengan kerugian bunga uang Rp 4 juta, sudah 91 hari, yakni lebih 1 hari dari ketentuan pasal 26 ayat (1) dan (2) KUHAP tentang kewenangan masa penahanan terdakwa dari pengadilan negeri.

Dengan itu, hakim tersebut diduga telah sengaja melakukan pelanggaran kewenangan di luar dari ketentuan sebagaimana yang diatur pasal 26 ayat (1) dan (2) KUHAP.

Baca jugaSoal Perubahan Register Perkara Terdakwa Erlina dari Pid.B ke Pid.Sus, Waka PN Batam: Saya Belum Baca Berkasnya

"Benar, sesuai pasal yang mengatur, masa penahanan terdakwa Erlina terhitung sudah berakhir pada tanggal 16 Oktober 2018 pukul 00:00 Wib. Terdakwa harusnya bebas demi hukum karena pasal yang didakwakan adalah pasal penggelapan dengan hukuman penjara di bawah 9 tahun, namun sayangnya sampai saat ini terdakwa masih ditahan di Rutan Baloi," kata  Penasehat Hukum (PH) terdakwa, Manuel P Tampubolon, Selasa (23/10).

"Parahnya lagi, hakim telah menahan terdakwa diluar dari kewenangan Pengadilan Negeri. Harusnya hanya 90 hari saja, tetapi ini sudah 91 hari, dan ini namanya pelanggaran hak azasi manusia," lanjutnya.

Terangnya merincikan, sebelumnya hakim Mangapul Manalu telah menahan terdakwa Erlina selama 30 hari di Rutan terhitung sejak tanggal 17 Juli hingga 16 Agustus 2018.

Setelah masa itu habis, penahanan lanjutan untuk 60 hari lalu ditandatangani wakil ketua PN Batam Tumpal Sagala.

Baca jugaMakin Mumet, Surat Permohonan Penahanan Terdakwa Erlina Diduga Dimanipulasi

Penahanan itu dilakukan terhitung sejak tanggal 17 Agustus hingga 15 Oktober 2018.

Kendati masa penahanan 90 hari dari hakim sudah berakhir tanggal 15 Oktober, namun sampai tanggal 16 Oktober 2018, terdakwa Erlina masih ditahan, maka itu terhitung hakim PN Batam telah menahan terdakwa hingga 91 hari.

Ketika awak media ini menanyakan apa status Erlina saat sidang pada waktu tanggal 16 Oktober 2018 itu ke PH terdakwa, ia tak menjawab dan hanya senyum saja.

Saat sidang pada tanggal 16 Oktober 2018 lalu, pantauan awak media ini, terdakwa masih berstatus tahanan, karena saat sidang dilakukan, terdakwa masih menggunakan baju tahanan dan mendapatkan pengawalan ketat dari petugas jaksa dan polisi.

Baca jugaHakim PN Batam Mangapul Manalu Minta Maaf ke PH Terdakwa Erlina

Parahnya lagi, untuk mendapatkan perpanjangan penahanan terdakwa Erlina dari Ketua Pengadilan Tinggi Pekanbaru, diduga hakim Mangapul Manalu merubah register perkara terdakwa Erlina dari Pid.B menjadi Pid.Sus, yang mana soal itu juga telah dibuat bantahan di media, kalau itu salah ketik.

Sebab jika perkara Pid.B yang dimohonkan ke Ketua Pengadilan Tinggi Pekanbaru, kecil kemungkinan akan dikabulkan karena pasal yang dijeratkan jaksa terhadap terdakwa hukumannya di bawah 9 tahun penjara.

"Dari awal semua sudah salah," tutup Manuel P Tampubolon.(Ag)

Monday, 22 October 2018

Tergiur Upah Rp 50 Juta, Ibu dan Anak Pembawa Sabu dari Malaysia ini Disidangkan

Kedua terdakwa Siti dan Rumzeinah usai menghadiri persidangan di PN Batam, Senin (22/10).

Dinamika Kepri, Batam - Akibat tergiur ingin mendapatkan upah Rp 50 juta, ibu dan anak pembawa sabu dari Malaysia berakhir didudukan di kursi pesakitan di pengadilan negeri Batam, Senin (22/10/2018).

Pada sidang pemeriksaan terdakwa ini, kepada majelis hakim yang dipimpin hakim Jasael dan kepada Jaksa penuntut Mega Tri Astuti, kedua terdakwa mengakui berani melakukannya karena tergiur dengan upah Rp 50 juta yang dijanjikan oleh Viky (DPO).

Kata terdakwa Rumzeinah ibunya terdakwa Siti Hotijeh warga Bangkalan, Madura Jatim itu, upah itu akan didapatkannya setelah sabu sampai tujuan pemesan di Banjarmasin.

Sedangkan untuk biaya operasi membawa sabu tersebut mulai dari Malaysia hingga sampai tujuan, kata Rumzeinah ditanggungnya sendiri.

Mendengar biaya ditanggungnya sendiri, akhirnya membuat hakim kesal.

"Enggak mungkinlah yang nyuruh tidak kasih biayanya. Terdakwa jangan bohong, jujur saja, lagian kenapa anda tega melibatkan anak? Ini namanya menjerumuskan anak sendiri," kata hakim Jasael.

Dalam sidang, Siti yang masih berumur 22 tahun itu, mengaku sudah 6 tahun tinggal di Malaysia.

Selain itu, kepada hakim terdakwa Rumzeinah juga mengaku mengetahui yang dibawanya itu adalah sabu.

Setelah sidang permeriksaan kedua terdakwa ini selesai dilakukan, majelis lalu mengundur sidang ini ke hari Selasa 30 Oktober 2018 dengan agenda tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Mega Tri Astuti.

Atas perbuatannya, di dalam dakwaan terdakwa diancam pidana pasal 114 Ayat (2) jo Pasal 132 Ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

Sebelumnya, kedua terdakwa ini diamankan petugas Security Check Point (SCP) I Bandara Internasional Hang Nadim Batam di bulan Juli 2018 lalu saat hendak berangkat ke Surabaya.

Saat diperiksa petugas Bandara, dari keduanya ditemukan 11paket/bungkus Narkotika jenis sabu dibungkus lakban dengan masing-masing berat 625 gram.

Selanjutnya kedua terdakwa beserta barang bukti diamankan dan dibawa ke kantor Polresta Barelang guna pengusutan lebih lanjut.(Ag)