Wednesday, 14 November 2018

Di Nota Pembelaan Erlina, Selain Jaksa Penuntut Terancam Pidana, PH Minta Terdakwa Dibebaskan Demi Hukum

Sidang Pledoi terdakwa Erlina di PN Batam, Selasa (13/11).
Dinamika Kepri, Batam - Mantan Direktur BPR Agra Dhana, terdakwa Erlina perkara dugaan penggelapan jabatan kerugian bunga uang Rp 4 juta namun didakwaan Rp 117 juta, kembali menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Batam dengan agenda pembacaan nota pembelaan (pledoi) dari penasehat hukum terdakwa, Selasa (13/11/2018).

Sidang yang diketuai hakim Mangapul Manalu didampingi hakim Jasael dan hakim Roza dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rosmarlina Sembiring ini, Penasehat Hukum terdakwa Erlina, Manuel P Tampubolon menilai bahwa pasal yang dijeratkan (dakwaan pertama=red) JPU terhadap terdakwa dengan pasal 49 ayat (1) undang-undang (UU) nomor 10 tahun 1998 tentang perubahan atas UU nomor 7 tahun 1992 tentang perbankan jo pasal 64 ayat (1) KUHPidana, dianggap tidak sesuai dengan fakta-fakta yuridis di persidangan.

Sebelumnya, pasal yang diterapkan penyidik kepolisian terhadap terdakwa adalah pasal tindak pidana penggelapan dalam jabatan, bukan tindak pidana perbankan.

PH terdakwa menilai pasal perbankan yang diterapkan selama persidangan tidak ada yang sesuai. Tidak ada fakta persidangan yang mendukung maupun alat bukti untuk menguatkan jeratan pasal tindak pidana perbankan terhadap terdakwa.

Disebutnya, dalam melakukan dakwaan dan tuntutan terhadap terdakwa, jaksa penuntut hanya berimajinasi.

Selain itu, disebutnya jaksa penuntut menyusun surat dakwaan secara alternatif, hanya berdasarkan dakwaan pertama dengan mengabaikan dakwaan kedua pasal 374 KUHPidana jo pasal 64 ayat (1) ke 1 dan dakwaan ketiga pasal 372 KUHPidana jo pasal 64 ayat (1) ke 1 KUHPidana tentang tindak pidana penggelapan dalam jabatan.

Katanya, kendati jaksa penuntut sudah mengetahui bahwa alat bukti hasil audit keuangan yang dibuat oleh Beny dan Bambang Herianto tidak ada, begitu juga hasil audit internal, hasil audit yang dibuat oleh kantor akuntan publik dan hasil matriks juga tidak ada, namun jaksa penuntut masih bersesikukuh menerapkan pasal tindak pidana perbankan terhadap terdakwa yang akhirnya jaksa menuntut terdakwa Erlina dengan tuntutan 7 tahun penjara, denda Rp 10 miliar subsidier 6 bulan kurungan penjara.

Dalam nota pembelaan itu, PH terdakwa juga mengingatkan jaksa, bahwa dengan telah menuntut terdakwa dengan pasal perbankan, berarti secara otomatis jaksa penuntut juga telah melanggar ketentuan pasal 40, pasal 42 dan pasal 47 UU RI nomor 10 tahun 1998 tentang perubahan atas UU nomor 7 tahun 1992 tentang perbankan terancam pidana sekurang-kurangnya 2 tahun penjara dan paling lama 4 tahun penjara denda Rp 10 miliar paling banyak Rp 200 miliar, dimana selama persidangan dilakukan, tampa ada izin tertulis dari pimpinan Bank Indonesia (BI), jaksa penuntut telah membentangkan isi transaksi yang tercatat di buku rekening Bank Panin milik terdakwa Erlina di muka persidangan, di sidang terbuka untuk umum.

Selain itu, terkait pasal penggelapan dalam jabatan yang dijeratkan terhadap terdakwa sebagaimana dipersangkakan oleh pelapor Bambang Herianto Direksi BPR Agra Dhana ke Polresta Barelang pada tanggal 9 April 2016 lalu, juga sangat tidak mendasar dimana nilai kerugian BPR Agra Dhana yang dilaporkan ke polisi kerugian bunga sebesar Rp 4 juta, itu tidak diketahui terdakwa dari mana asal usulnya kerugian, atau dicatatkan sebagai apa, karena sampai sidang digelar hingga ke pembuktian, pihak BPR Agra Dhana tidak dapat menunjukan bukti jurnalnya dipersidangan.

Parahnya lagi, laporan itu dilakukan Bambang Herianto di mana setelah terdakwa tidak mampu menyanggupi permintaan pelapor yang meminta untuk menyetorkan Rp 1,2  miliar.

"Dalam perkara ini, posisi terdakwa adalah diposisi selaku pihak korban pemerasan dari pihak BPR Agra Dhana. Terdakwa dilaporkan karena tidak menyanggupi permintaan pelapor yang meminta Rp 1,2 miliar," baca Manuel.

