Friday, 15 June 2018

Buruh PT Tai Cheng yang Melakukan Mogok Kerja Memilih Lebaran di Bawah Tenda

Buruh PT. Tai Cheng Development yang melakukan mogok kerja memilih lebaran di lokasi aksi, Jumat (15/6/2018).

Dinamika Kepri, Batam - Akibat tak kunjung ada jawaban dari pihak perusahaan  PT. Tai Cheng Development,  para buruh yang melakukan aksi mogok kerja menuntut agar  diparmanenkan sejak tanggal 14 Mei 2018 lalu ini, kini akhirya memilih berlebaran di bawah tenda depan pintu gerbang perusahaan.

"Habis mau gimana lagi!, ya seperti inilah keadaan kami. Mau tak mau kami terpaksa harus merayakan lebaran di sini. Bukan lebaran ini saja, sejak dari bulan puasa, kami juga sudah di sini, namun itulah sampai saat ini belum ada jawaban dari pihak perusahan. Makanya kami tetap bertahan di sini," kata Johan, salah satu buruh yang melakukan mogok kerja menturkan kepada wartawan media ini, Jumat (15/6/2018) sore.

Lanjut Johan, tuntutan mereka dalam mogok kerja itu hanya satu yakni  menuntut agar status mereka sebagai pekeja yang sudah lama mengabdi di perusahaan yang memproduksi kasur itu, dapat diparmanenkan oleh managemen perusahaan.

"Tuntutan kami meminta untuk diparmanenkan, itu saja. Dan jika tuntutan hak kami tidak dipenuhi,  maka kami akan tetap bertahan di sini," kata dia lagi.

Baca juga: Minta Status Permanen, Mogok Kerja Buruh PT. Taicheng Didatangi Preman

Menanggapi hal ini, ketika awak media ini meminta tanggapan kepada anggota Komisi IV DPRD Batam Aman,S.Pd. Kepada media ini, Aman  mengatakan, katanya jika mediasi antara perwakilan buruh dan pihak perusahaan tidak ada hasil titik temunya, baiknya buruh menyampaikannya permasalahan itu ke Dinas Tenaga Kerja Kota Batam, agar ditindak lajuti.

"Jika mediasi yang dilakukan tidak menemukan titik temu, baiknya dilaporkan ke Dinas Tenaga kerja. Dan kalau memang juga tidak ada hasilnya, baiknya buruh melaporkannya ke DPRD Kota Batam, supaya dapat dihearingkan," kata Aman.

Menanggapi soal sudah beberapa kalinya buruh melakukan tanda tanda kontrak kerja di perusahaan itu namun tak kunjung diangkat menjadi karyawan tetap,  Aman mengatakan, h arusnya diparmanenkan.

"Merujuk kepada UU tenaga kerja, seharusnya buruh yang sudah dua kali melakukan tanda tangan kontrak  itu, maka untuk ke tiga kalinya dengan posisi kerja yang sama, maka buruh itu automatis harus diparmanenkan, kecuali berganti-ganti bidang kerjanya, dan di situlah kelemahannya. Tak hanya itu, untuk mengangkat pekerja menjadi karyawan tetap di suatu perusahaan, tentunya merujuk kepada banyak hal pertimbangan diantaranya, apakah produksi perusahaan itu meningkat atau tidak? Sebab itu juga salah satu acuannya," ucap Aman via celularnya.

Mengenai para buruh yang harus memilih lebaran di lokasi mogok kerja, Aman mengatakan kalau ia sangat menyedihkan hal itu.

"Menanggapi aksi mogok kerja itu, semasih aksi itu berjalan dengan tertib tidak anarkis, saya mendukungnya, karena  itu adalah hak suatu bentuk untuk menyampaikan aspirasi. Tetapi saya sangat sedih mereka lebaran di tempat mogok kerja itu. Saya berharap, agar apa yang diharapkan oleh para buruh tersebut, dapat dipenuhi  oleh pihak perusahaan, agar mogok kerja itu tidak berlalrut-larut, artinya supaya para pekerja itu dapat bekerja lagi. Karena bagaimanapun kalau buruh terlihat selalu berunjuk rasa dan mogok kerja, apa jadinya Batam ini. Takutnya investor malah takut datang ke Batam ini, dan itu sangat tidak kita inginkan," tutup Aman, S.Pd.

Pantuan awak media ini di lokasi mogok kerja di depan  PT. Tai Cheng Development, Kawasan Industri  Komplek Kavling No.5, Sekupang, Batam, Kepri, bersama anak-anaknya, sekitar 60 an orang buruh perusahaan tersebut, terlihat tengah duduk  sabar menanti keadilan di bawah tenda sembari diguyur hujan.

Kini, perusahaan milik Singapura tersebut juga tampak tidak beroperasi lagi yakni itu terlihat sejak terjadinya keributan antara buruh dan orang diduga bayaran oleh pihak perusahaan yang saat itu, mencoba membongkar tenda yang didirikan buruh di depan gerbang perusahaan.

Kejadian itu membuat 4 orang buruh jadi korban. Sedangkan orang-orang dari pihak perusahaan, saat itu juga diamankan polisi ke Mapolresta Barelang untuk diproses lebih lanjut.(Ag)

Thursday, 14 June 2018

Penertiban Gelper H-2 Tidak Efektif, Yang Tutup Disambangi Tapi yang Buka Dibiarkan

Tampak mobil operasional Kecamatan Lubuk Baja terparkir di depan Indomaret Batama Park 1 Nagoya. 

Dinamika Kepri, Batam - Razia penertiban Gelanggang Permainan (Gelper) yang dilakukan oleh Tim trantip Satpol-PP Pemko Batam dari Kecamatan Lubuk Baja, pada Rabu (13/6) malam, diduga hanya ecek-ecek, pasalnya Tim trantip tersebut terpantau awak media ini bukannya mendatangi Gelper buka, tetapi malah menyambangi lokasi Gelper yang sudah tutup dari sejak pagi.

Yang paling mirisnya, mereka malah berfoto ria di depan gedung Gelper Golden Mine Game Zone yang sudah tutup itu. Kesannya seakan-akan mereka yang baru menutup Gelper tersebut, padahal tidak, karena sebelum mereka tiba, Gelper itu memang sudah tutup terlebih dahulu.

Sementara itu, Gelper Golden Zone di depan Hotel Ramayana yang selalu buka, tidak disambangi, dibiarkan tetap buka.

Terpantau lagi, saat berita ini dimuat pada pukul 24:47 WIB, anggota Satpol-PP dari Kecamatan Lubuk Baja tersebut bukannya melanjutkan tugasnya untuk menutup Gelper yang masih buka, tapi malah asyik makan sate di depan di Indomaret Batama Park 1, Nagoya, Batam.

Dan yang paling anehnya lagi, Gelper di depan hotel ramayana itu tidak jauh dari posisi mereka. Gelper itu tepatnya di belakang Indomaret Batama Park 1, namun para petugas penegak Peraturan Daerah (Perda) itu malah membiarkannya tetap buka di H-2 Lebaran ini.

Setelah melihat penertiban yang tidak efektif ini, ternyata bukan pengelola Gelper yang melanggar Peraturan Wali Kota No. 21 tahun 2010 tentang jam operasional tempat hiburan malam selama Ramadhan, melainkan petugas penegak Perda itu sendiri. (Ag)