Tak hanya itu, Bambang Herianto sebagai pelapor yang telah memenjarakan Erlina, juga tidak pernah hadir bersaksi di persidangan.

Walau hakim sebelumnya sudah memerintahkan jaksa untuk melakukan penjemputan paksa pelapor, namun jaksa penuntut tidak mampu menghadirkannya.

"Adalah sangat berdosanya kita apabila memenjarakan orang yang tidak bersalah, karena seIain  bertanggung jawab terhadap hukum itu sendiri, Kita juga bertanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini jelas tergambar dari Asas Hukum Pidana itu sendiri yang menyatakan, adalah Iebih baik membebaskan seribu orang penjahat dari pada memenjarakan satu orang yang tidak bersalah," baca PH terdakwa.

Lanjutnya, sesuai dengan pasal 188 ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) disebutkan, penilaian atas kekuatan pembuktian dari suatu petunjuk dalam setiap keadaan tertentu dilakukan oleh hakim dengan arif Iagi bijaksana, setelah ia mengadakan pemeriksaan dengan penuh kecermatan dan kesaksamaan berdasarkan hati nuraninya.

Berdasarkan pasal 188 ayat (3) tersebut PH terdakwa Manuel P Tampubolon berharap agar majelis hakim perkara ini diberi hikmat serta petunjuk dari Tuhan Yang maha Esa untuk dapat melihat kebenaran yang sesungguhnya dari hati nurani yang paling dalam terhadap seluruh penderitaan yang telah dialami oleh terdakwa selaku korban tindak pidana pemerasan.

Mengakhiri pledoinya, adapun inti dari nota pembelaan tersebut ialah meminta majelis hakim agar membebaskan terdakwa demi hukum.

Dibacakan PH terdakwa, majelis hakim dapat menerima atau mengabulkan pledoi terdakwa, menolak surat tuntutan jaksa penuntut, menyatakan terdakwa tidak terbukti melanggar tindak pidana perbankan, menyatakan terdakwa bebas demi hukum, memerintahkan agar terdakwa dilepaskan dari tahanan, menyatakan barang bukti 2 buah buku tabungan Bank Panin atas nama terdakwa dikembalikan kepada terdakwa, memulihkan nama baik, harkat, martabat, serta kehormatan terdakwa dan biaya perkara dibebankan kepada negara.

Setelah mendengarkan nota pembelaan terdakwa Erlina, hakim Mangapul lalu menunda sidang, dan menjadwal sidang berikutnya pada 15 November 2018 dengan agenda mendengarkan jawaban jaksa (replik) atas pembelaan dari penasehat hukum terdakwa. (Ag)

Tuesday, 13 November 2018

Elmayuni Nababan Disidangkan, Pacar: Setelah Balik dari Malaysia, Dua Kali Kami Berhubungan Badan

Suasana sidang pemeriksaan saksi di sidang terdakwa Elmayuni Nababan, di PN Batam, Senin (12/11).

Dinamika Kepri, Batam - Terdakwa Elmayuni Nababan dugaan pembakar bayinya sendiri di tumpukan sampah depan rumah kosannya, di Perum Muka Kuning Permai II Jalan Bungaran Timur No.419, Buliang, Batu Aji, menjalani sidang pertamanya, di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Senin (12/11) sore.

Di sidang pertama ini,  Jaksa Penuntut Umum (JPU), Nurhasaniati, SH membacakan dakwaan terhadap terdakwa.

Dalam dakwaan, terdakwa diancam pidana pasal 80 ayat  (3) , (4) Jo pasal 76 undang-undang RI No. 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU No.23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

Setelah dakwaan dibacakan JPU, majelis hakim yang diketuai hakim Candra didampingi hakim anggota Redite Ika dan Hera Polosia, melanjutkan sidang ke agenda pemeriksaan saksi.

Ada pun saksi yang dihadirkan JPU yakni berjumlah 5 orang, 4 di antaranya teman se-kost terdakwa yakni Sampe Taruli Putra Pasaribu, Rosida Sihotang, Dewi Panjaitan dan Fransisco Gultom dan 1 orang pacar terdakwa, Herman Junias Harianja.

Menurut keterangan saksi Sampe Taruli (anak kos =red), jasad bayi itu ditemukannya ketika dia sedang membakar sampah di depan kos-kosanya, di Perum Muka Kuning waktu itu, Rabu tanggal 25 Juli  2018 sekitar pukul 8.00 Wib pagi.

Terdakwa Elmayuni Nababan (kiri), saat sidang didampingi Penasehat Hukumnya, Elisuwita.
 "Saya yang pertama kali menemukan jasad bayi itu. Saat itu saya melihat sampah menumpuk depan kos yang sudah mengeluarkan bau tidak sedap. Kemudian saya berinisiatif membakar tumpukan sampah itu," kata Sampe.

Lanjut saksi Sampe, kata dia, saat api menyala, dengan menggunakan kayu, ia lalu menumpukkan yang berserakan dan membersihkan sampah di sekitarnya.

Tak lama mengorek sampah dengan kayunya, ia lalu melihat sehelai kain warna orange sembari penasaran.

" Kulihat ada kain warna orange, merasa penasaran, lalu membuka balutan kain itu dengan menggunakan kayu, ternyata ada jasad bayi dan tali pusarnya pun masih ada. Lalu api saya padamkan, setelah itu saya memanggil teman-teman dan melaporkan temuan ke RT setempat," terang Sampe.

Dilanjutkan saksi Rossida dan Dewi,   katanya, setelah mereka melihat ada jasad bayi, karena tali pusar dan ari-arinya juga dilihatnya, mereka pun bergegas melaporkannya ke RT setempat.

 "Kami lihat itu jasad bayi, karena ada tali pusarnya dan ari-arinya juga, melihat itu kami pun langsung melaporkanya ke RT setempat," ujar saksi Rosida.

Lanjut Rosida, jasad bayi itu diketahuinya adalah bayinya terdakwa, karena ketika mereka diperiksa polisi dan dilakukan tes USG, kepada polisi Rossida mengakui, cewek yang tinggal di rumah kosan itu, cuma ada 3 wanita yakni dia, saksi Dewi dan terdakwa.

"Usai penemuan jasad bayi itu, Kami bertiga dibawa polisi ke RS Graha Hermine untuk tes USG. Lalu besoknya, hasil USG itu langsung keluar, dari hasilnya, kami berdua disuruh pulang, sedangkan terdakwa tetap tinggal untuk menjalani pemeriksaan polisi," terang Rosida.

Keempat saksi yang satu kos dengan terdakwa menjelaskan, bahwa tidak ada kecurigaan atau tingkah laku dari terdakwa.

"Kami tidak merasa curiga, soalnya terdakwa baru seminggu tinggal bersama kami. Terdakwa kos dilantai atas, kami di lantai bawah," ucap saksi Fransiskus.

Saksi Herman Junias Harianja sang pacar terdakwa mengatakan, bahwa ia sama sekali tak mengetahui jika terdakwa telah berbadan dua.

Menurutnya, ia sudah menjalin kasih selama 1 tahun 6 bulan dengan terdawa, namun setahun belakangan ini mereka berpisah, karena saksi pulang kampung untuk bekerja. Setelah itu, ia tidak mengetahui lagi apa saja aktifitas yang dilakukan oleh terdakwa.

"Sepengetahuan saya terdakwa pergi ke Malaysia, dan sekali sebulan pulang ke Batam," ujar Herman Junias Harianja.

Kata saksi Herman lagi, bahwa ia juga pernah menjemput terdakwa saat baru tiba dari Malaysia.

Ia menjemput terdakwa di pelabuhan Batam Center. Alasanya terdakwa padanya waktu itu, terdakwa baru pulang bermain dari Malaysia.

Kepadanya, terdakwa juga pernah meminta untuk mencarikan tempat kos-kosan baru. Dan saksi juga ikut memindahkan barang-barang terdakwa dari kamar kos yang lama.

 "Ketika saya jemput terdakwa, kami langsung ke kosan baru, di perumahan Muka Kuning, saya juga ikut memindahkan barang-barangnya," kata Harianja.

Harianja juga menyebutkan, bahwa dilihatnya ada perubahan fisik terdakwa,  pucat dan perut yang membuncit. Namun ketika ditanyanya soal perubahan fisik itu, terdakwa menjawabnya karena masuk angin.

Tak hanya itu, saksi juga mengakui bahwa selama bersama dengan terdakwa, sudah dua kali berhubungan badan.

 "Selama terdakwa balik dari Malaysia, kami sudah dua kali melakukan hubungan badan," kata Harianja bersaksi.

"Lalu setelah itu, pada malam tanggal 19/7/2018, saya pernah datang ke kosnya, saya lihat waktu itu terdakwa sedang sibuk membersikan ceceran darah di lantai. Kata terdakwa darah itu darinya karena lagi sedang datang bulan," lanjut Harianja menerangkan.

Kemudian hari Selasa (24/7), lanjut saksi mengisahkan, ia mencium bau busuk dari kamar sebelah terdakwa. Soal bau itu terdakwa berdalih dengan mengatakan, kamar tersebut bau karena selalu tertutup dan kurang ventilasi.

Dilihatnya, fisik terdakwa tidak seperti sebelumnya, perut tidak lagi membuncit dan baginya tidak ada kecurigaan sama sekali.

"Saya ketemu terdakwa besoknya di kantor polisi. Barulah terdakwa bilang kalau ia berbohong dan kemudian meminta maaf kepasa saya. Bahkan terdakwa juga tidak mau menyebutkan siapa yang membuatnya hamil," tutup Harianja.

Terdakwa Elmayuni Nababan didampingi Elisuwita penasehat hukumnya saat sidang, membenarkan semua keterangan para saksi.(Ril)